Pendakian Gunung Manglayang: Pengalaman yang sangat berharga

Mendaki Gunung Manglayang via Batu Kuda

Satu Puncak, Satu Hujan, dan Pelajaran Tentang Kebersamaan


Ada pendakian yang selesai ketika kita tiba di puncak. Tetapi ada pula pendakian yang justru meninggalkan cerita paling dalam ketika perjalanan pulang dimulai, dan perjalanan kami ke Gunung Manglayang via Batu Kuda adalah salah satunya.

Kali ini kami para REMAKO yang tidak pernah mau dibilang tua walaupun dalam kenyataannya kita memang sudah jelita alias "jelang lima puluh tahun", memutuskan untuk tektok Gunung Manglayang via Batu Kuda yang menurut sebagian orang adalah gunung yang ramah untuk pemula.

Gunung Manglayang dengan ketinggian 1818 mdpl, merupakan salah satu gunung yang berada di kawasan Bandung Timur, di antara wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang. Dan jalur Batu Kuda menjadi salah satu jalur pendakian yang populer karena aksesnya relatif mudah dari Bandung, namun jangan tertipu oleh angka ketinggiannya. Jalurnya memiliki karakter yang cukup menantang, dengan tanjakan curam, trek berbatu, banyak akar, serta beberapa bagian ada yang membutuhkan bantuan webbing. 

Menuju Batu Kuda

Pagi itu perjalanan dimulai dari titik kumpul McD Cibiru pukul 06.00 WIB, ketika suasana Bandung Timur masih relatif tenang dan kami berempat mulai bergerak menuju basecamp Wisata Batu Kuda, yang berada di kawasan Kampung Cikoneng, Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang berada di lereng timur Gunung Manglayang.

Sekitar pukul 06.30 WIB, kami tiba di basecamp Batu Kuda, ada waktu sekitar lima belas menit untuk mempersiapkan perlengkapan, mengecek kembali barang bawaan dan tentu saja berdo'a sebelum memulai perjalanan serta mengabadikan beberapa momen sebelum perjalanan benar-benar dimulai.

Pukul 06.45 WIB, langkah pertama menuju puncak pun dimulai.

Dari Batu Kuda, tanjakan langsung menyambut kita karena jalur Batu Kuda bukan tipe jalur yang terlalu banyak memberikan "bonus" berupa jalan datar, Karakter treknya yang curam dan berbatu membuat pendakian terasa cukup menguras tenaga meskipun secara jarak tidak terlalu panjang. Beberapa catatan perjalanan bahkan menggambarkan jalur Batu Kuda sebagai trek dengan kemiringan yang sangat terjal pada bagian-bagian tertentu. 

Dengan kata lain, dari kawasan awal Batu Kuda menuju puncak terdapat jalur-jalur yang langsung bikin dengkul nyut-nyutan, tapi itulah yang membuat Manglayang terasa berbeda.


Dermaga Batu Kuda: berhenti sejenak untuk mengabadikan perjalanan

Dalam perjalanan, kami sempat berhenti di salah satu lokasi ikonik yang masih berada di area basecamp Batu Kuda, kami berhenti untuk berfoto mengabadikan momen awal pendakian yang sebenarnya sudah lumayan "hah heh hoh" 🤣 

Jadi ini bukan sekadar mengambil gambar, tetapi juga memberi kesempatan kepada tubuh untuk mengatur kembali ritmenya. Karena dalam pendakian, terkadang kita terlalu sibuk mengejar puncak sampai lupa bahwa perjalanan menuju ke sana juga layak untuk dikenang.

Setelah cukup beristirahat, perjalananpun kembali dilanjutkan.


Menuju Pos demi pos yang elevasinya semakin tinggi dan semakin menantang

Memasuki bagian jalur berikutnya, karakter medan pendakian mulai semakin terasa berat, trek berbatu dan tanjakan curam membuat langkah harus semakin terukur, pada beberapa bagian terdapat webbing yang digunakan sebagai pegangan untuk membantu pendaki melewati medan yang cukup terjal.

