Manfaat Hiking Untuk Kesehatan Mental
Manfaat Hiking untuk Kesehatan Mental: Perjalanan Seorang Perempuan Berdamai dengan Isi Kepalanya
Ada masa ketika tubuh terlihat baik-baik saja, tetapi pikiran berlari ke mana-mana tanpa mengenal lelah. Bisa tersenyum, tertawa bersama teman-teman, menjalani aktivitas seperti biasa, bahkan tetap produktif menyelesaikan berbagai pekerjaan. Namun, di balik semua itu, ada begitu banyak hal yang berputar di dalam kepala. Percakapan yang sudah berlalu bisa kuulang berkali-kali. Kejadian kecil bisa kupikirkan berhari-hari. Sesuatu yang belum tentu terjadi sudah lebih dulu menjadi bahan kecemasan.
Belum selesai memikirkan hari ini, pikiran sudah berkelana ke masa depan. Kadang-kadang, masa lalu pun ikut datang membawa cerita yang sebenarnya ingin kulupakan. Tentang persoalan hidup, drama rumah tangga bahkan inner child yang membuat luka.
Begitulah rasanya menjadi perempuan yang terlalu banyak berpikir atau overthinking. Terkadang dianggap lebay. Plis, jangan sesekali memberikan label itu, dari sudut pandang yang mengalaminya, jusru bingung mau diapaian ini, isi kepala ramai terus.
Kepala seperti ruangan yang tidak pernah benar-benar kosong. Ada banyak suara, banyak pertanyaan, banyak kemungkinan, dan banyak skenario yang kubuat sendiri. Lucunya, sebagian besar skenario itu bahkan belum tentu menjadi kenyataan. MELEDAK!!
Andai saja pikiran bisa diajak rapat, mungkin sudah menjadi ketua sekaligus sekretaris, bendahara, notulis, dan peserta yang tidak pernah pulang. Nah, Masalahnya, rapat di dalam kepala itu berlangsung hampir sepanjang waktu.
Sampai akhirnya, mulai menyadari bahwa ada sesuatu dalam diriku yang perlu diperhatikan. Bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja atau bosan menghadapi rutinitas, melainkan kelelahan yang sulit dijelaskan. Membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak, mengenali apa yang sedang terjadi di dalam diri, dan belajar memahami pikiranku sendiri.
Perjalanan itu membawaku pada satu hal yang tidak pernah kusangka akan begitu berarti: alam.
Hutan, gunung, perjalanan panjang, udara dingin, suara dedaunan, dan langkah kaki yang perlahan ternyata memberiku cara berbeda untuk melihat kehidupan. Dari sana, aku mulai mengenal mindfulness, belajar berjalan dengan penuh kesadaran, dan menemukan pengalaman yang kini banyak dikenal dengan istilah silent hiking.
Namun, bagiku, perjalanan ini bukan sekadar mengikuti tren healing. Ini tentang belajar kembali hadir dalam hidupku sendiri.
Ketika Mulai Menyadari Bahwa Diriku Tidak Baik-Baik Saja
Overthinking yang Tidak Selalu Terlihat dari Luar .
Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan kesehatan mental terlihat murung atau kehilangan semangat. Ada yang tetap bekerja, tetap bercanda, tetap mengurus banyak hal, dan tetap terlihat kuat di hadapan orang lain. Mulai memahami bahwa penampilan luar tidak selalu menggambarkan apa yang sedang terjadi di dalam diri seseorang.
Ada hari-hari ketika pikiranku terasa begitu penuh. Memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan terlalu jauh. Mencoba mencari jawaban untuk pertanyaan yang bahkan belum tentu membutuhkan jawaban saat itu juga. Sering merasa harus memahami semuanya, menyelesaikan semuanya, dan memastikan bahwa segala sesuatu berjalan sesuai harapan.
Padahal, kehidupan tidak pernah menawarkan kepastian untuk semua hal. Semakin keras berusaha mengendalikan segala sesuatu, semakin lelah rasanya menjalani hari. Ya, seperti sedang berlari di tempat, sibuk dengan pikiran sendiri, tetapi tidak benar-benar bergerak menuju ketenangan.
