Perjalanan Pertama Hiking Remako : Tektok Gunung Papandayan
Perjalanan Pertama Hiking Remako
Tektok Gunung Papandayan: Satu Tujuan, Banyak Cerita
27 Juli 2025
Mungkin bagi sebagian orang, tanggal 27 Juli 2025 hanyalah sebuah hari Minggu biasa, namun bagi kami, tanggal itu menjadi salah satu halaman pertama dari perjalanan Hiking Remako. Lima motor dari sekumpulan Remaja Kolot, dengan satu tujuan Gunung Papandayan.
Tidak ada target siapa yang harus paling cepat. Tidak ada ambisi untuk membuktikan siapa yang paling kuat. Kami hanya ingin menikmati perjalanan, menghirup udara pegunungan, menikmati pemandangan, dan tentu saja membawa pulang cerita, Karena sejak awal, Hiking Remako memang bukan tentang mengejar puncak, tapi Ini tentang menikmati perjalanan untuk sampai menuju ke tujuan.
Bandung Belum Sepenuhnya Bangun
Pukul 05.00 pagi, kami berkumpul di SPBU
Cibiru, Bandung.
Udara pagi masih dingin. Jalanan belum seramai biasanya. Lima motor perlahan mulai memenuhi area SPBU, sementara satu per satu anggota datang. Seperti biasa, ada saja sedikit drama sebelum keberangkatan. Target awal sebenarnya berangkat pukul 05.00, tetapi karena satu dan lain hal, waktu sedikit bergeser. Menunggu yang belum datang, memastikan perlengkapan, dan melakukan cek serta ricek sebelum perjalanan.
Helm terpasang, Jaket dikenakan, Motor dinyalakan, Safety sudah bosque!!.
Tidak ada seremoni. Tidak ada pidato panjang tapi hanya ada sedikit rasa penasaran di kepala masing-masing: “Papandayan bakal seperti apa, ya?”
Sekitar pukul 05.30, akhirnya roda mulai bergerak, dan Kota Bandung perlahan kami tinggalkan, and officially Petualangan pertama para pendaki tua Hiking Remako pun dimulai.
Touring Menuju Garut
Perjalanan menuju Papandayan ternyata menjadi bagian yang tidak kalah penting dari cerita hari itu, lima motor bergerak dalam satu rombongan menyusuri perjalanan dari Bandung menuju Garut. Kecepatan tidak selalu sama. Kondisi jalan membuat kami sesekali terpisah, kemudian kembali berkumpul. but that's not a problem!!.
Sepanjang perjalanan, pemandangan perlahan berubah dari suasana perkotaan berganti dengan jalanan yang semakin hijau. dan udara pun mulai terasa berbeda.
Sesekali kami berhenti untuk mengisi tenaga, sambil sarapan dan ngopi dilakukan sederhana di sela perjalanan, tidak ada cafe atau restoran mewah dan tidak ada agenda kuliner khusus, seadanya saja, karena yang penting perut terisi, kopi masuk, dan perjalanan bisa dilanjutkan. Begitulah gaya Remako, Sederhana tapi tetap dinikmati.
Semakin jauh meninggalkan Bandung, suasana semakin berbeda. dan ketika mulai memasuki Garut, udara terasa lebih sejuk, bahkan ketika perjalanan mulai mendekati kawasan Gunung Papandayan, jalanan semakin menanjak, kabut tipis mulai terlihat di beberapa bagian yang membuat udara dingin semakin menusuk tubuh.
Dan rasa penasaran yang sejak pagi tersimpan dikepala perlahan berubah menjadi semangat, akhirnya, kamipun sampai di tujuan.
08.00 — Sampai di Papandayan
Sekitar pukul 08.00, kami tiba di kawasan Gunung Papandayan dan perjalanan menggunakan motorpun selesai. Kini waktunya berganti dari duduk di atas jok menjadi berdiri di atas sepatu hiking, logistik perlengkapan pribadi dan kelompok kembali diperiksa. Perbekalan disiapkan. terutama air minum yang harus dipastikan cukup. Dan tentu saja setelah itu ada satu ritual yang tidak boleh dilupakan,
Foto dulu, gays!