Di sinilah kemampuan fisik mulai diuji, bukan hanya sekedar kekuatan kaki, tetapi juga keseimbangan, konsentrasi dan kemampuan membaca jalur, karena satu langkah yang terlalu terburu-buru bisa membuat tubuh kehilangan keseimbangan, karena kami selalu menyadari satu hal, mendaki bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang mampu menjaga dirinya dan tetap memperhatikan orang-orang di sekitarnya.

Nafas sudah benar-benar terasa mulai berat, kaki yang sudah memasuki usia jelita ini dibuat semakin bekerja keras, dan tanjakan manglayang memang seolah tidak mau memberikan kesempatan untuk bersantai.


11.30 WIB — Puncak Manglayang

Setelah sekitar empat jam empat puluh lima menit perjalanan sejak meninggalkan Batu Kuda, termasuk agak lambat mencapai puncak, karena kami menggunakan prinsip alon-alon asal klakon alias biar lambat yang penting sampai tujuan dengan selamat, akhirnya kami sampai di puncak. Dan di puncak ini kami bertemu dengan beberapa grup yang ngecamp di puncak tersebut, walaupun mereka sudah mulai beres-beres untuk perjalanan turunan pulang,

Gunung ini hanya 1818 mdpl, angka itu mungkin tidak setinggi gunung-gunung lain di Jawa Barat, namun ketika kaki sudah menginjak puncaknya, angka tersebut terasa memiliki arti yang berbeda, karena sebuah puncak bukan hanya tentang ketinggian, tapi puncak adalah akumulasi dari setiap langkah yang kita ambil untuk mencapainya.

Setelah itu kami mulai membuka perbekalan dan memasak menu fav yaitu kami indomie, yang lucunya ternyata logistik mie hanya ada dua bungkus yang alhasil dua bungkus kita makan barengan, plus cemilan legendaris kami hui Cilembu yang sangat cocok ditemani dengan minum kopi, dan kami kemudian sejenak beristirahat hingga sekitar pukul 12.20 WIB. 

Ada rasa lega, ada rasa puas, ada pula rasa syukur, walau kami tahu perjalanan belum selesai, karena dalam pendakian puncak hanyalah separuh dari perjalanan,

12.30 WIB -- Perjalanan Turun yang Berubah Menjadi Ujian

Pukul 12.30 WIB kami mulai turun, awalnya perjalanan berjalan normal, namun alam tiba-tiba mengubah karakter dan suasananya dengan tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras tanpa aba-aba, dan dalam waktu singkat jalur yang sebelumnya hanya berupa tanah dan bebatuan berubah menjadi seperti sebuah jalur aliran sungai, karena hujan yang mengalir mengikuti kontur jalur pendakian.

Sejenak kami merenung dan berhenti sambil menggunakan jas hujan, kami berhenti bukan karena menyerah tetapi kami harus pintar membaca situasi, karena kami sadar bahwa situasinya sudah jauh berubah. Jalur yang tadi kami lewati dengan kondisi kering, sekarang menjadi basah, licin dan jauh lebih berisiko, dan hal ini akan menguras tenaga kami dua kali lipat,

Alhamdulillah, sekitar 30 menit hujan deras tersebut mereda dan sedikit demi sedikit menjadi gerimis dan lalu menghilang, walaupun begitu cuaca tetap masih mendung syahdu, dan dalam syahdunya cuaca masalah baru muncul, yaitu trek jalan pulang menjadi licin dan basah, dan trek manglayang yang sebelumnya sudah cukup curam kini menjadi jauh lebih licin.

Ketika Ego Harus Diturunkan

Disinilah perjalanan sebenarnya dan akan memberikan kami pelajaran yang berbeda, tidak ada lagi ambisi untuk turun dengan cepat, tidak ada lagi pikiran tentang siapa yang paling dahulu sampai, tidak ada lagi keinginan untuk menunjukkan siapa yang paling kuat, tapi yang ada hanya satu, bagaimana kami semua bisa kembali dengan selamat.

Strategi baru untuk turun kami rencanakan, langkah demi langkah kami atur kembali, tangan mencari pegangan dan kaki mencari pijakan, trek batu yang sebelumnyapun tidak mudah dilewati kini jauh lebih sulit dari sebelumnya dan harus benar-benar diperiksa kembali lebih mendetail sebelum diinjak

Pada beberapa bagian, kami benar-benar harus turun dengan sangat hati-hati, bahkan kami membuat keputusan yang paling terakhir dipilih oleh para pendaki yaitu "ngesot" sebuah teknik paling aman untuk turun dari gunung dalam kondisi dan keadaan darurat seperti kondisi kita saat itu, walaupun teknik ini menjadikan tenaga lebih cepat terkuras..., apa boleh buat dah!!!