Di titik itulah mulai belajar bahwa kesehatan mental juga perlu mendapatkan perhatian. Sama seperti tubuh yang membutuhkan istirahat ketika kelelahan, pikiran pun membutuhkan ruang untuk bernapas.
Berawal dari Percakapan dengan Sahabat Dokter
Salah satu orang yang berperan dalam perjalanan kesadaran seputar mental health ini adalah seorang sahabat yang berprofesi sebagai dokter, ada psikolog bahkan sahabat psikiater. Pada waktu itu, kebetulan bermitra dengan salah satu klinik di Bandung yang memiliki layanan manajemen stres. Melalui percakapan dengannya, mulai diajak melihat kondisiku dari sudut pandang yang berbeda.
Mungkin pada awalnya aku datang dengan perasaan bingung, belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi di dalam diriku. Hanya tahu bahwa ada sesuatu yang terasa tidak beres, dan ingin menemukan cara agar bisa menjalani kehidupan dengan lebih tenang.
Belajar mengakui bahwa diriku mungkin sedang tidak baik-baik saja. Mengakui hal itu ternyata bukan perkara mudah. Ada semacam dorongan untuk selalu terlihat kuat, seolah-olah seorang perempuan harus mampu mengatasi semuanya sendirian, akibat dari didikan orang tua yang anaknya perempuan semua, ada suatu keharusan untuk menjadi kuat, kemudian tertanam di pikiran alam bawah sadar sampai dewasa.
Padahal, meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Mengenali batas diri juga bukan berarti menyerah. Dari percakapan-percakapan tersebut, mulai mengenal berbagai pendekatan untuk mengelola stres dan memahami diri, termasuk mindfulness, latihan kesadaran, serta pentingnya menyediakan waktu untuk beristirahat dari tekanan sehari-hari.
Tentu saja, perjalanan setiap orang berbeda. Begitu pun ku belajar bahwa menjaga kesehatan mental tidak selalu memiliki satu jalan yang sama bagi semua orang. Bagiku, salah satu pintu yang kemudian terbuka adalah menghabiskan waktu di alam.
Belajar Mindfulness, Menyadari Apa yang Sedang Terjadi Saat Ini
Mindfulness sering dijelaskan sebagai latihan untuk memberikan perhatian pada pengalaman saat ini dengan kesadaran dan tanpa buru-buru menghakiminya. Kedengarannya sederhana, tetapi bagiku mempraktikkannya tidak semudah mengucapkannya.
Bagaimana mungkin diminta hadir pada saat ini ketika pikiranku sibuk membicarakan masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan? Mulai belajar secara perlahan. Ketika pikiran melompat ke berbagai arah, aku berlatih menyadarinya. Ketika kecemasan muncul, aku mencoba mengenali apa yang sedang kurasakan. Ketika tubuh terasa tegang, belajar memperhatikan napas dan memberi diriku waktu untuk berhenti sejenak.
Tidak harus memaksa semua pikiran menghilang. Hanya perlu belajar bahwa pikiran adalah sesuatu yang bisa kuamati, bukan selalu sesuatu yang harus kuikuti. Dari situ, mulai memahami bahwa ketenangan bukan berarti tidak pernah memiliki masalah. Ketenangan juga bisa berarti mampu menghadapi apa yang sedang terjadi tanpa terus-menerus terseret oleh semua kemungkinan yang diciptakan pikiran.
Lalu, bagaimana cara mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari? Bagiku, alam menjadi tempat yang sangat membantu. Di tengah pepohonan, tidak harus terus-menerus menjadi seseorang yang sibuk menjawab tuntutan dunia. Bisa berjalan, memperhatikan langkah kaki, merasakan udara menyentuh kulit, mendengar suara burung, dan membiarkan perhatian kembali pada apa yang sedang terjadi.
Tidak ada yang harus segera kuselesaikan. Tidak ada percakapan yang harus kumenangkan. Tidak ada skenario masa depan yang harus kupikirkan sampai tuntas. Untuk sesaat, aku hanya perlu hadir. Dan ternyata, pengalaman sederhana itu memiliki arti yang begitu besar.