Karena kalau tidak ada foto, nanti bagaimana membuktikan bahwa kami benar-benar pernah sampai? Hehehe...
Setelah foto bersama, kami melakukan briefing terakhir untuk memastikan personel, perlengkapan, dan logistik dalam kondisi aman, kemudian kami berdoa sebelum memulai perjalanan. Karena perjalanan yang baik bukan hanya membutuhkan fisik yang siap, tetapi juga hati yang tenang dan niat yang baik.
Tepat pukul 08.30, perjalanan kaki pun dimulai, lima motor kami tinggalkan, dan sejak saat itu, gunung papandayan mulai mengambil alih cerita.
08.30 — Langkah Pertama
Awalnya semuanya terasa biasa, langkah masih ringan dan napas masih teratur. Semangat masih penuh membara. Tapi gunung punya cara sendiri untuk mengingatkan manusia agar tidak terlalu percaya diri. Beberapa tanjakan mulai terasa berat, termasuk saya sendiri karena tubuh mulai beradaptasi dengan situasi pendakian, selain itu trek berbatu mulai menemani langkah, ada bagian yang cukup licin, ada tanjakan yang membuat kaki mulai bekerja lebih serius. Dan kemudian lahirlah sebuah kebiasaan yang kelak mungkin akan menjadi legenda kecil Hiking Remako.
Di setiap pengkolan, ada yang melipat jaket.
Belum jauh, Sudah lipat jaket lalu jalan lagi. Ketemu belokan berikutnya... atur napas. Jalan lagi. Ketemu belokan berikutnya...atur napas lagi. Kalau dilihat dari belakang mungkin terlihat lucu. Tapi begitulah ritme perjalanan kami.
Tidak Ada yang Tercepat. Menariknya, perjalanan ini tidak punya tokoh utama yang bernama “si paling cepat”. Tidak ada juga “si paling lambat”. Karena kami semua punya ritme masing-masing. Ada yang langkahnya panjang. Ada yang lebih suka berjalan pelan. Ada yang sering berhenti. Ada yang sibuk mengabadikan momen dalam diam.
Ada yang masih kuat berjalan ketika yang lain sedang mengatur napas. Tapi tidak ada yang ditinggalkan. Tidak ada yang dipaksa mengejar. Kami berjalan bersama dengan cara kami masing-masing. Karena bagi Hiking Remako yang penting bukan siapa yang pertama sampai, tapi yang paling penting adalah semuanya sampai.
Mungkin sederhana, tapi justru dari perjalanan seperti ini kami belajar bahwa setiap orang punya kemampuan, tenaga, dan batas yang berbeda. Gunung tidak perlu ditaklukkan dengan kesombongan. Cukup dijalani dan kita lalui dengan sabar.
Papandayan dan Lanskap yang Terus Berubah
Salah satu hal yang membuat perjalanan Papandayan menarik adalah perubahan suasananya. Dari kawasan terbuka dan berbatu, perjalanan membawa kami melewati lingkungan yang semakin hijau. Di beberapa bagian, trek terasa lebih menantang karena batu, tanjakan dan permukaan yang licin. Namun semuanya terasa terbayar dengan view terbuka dan pemandangan yang indah
pada hari itu Langit begitu cerah dan berwarna biru. Matahari menyinari perjalanan kami. Sesekali kami berhenti bukan karena lelah, tetapi karena kami pergi untuk hiking dan pemandangan terebut terlalu sayang untuk dilewatkan.
Dan ternyata Papandayan memang mengajarkan sesuatu yang sederhana Tidak semua perjalanan harus dikejar, Ada kalanya kita memang perlu berhenti, Berhenti berjalan, Berhenti mengejar waktu. hanya untuk menikmati proses dan suasana yang terhampar didepan mata.