Tapi ini tidak masalah, yang penting aman, karena di gunung terkadang cara paling bijaksana untuk menang bukanlah dengan menjadi yang tercepat, tetapi dengan mampu mengalahkan ego sendiri.

17.30 WIB -- Sampai kembali ke Basecamp Batu Kuda

Allhamdulillah, setelah melalui perjalanan turun yang panjang, melelahkan dan penuh kehati-hatian, akhirnya sekitar pukul 17.30 WIB kami kembali tiba di basecamp Batu Kuda.

Total perjalanan hari itu menjadi sebuah perjalanan yang panjang yang sangat melelahkan. Kami tiba dengan kondisi kelelahan, basah, berlumpur, tetapi juga dengan perasaan yang sangat bahagia karena kami bisa sampai dengan selamat, karena itulah bagian paling penting dari seluruh perjalanan, baju kami boleh kotor, sepatu boleh penuh lumpur, tubuh boleh lelah, tetapi kami harus kembali dalam keadaan lengkap dan selamat.

Manglayang dan Pelajaran Tentang Kebersamaan

Gunung Manglayang mungkin hanya memiliki ketinggian sekitar 1.818 mdpl. Namun jalur Batu Kuda memberikan pengalaman yang cukup lengkap, yaitu tanjakan curam, trek berbatu, elevasi yang terus meningkat, jalur berhutan, pegangan webbing, hingga tantangan ketika hujan membuat medan menjadi licin, dan yang jauh lebih penting adalah cerita yang tertinggal setelah semuanya selesai.

Cerita tentang hujan, tentang lumpur, tentang kelelahan, tentang saling menunggu saling menguatkan. Dan cerita tentang bagaimana ego perlahan ditinggalkan di sepanjang jalur.

Jika kemudian seseorang bertanya, apa yang paling berkesan dari pendakian Gunung Manglayang kali ini...?

Jawabannya mungkin bukan puncak dan bukan pula foto-foto yang kami ambil. Tetapi ketika kondisi menjadi sulit, kami belajar bahwa perjalanan tidak selalu berjalan sesuai rencana, kami belajar bahwa alam tidak pernah bisa sepenuhnya kita prediksi, kami belajar bahwa kondisi yang berubah dalam hitungan menit dapat mengubah cara kita mengambil keputusan.

Dan yang paling penting, kami semua belajar menurunkan ego, ketika jalur menjadi licin, yang kuat membantu yang lemah, yang lebih dulu sampai depan wajib menunggu yang tertinggal, yang merasa masih sanggup tetap harus memperhatikan kondisi teman-temannya.

Tidak ada yang berjalan sendirian, tidak ada yang ditinggalkan, karena pada akhirnya, tujuan pendakian bukan hanya mencapai puncak, tetapi memastikan semua orang kembali dengan selamat. Karena mungkin memang begitu hakikat sebuah perjalanan, kita berangkat dengan keinginan untuk mencapai puncak, tetapi sering kali kita justru pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar foto di ketinggian.

Perjalanan menuju puncak Gunung Manglayang kali ini, menjadi pelajaran tentang kebersamaan, menurunkan ego, belajar membaca keadaan, membaca kemampuan diri dan tentang memahami bahwa setiap langkah akan terasa lebih berarti ketika kita menjalaninya bersama orang-orang yang satu frekuensi.

Dan mungkin suatu hari nanti ketika kami mengingat kembali perjalanan ini, yang paling kami ingat bukan rasa lelahnya, tetapi kalimat sederhana,

“Kita pernah kehujanan, badan berlumpur, lalu turun dan ngesot bersama di Manglayang dan akhirnya kita berhasil pulang bersama-sama.”

Sungguh, bagi kami pendakian kali ini sebuah pengalaman dan cerita yang luar biasa.

REMAKO memang SPEKTAKULER!!

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Pertama Hiking Remako : Tektok Gunung Papandayan

EIGER Women Flagship Store Hadir di Bandung