Suatu hari Di Puncak Manglayang 2018, ini sudah mulai pulih, berdamai dengan diri sendiri, sudah berani mengabadikan momen, belajar menyatu dengan alam bebas, bukan berarti lari dari masalah, melainkan memberikan ruang pada jjiwa untuk bernafaslega dan melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
Alam Menjadi Ruang untuk Memulihkan Diri
Dari Hutan yang Sepi hingga Puncak Gunung
Mulai lebih sering menghabiskan waktu di alam. Kadang berjalan menyusuri hutan belantara, sesekali mendaki gunung, atau menghabiskan malam dengan camping di tengah suasana yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Awalnya mungkin terlihat seperti kegiatan rekreasi biasa. Pergi pagi-pagi, menyiapkan perlengkapan, berjalan melewati jalur pendakian, lalu menikmati pemandangan. Namun, bagiku, ada sesuatu yang berbeda di balik perjalanan itu.
Hutan mengajariku memperlambat langkah. Gunung mengingatkanku bahwa tidak semua hal bisa dicapai dengan tergesa-gesa. Camping memberiku kesempatan untuk menjauh sejenak dari kebiasaan yang membuat hari-hari terasa penuh.
Aku datang ke gunung membawa kepala yang penuh, lalu duduk di puncaknya dengan air mata dan keheningan. Bukan karena semua masalahku selesai, melainkan karena untuk sesaat ku tidak harus melawan semuanya.
Di kota, terbiasa melihat waktu sebagai sesuatu yang harus dikejar. Ada pekerjaan yang menunggu, pesan yang harus dibalas, rencana yang perlu disusun, dan banyak hal yang seolah tidak boleh tertunda.
Di alam, ritmenya berbeda. Pohon tidak tumbuh lebih cepat hanya karena aku sedang terburu-buru. Kabut tidak akan menyingkir hanya karena aku ingin melihat pemandangan. Jalan menanjak tetap harus dilalui dengan langkah demi langkah. Mulai belajar menerima bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan.
Ada saatnya berjalan. Ada saatnya berhenti. Ada waktunya melanjutkan perjalanan, dan ada waktunya mengakui bahwa tubuh membutuhkan istirahat. Bukankah kehidupan juga seperti itu?
Mengapa Hiking Bisa Membantu Kesehatan Mental?
Hiking bukan obat ajaib untuk semua persoalan mental. Namun, aktivitas berjalan di alam dapat menjadi salah satu cara untuk mendukung kesejahteraan psikologis, terutama ketika dilakukan dengan aman dan sesuai kemampuan tubuh.
Ada beberapa hal yang kurasakan dan kupelajari sepanjang perjalanan ini.
1. Memberikan jeda dari rutinitas yang melelahkan
Berada di hutan atau gunung memberiku kesempatan untuk mengambil jarak dari rutinitas harian. Untuk sementara, perhatian tidak lagi sepenuhnya tertuju pada pekerjaan, pesan di ponsel, atau berbagai urusan yang menumpuk. Jeda semacam ini membantuku menyadari bahwa hidup tidak harus selalu bergerak dengan kecepatan yang sama.
2. Membantu mengarahkan perhatian pada saat ini
Saat mendaki, belajar memperhatikan jalur di depan, pijakan kaki, napas, dan kondisi tubuh. Perhatian yang sebelumnya mudah terseret ke berbagai kekhawatiran perlahan kembali pada aktivitas yang sedang kulakukan. Ini menjadi salah satu cara sederhana untuk mempraktikkan mindfulness di alam.
3. Memberikan kesempatan untuk bergerak
Hiking melibatkan aktivitas fisik yang dapat mendukung kebugaran tubuh sekaligus kesehatan psikologis. Gerakan tubuh, udara terbuka, serta kesempatan menikmati lingkungan alami dapat menjadi bagian dari rutinitas yang lebih sehat. Tentu saja, manfaatnya berbeda pada setiap orang dan tidak menggantikan bantuan profesional ketika dibutuhkan.
4. Membantu mengenali emosi dan kebutuhan diri
Ketika suasana lebih tenang dan gangguan berkurang, punya kesempatan untuk memperhatikan apa yang sebenarnya kurasakan. Apakah aku sedang lelah? Apakah ada sesuatu yang membuatku cemas? Apakah aku membutuhkan istirahat, batasan yang lebih sehat, atau percakapan dengan seseorang yang kupercaya? Belajar bahwa mengenali perasaan tidak selalu berarti harus segera menemukan solusinya. Kadang-kadang, langkah pertama adalah berani mengakui bahwa perasaan itu memang ada.