Kawah: Ketika Alam Menunjukkan Kekuatannya
Memasuki kawasan kawah, suasana berubah lagi, Gunung Papandayan memperlihatkan aslinya dengan view gunung vulkaniknya, batu-batu dan lanskap khas pegunungan vulkanik menjadi bagian dari perjalanan, serta aroma belerang yang tercium disepanjang perjalanan. Dan di tempat seperti ini, kita kembali diingatkan bahwa gunung bukan sekadar tempat untuk berfoto, karena di balik keindahannya ada kekuatan alam yang jauh lebih besar dari manusia. kita semua hanya tamu, maka berjalanlah dengan hati-hati, nikmati pemandangannya. Jangan lupa menjaga jarak dan selalu mengikuti jalur yang aman.
Ghober Hoet
Setelah beberapa kali beristirahat, akhirnya sekitar jam 11.30 kami sampai di Ghober Hoet. Di sinilah perjalanan kembali terasa sebagai sebuah perjalanan gunung yang sesungguhnya. Kaki mulai terasa berat. Napas mulai harus diatur. Dan pengkolan kembali menjadi tempat favorit untuk... melipat jaket.
Satu belokan. Atur napas. Belokan berikutnya. Atur napas lagi, Tidak akan ada yang protes. Mungkin karena semua sudah tahu bahwa tubuh sedang meminta sedikit waktu, dan memang tidak apa-apa karena kami memang tidak sedang dikejar siapa-siapa.
Beristirahat, Makan Bekal Sederhana tapi Istimewa,
Di ghober hoet kami memutusksan beristirahat dan salah satu hal yang membuat perjalanan bersama selalu terasa menyenangkan adalah makanan. Kami membawa perbekalan masing-masing, tidak ada menu khusus. Masing-masing membawa makanan dan minuman favoritnya.
Namun ada satu yang menjadi salah satu teman perjalanan hari itu yakni makanan sederhana ubi Cilembu, Tapi di tengah perjalanan hiking, makanan sederhana bisa terasa luar biasa. Ubi Cilembu yang dimakan setelah berjalan dan mengeluarkan tenaga terasa berbeda dengan ubi yang dimakan santai di rumah. Mungkin bukan karena rasanya yang berubah. Kita yang berubah. Lapar membuat makanan sederhana terasa lebih nikmat. Lelah membuat tempat duduk sederhana terasa nyaman. Dan perjalanan membuat kebersamaan terasa lebih berharga.
Selepas itu kami pun melaksanakan shalat dhuhur karena di ghoberhoet ternyata di sebelah pos ranger ada musholla. setelahnya kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan, karena explore papandayan masih belum selesai gays
Pondok Saladah
Sekitar jam 13.00 Perjalanan berlanjut, tidak terlalu lama dari ghoberhoet kemudian kita sampai di camp area Pondok Saladah. Di sinilah perjalanan terasa semakin lengkap. Kami telah melewati kabut dingin kawasan kawah, jalur berbatu, tanjakan, dan segala drama kecil di setiap pengkolan. Tidak ada yang tercepat. Tidak ada yang terlambat. hanya ada orang-orang yang terus berjalan dengan ritmenya masing-masing. Dan akhirnya...sampai. Itulah yang sejak awal menjadi tujuan kami. Bukan menjadi yang pertama. Bukan menjadi yang paling kuat. Tetapi sampai bersama.
disini pula kita banyak melihat pohon bunga edelweis yang tumbuh subur di puncak papandayan, tentu momen ini kita pakai untuk kembali berphoto mengabadikan momen,
spektakuler!!
Hutan Mati
Perjalanan kemudian berlanjut menuju salah satu tempat yang paling ikonik di Papandayan yaitu Hutan Mati. Jika kawasan sebelumnya didominasi langit biru dan cahaya matahari, Hutan Mati hari itu memberikan suasana yang berbeda,
Kabut mulai turun. Langit biru perlahan diselimuti putih. Pohon-pohon yang berdiri dengan bentuk dan warna khasnya terlihat semakin dramatis di balik kabut. Ada sesuatu yang berbeda di tempat ini. Sunyi. Dingin. Sedikit misterius. Dan justru di situlah keindahannya.