5. Menghadirkan perspektif baru tentang kehidupan
Gunung tidak pernah menjanjikan perjalanan yang mudah. Jalur menanjak, cuaca berubah, kabut datang, dan rencana terkadang tidak berjalan sesuai harapann. Namun, banyak belajar bahwa perubahan keadaan tidak selalu berarti perjalanan harus berakhir.
Ada kalanya kita perlu menyesuaikan langkah. Ada kalanya kita perlu menunggu. Ada pula saatnya kita harus berbalik demi keselamatan. Pelajaran itu terasa relevan ketika kembali menghadapi kehidupan sehari-hari.
6. Membantu membangun hubungan yang lebih baik dengan diri sendiri
Bagiku, salah satu manfaat hiking untuk kesehatan mental yang paling berarti adalah kesempatan untuk mendengarkan diri sendiri. Bukan mendengarkan suara pikiran yang sibuk membuat skenario, melainkan mencoba memahami apa yang sebenarnya kubutuhkan.
Tidak selalu pulang dari gunung dengan semua persoalan selesai. Namun, terkadang aku pulang dengan pikiran yang terasa lebih tertata, tubuh yang lebih segar, dan kesadaran bahwa aku bisa mengambil satu langkah kecil pada satu waktu. Dan untukku, itu sudah sangat berarti.
Sepuluh Tahun Lalu, Belajar Menikmati Silent Hiking
Berjalan Tanpa Percakapan, Tanpa Kamera, Tanpa Tergesa-gesa
Ada satu hal yang menarik dari perjalanan panjangku bersama alam. Sekitar sepuluh tahun lalu, ketika istilah silent hiking belum ramai dibicarakan seperti sekarang, sudah terbiasa menikmati perjalanan dengan cara yang berbeda.
Berjalan tanpa harus terus-menerus berbicara. Tidak sibuk mengambil gambar di setiap sudut. Tidak merasa harus merekam semua kejadian untuk dibagikan kepada orang lain, hanya ingin menikmati perjalanan itu sendiri. Meski berjalan bersama beberapa sahabat dokter, tetep sunyi, sibuk dengan isi kepala masing-masing.
Saat itu, mungkin aku belum mengenal istilah mindfulness secara mendalam. Belum tentu memahami bahwa apa yang kulakukan berkaitan dengan latihan kesadaran. Hanya merasa bahwa ada kenikmatan tersendiri ketika berjalan dalam keheningan, membiarkan mata menikmati pepohonan, telinga mendengar suara alam, dan tubuh bergerak mengikuti irama langkah.
Kini, pengalaman seperti itu dikenal dengan istilah silent hiking.
Silent hiking adalah aktivitas berjalan atau mendaki dengan meminimalkan percakapan dan gangguan, sehingga peserta bisa lebih fokus pada perjalanan, lingkungan sekitar, serta pengalaman batin masing-masing. Dalam beberapa kegiatan, ponsel sengaja disimpan agar peserta tidak terdistraksi oleh notifikasi maupun keinginan untuk terus mendokumentasikan perjalanan.
Namun, silent hiking bukan berarti semua orang harus membungkam perasaan atau memaksa pikirannya kosong. Justru sebaliknya. Kita memberikan ruang untuk menyadari apa yang sedang terjadi, baik di dalam diri maupun di sekitar kita. Berjalan dalam diam bukan tentang menjauh dari manusia. Ini tentang memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk mendengar sesuatu yang sering tertutup oleh kebisingan kehidupan sehari-hari.
Tidak Semua Momen Harus Diabadikan
Di zaman ketika hampir setiap perjalanan berakhir dengan unggahan media sosial, menikmati alam tanpa mengambil gambar mungkin terdengar aneh. Bukankah sayang kalau sudah sampai gunung, tetapi tidak punya foto?
Secara personal tidak menentang kegiatan memotret. Foto adalah cara yang menyenangkan untuk menyimpan kenangan. Ada banyak perjalanan yang justru terasa lebih hidup ketika bisa dikenang melalui gambar. Dan itu, salah satu release diri, mengabadikan momen sekitar yang hanya menjadi penghuni galeri. Ada titik jenuh, ketika kegiatan yang disukai tiba-tiba diabaikan, ada sesuatu dalam diri yang sedang bermasalah lagi nih.
Namun, aelajar bahwa tidak semua momen harus diabadikan untuk menjadi berarti. Ada kabut yang cukup dinikmati dengan mata. Ada suara angin yang tidak harus direkam. Ada pemandangan yang cukup disimpan dalam ingatan, tanpa harus dibuktikan kepada siapa pun. Ketika tidak sibuk mencari sudut terbaik untuk memotret, aku punya kesempatan untuk memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya mungkin terlewatkan.
Kami pernah terganggu mentalnya, hampir gila bahkan hampir menyakiti diri sendiri, hiks. Kalau teringat lagi sungguh luar biasa diri ini masi bisa bertahan dan berjuang hadir di dunia sampai detik ini. Alhamdulillah ya Allah pemilik Semesta ini.
Langkah kaki di atas tanah. Aroma dedaunan basah. Udara dingin yang menyentuh wajah. Cahaya matahari yang menyelinap di antara pepohonan. Menjadi lebih sadar bahwa pengalaman tidak selalu harus dibagikan agar bisa memberikan kebahagiaan.
Kadang-kadang, kebahagiaan justru hadir ketika kita berhenti berusaha menunjukkan bahwa kita sedang bahagia. Dan mungkin, di situlah aku menemukan salah satu makna terdalam dari silent hiking: hadir sepenuhnya dalam perjalanan yang sedang dijalani.
Dari Hiking, Aku Belajar Menghadapi Overthinking dengan Cara Berbeda
Dulu, sering merasa harus menyelesaikan semua hal yang berputar di kepala. Ingin mendapatkan jawaban, memastikan semuanya baik-baik saja, dan mengantisipasi segala kemungkinan. Sekarang, mulai memahami bahwa tidak semua pikiran membutuhkan tanggapan.
Ketika berjalan di hutan dan tiba-tiba pikiranku kembali memikirkan pekerjaan, belajar menyadarinya. Ketika kekhawatiran tentang masa depan muncul, aku mencoba mengenalinya tanpa langsung mengikuti semua ceritanya.
Lalu, perlahan-lahan, aku mengembalikan perhatian pada langkah kaki. Satu langkah. Kemudian satu langkah lagi. Hiks, Tidak selalu berhasil. Ada perjalanan ketika pikiranku tetap ramai, bahkan ketika pemandangan di depan begitu indah. Ada hari ketika aku sudah mencoba menenangkan diri, tetapi berbagai kekhawatiran masih datang silih berganti.
Namun, mulai berhenti menyalahkan diri sendiri hanya karena belum bisa merasa tenang. Proses mengenali diri tidak selalu berjalan lurus. Ada hari yang terasa ringan dan ada hari yang terasa berat. Yang penting, aku belajar memperlakukan diriku dengan lebih sabar untuk menjadi pribadi versi terbaiknya.
Hiking membantuku memahami bahwa tidak harus memenangkan setiap perdebatan di dalam kepala. Tidak harus memaksa semua persoalan menemukan jawaban pada hari yang sama. Ada hal-hal yang bisa kupikirkan nanti. Ada persoalan yang perlu dibicarakan dengan orang lain. Ada masalah yang membutuhkan bantuan profesional. Dan ada hal-hal yang memang berada di luar kendaliku.
Memahami perbedaan itu membuatku lebih berhati-hati dalam menggunakan energi. Mulai belajar memilih mana yang benar-benar membutuhkan perhatian dan mana yang hanya membuatku kelelahan karena terus dipikirkan.
Manfaat Hiking untuk Produktivitas dan Kehidupan Sehari-hari
Siapa bilang menghabiskan waktu di hutan, di gunung berarti sedang melarikan diri dari tanggung jawab? Bagiku, justru ada banyak hal yang kupelajari dari perjalanan ke alam dan kubawa kembali ke kehidupan sehari-hari.
Semakin memahami pentingnya mengatur energi, bukan hanya mengatur waktu. Selama ini, produktivitas sering diukur dari banyaknya pekerjaan yang berhasil diselesaikan. Semakin sibuk, semakin banyak yang dikerjakan, semakin terasa bahwa hari itu produktif.