Hutan Mati membuat kami sadar bahwa alam tidak selalu harus berwarna hijau untuk terlihat indah. Kadang keindahan justru muncul dari sesuatu yang terlihat sederhana, sunyi, bahkan sedikit menyeramkan.
Tektok: Pergi untuk Kembali
Kami datang ke Papandayan untuk tektok. Naik. Menikmati perjalanan. Menjelajah. Lalu kembali turun pada hari yang sama. Tidak ada tenda yang didirikan. Tidak ada malam yang dihabiskan di gunung. Tapi bukan berarti perjalanan ini singkat dalam kenangan. Justru perjalanan satu hari itu meninggalkan banyak cerita.
Cerita tentang lima motor dari Bandung. Cerita tentang perjalanan pagi menuju Garut. Cerita tentang langit biru. Cerita tentang kabut di Hutan Mati. Cerita tentang ubi Cilembu. Dan tentu saja...cerita tentang pengkolan. Pengkolan tempat melipat jaket. Pengkolan tempat mengatur napas. Pengkolan tempat menyadari bahwa ternyata perjalanan masih panjang.
Kami Tidak Menaklukkan Papandayan
Ada satu hal yang berubah setelah perjalanan ini. Sebelum berangkat, mungkin kami menganggap bahwa mendaki gunung adalah tentang mencapai suatu tempat. Setelah menjalaninya, kami mulai melihatnya dengan cara berbeda. Kami tidak merasa menaklukkan Papandayan.
Karena bagaimana mungkin manusia mengatakan telah menaklukkan alam hanya karena berhasil berjalan sampai suatu titik? Papandayan tetap di sana. Gunung tetap berdiri. Hutan tetap tumbuh. Kabut tetap datang dan pergi. Kami hanya mendapatkan kesempatan untuk berjalan melewatinya. Dan mungkin itu sudah cukup.
Dan sejak langkah pertama itu, tanpa kami sadari, Hiking Remako mulai memiliki cerita pertamanya.
Cerita yang tidak sempurna. Cerita yang tidak dibuat-buat. Ada napas yang tersengal.Ada jaket yang dilipat berkali-kali. Ada langkah yang pelan. Ada tanjakan yang membuat kami berhenti. Ada langit biru.Ada kabut. Ada ubi Cilembu. Ada tawa. Dan ada lima motor yang membawa kami pulang dengan cerita baru.
Mungkin itulah arti sebenarnya dari perjalanan. Bukan tentang seberapa jauh kita pergi. Tetapi tentang apa yang kita bawa pulang setelah perjalanan itu selesai. Kami pulang bukan hanya membawa foto. Kami membawa pengalaman. Kami membawa kebersamaan. Dan yang paling penting...kami membawa awal dari perjalanan-perjalanan berikutnya
Dan perjalanan pertama kami di Gunung Papandayan adalah pengingat bahwa sebuah petualangan besar terkadang memang dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: sekumpulan teman, dan keberanian untuk berkata
“Yuk, kita jalan.”
Hiking Remako
Kami datang ke alam bukan untuk menunjukkan siapa yang paling hebat. Kami datang untuk menikmati, belajar, berbagi, dan pulang membawa cerita.
Sebab gunung bukan sekadar tempat untuk didaki, Ia adalah tempat untuk bercermin, bercermin tentang kesabaran, kebersamaan, batas diri, dan rasa syukur. serta tentang bagaimana menjadi manusia yang tetap rendah hati ketika berada di hadapan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya.
Maka biarlah perjalanan terus berjalan, Satu gunung, Satu perjalanan. satu cerita demi satu cerita, karena mungkin, bertahun-tahun dari sekarang, yang paling kita rindukan bukanlah seberapa tinggi kita pernah mendaki..., melainkan siapa saja yang pernah berjalan bersama kita.
HIKING REMAKO
Peace. Coffee. Good Vibes. Adventure.





Pengalaman seruu euy, makasih loh udah ngajak jalan bareng mentemen 🤗
ReplyDelete