Padahal, manusia bukan mesin yang bisa terus bekerja tanpa jeda. Mulai menyadari bahwa istirahat juga bagian dari proses menjalani kehidupan dengan baik. Memberikan waktu untuk tubuh bergerak, menikmati alam, mengurangi paparan layar, dan menenangkan pikiran bisa menjadi bagian dari kebiasaan yang mendukung kesejahteraan diri.
Setelah mendapatkan waktu untuk beristirahat, sering merasa lebih siap kembali menghadapi rutinitas. Bisa melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda dan lebih menyadari batas kemampuan diri.
Tentu saja tidak setiap perjalanan langsung membuat semua pekerjaan terasa mudah. Hiking juga membutuhkan tenaga, persiapan, dan waktu. Namun, ketika dilakukan dengan bijak, kegiatan ini bisa menjadi salah satu bentuk perawatan diri yang bermakna.
Healing di Alam Bukan Berarti Semua Masalah Langsung Hilang
Jujur tentang satu hal, ketika pergi ke gunung tidak otomatis membuat semua persoalan selesai. Alam bukan tempat ajaib yang bisa menghapus kecemasan, kesedihan, atau masalah yang sudah lama tersimpan. Hiking juga bukan pengganti terapi psikologis atau perawatan medis ketika seseorang membutuhkannya.
Ada masalah yang tetap harus dihadapi setelah pulang. Ada pola pikir yang perlu dipelajari kembali. Ada perasaan yang membutuhkan waktu untuk dipahami. Bagiku, alam memberikan ruang untuk berhenti sejenak, bukan alasan untuk menghindari semua persoalan.
Dari ruang itu, belajar melihat diriku dengan lebih jernih. Belajar mengenali kapan harus beristirahat, kapan perlu berbicara dengan seseorang, dan kapan harus meminta bantuan. Semakin menghargai peran sahabat yang bersedia mendengarkan, termasuk sahabat dokter yang membantuku mulai memahami pentingnya kesehatan mental, yang selalu buat disekitarnya bahagia, cantik luar dalam.
Terkadang, tidak membutuhkan seseorang yang langsung memberikan seribu jawaban. Hanya membutuhkan orang yang membantu kita menyadari bahwa apa yang sedang kita rasakan layak diperhatikan.
Jika overthinking, kecemasan, atau tekanan emosional mulai mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan, maupun aktivitas sehari-hari, mencari bantuan psikolog atau psikiater merupakan langkah yang patut dipertimbangkan. Boleh mencintai alam sekaligus membutuhkan bantuan profesional. Keduanya tidak bertentangan.
Sebab, menurutku merawat diri bukan tentang memilih satu cara yang dianggap paling benar. Merawat diri adalah menemukan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan kita.
Tips Memulai Mindfulness Hiking untuk Pemula
Bagi yang ingin mencoba hiking untuk membantu menjaga kesehatan mental, tidak perlu langsung mendaki gunung tinggi atau menempuh perjalanan yang melelahkan. Bisa memulainya dengan berjalan santai di jalur alam yang mudah dan aman. Berikut beberapa hal sederhana yang bisa dicoba.
1. Pilih jalur sesuai kemampuan, mulailah dari hutan wisata, jalur pendakian ringan, atau taman alam yang mudah dijangkau. Pastikan kondisi fisik, cuaca, perlengkapan, dan tingkat kesulitan jalur sesuai dengan kemampuanmu.
2. Kurangi gangguan digital, simpan ponsel ketika tidak diperlukan, bisa mengaktifkan mode senyap, tetapi tetap pastikan ponsel tersedia untuk navigasi, keadaan darurat, dan komunikasi keselamatan. Digital detox bukan berarti mengabaikan keselamatan.
3. Berjalan dengan tempo yang nyaman, tidak perlu berlomba menjadi yang tercepat. Perhatikan napas, pijakan kaki, dan kondisi tubuh. Berhentilah untuk beristirahat ketika dibutuhkan.
4. Gunakan pancaindra untuk kembali ke saat ini, perhatikan suara burung, gerakan daun, udara yang menyentuh kulit, atau aroma tanah setelah hujan. Ketika pikiran mulai berkelana, cukup sadari bahwa perhatianmu sedang berpindah, kemudian kembalikan secara perlahan.
5. Tidak perlu memaksa pikiran menjadi kosong, pikiran yang datang dan pergi merupakan hal yang wajar. Tujuannya bukan menghilangkan seluruh pikiran, melainkan belajar menyadarinya tanpa harus mengikuti semuanya.
6. Coba berjalan tanpa banyak berbicara, jika ingin mencoba silent hiking, pilih kegiatan yang memang dirancang untuk itu atau sepakati aturan bersama teman perjalanan. Tetap gunakan komunikasi ketika diperlukan untuk keselamatan.
7. Luangkan waktu untuk refleksi, setelah perjalanan, bisa menulis beberapa kalimat tentang apa yang dirasakan, hal yang disadari, atau kebutuhan diri yang selama ini terabaikan. Satu kalimat sederhana seperti, “Hari ini aku menyadari bahwa aku sedang lelah dan perlu beristirahat,” bisa menjadi awal untuk lebih memahami diri sendiri. Yang terpenting, jangan menjadikan mindfulness sebagai tuntutan baru yang harus dilakukan dengan sempurna. Nikmati prosesnya dan temukan cara yang sesuai dengan dirimu.
Perempuan, Alam, dan Keberanian untuk Mengakui Kerapuhan
Ada sesuatu yang terasa istimewa ketika seorang perempuan mulai memberikan ruang bagi dirinya sendiri. Selama ini, banyak perempuan terbiasa menjalankan berbagai peran. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, keluarga yang perlu diperhatikan, tanggung jawab yang menunggu, dan harapan dari orang-orang di sekitarnya.
Di tengah semua itu, kebutuhan diri sendiri sering ditempatkan paling belakang. Terbiasa berkata, “Nanti saja kalau sudah selesai.” Masalahnya, pekerjaan dan tanggung jawab tidak pernah benar-benar habis. Selalu ada sesuatu yang menunggu untuk dikerjakan.
Karena itu, aku mulai belajar bahwa menyediakan waktu untuk diri sendiri bukan tindakan ego, seorang manusia yang memiliki batas, memiliki perasaan, dan membutuhkan istirahat. Bagiku, mendaki gunung bukan soal membuktikan bahwa perempuan harus selalu kuat. Justru di alam, aku belajar bahwa kekuatan tidak selalu berarti terus berjalan meskipun kelelahan.
Kekuatan juga bisa berupa keberanian untuk berhenti. Keberanian untuk mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja. Keberanian untuk meminta pertolongan. Dan keberanian untuk mengubah cara menjalani kehidupan ketika cara lama ternyata membuat diri semakin lelah.
Di tengah hutan, belajar bahwa tidak ada yang salah dengan berjalan perlahan. Tidak semua orang harus berada di depan. Tidak semua perjalanan harus berakhir di puncak. Terkadang, keberhasilan terbesar adalah ketika kita mampu pulang dengan lebih memahami diri sendiri.
Belajar berjalan tanpa tergesa-gesa. Belajar bernapas tanpa merasa harus segera menyelesaikan semuanya. Belajar bahwa terkadang, langkah terbaik bukanlah berlari lebih jauh, melainkan berhenti sejenak dan menyadari di mana aku sedang berada.
Dan jika suatu hari nanti seseorang bertanya mengapa terus kembali ke hutan dan gunung, mungkin jawabanku sederhana:
Aku datang ke alam bukan karena hidupku selalu baik-baik saja. Aku datang karena di sana, belajar bagaimana kembali hadir dalam hidupku sendiri.
Bagiku, alam bukan sekadar destinasi wisata. Alam adalah salah satu ruang untuk beristirahat, belajar menyadari diri, dan menemukan kembali ritme kehidupan. Setiap orang mungkin memiliki cara berbeda untuk merawat kesehatan mentalnya. Namun, jika berjalan di antara pepohonan membuatmu merasa lebih terhubung dengan diri sendiri, tidak ada salahnya memberikan kesempatan untuk mencoba.
Yuk, saling reminder untuk luangkan waktumu buat diri sendiri, karena kamu pun perlu dijaga. Teringat ku menuliskan ini, tanggal 10 Oktober dimana diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia. Semoga aku, kamu dan semuanya senantiasa diberikan kesehatan jiwa dan raganya. Aamiin yra.





Comments
Post a Comment