Camping di Batu Kuda Manglayang

Camping di Batu Kuda Manglayang: Ketika Sebuah Janji Membawa Kami Berkumpul

Camping di Batu Kuda Manglayang, Batu Kuda, Manglayang, Hiking Remako Batu Kuda

Batu Kuda, Manglayang. Ada kalanya sebuah perjalanan tidak dimulai karena ingin mengejar puncak, sunrise, atau pemandangan yang spektakuler. Kadang, perjalanan dimulai hanya karena sebuah kalimat sederhana:

“Jangan lupa datang, ya.!”

Dan ku menjawab “Iya, pasti datang.”

Sesederhana itu. Tapi ketika akhir pekan tiba, jadwal  yang sebelumnya sudah ada janji, pekerjaan belum selesai, dan jarak harus ditempuh dari luar kota, kalimat sederhana tersebut tiba-tiba berubah menjadi sebuah janji yang harus ditepati.

Begitulah cerita Camping di Batu Kuda Manglayang bersama Remako. Di antara jadwal yang hampir selalu penuh setiap weekend, rasanya menyenangkan bisa sengaja meluangkan waktu untuk mereka. Bukan karena sedang tidak punya kesibukan. Justru karena kesibukan itu ada.

Tetapi mungkin, semakin dewasa kita semakin sadar bahwa pertemanan juga membutuhkan waktu untuk dirawat. Dan dinihari itu, selepas pulang dari luar kota pulang menyimpan carier, setelah selesai salat Subuh, perjalanan menuju Batu Kuda Manglayang pun dimulai. Ditemani seorang sahabat, yang kebetulan kami tetanggaan,

Selepas Salat Subuh, Langsung Menuju Batu Kuda Manglayang

Langit masih gelap ketika pagi dimulai. Udara masih menyimpan sisa dingin malam. Jalanan belum seramai biasanya. Ada suasana berbeda ketika kita bepergian selepas Subuh, apalagi ketika tujuan kita adalah kawasan pegunungan.

Tidak banyak yang terpikir saat itu selain satu hal, harus sampai. Teman-teman Remako sudah lebih dulu berada di Batu Kuda dari hari sabtu, menginap di sana. Tenda-tenda mungkin sudah berdiri. Barang-barang sudah diletakkan. Menikmati malam ketika ngecamp. 

Mungkin mereka sudah mulai menikmati pagi. Sementara ku masih dalam perjalanan. Perjalanan menuju Batu Kuda Manglayang terasa seperti perpindahan perlahan dari hiruk-pikuk kota menuju suasana alam. Entahlah, selalu ada rasa bahagia dan antusias kalau main ke alam tuh.

Semakin jauh perjalanan, udara mulai berubah. Dingin pagi semakin terasa. Jalan mulai menanjak dan berkelok. Pepohonan mulai mendominasi pemandangan. Kendaraan roda dua  harus melaju mengikuti kontur jalan yang membawa kami semakin dekat menuju kawasan Manglayang.

Ada rasa lelah, tepatnya mengantuk karena efek di setiap perjalanan ku tak pernah bisa tidur. Tetapi anehnya, rasa lelah itu tidak terlalu mengganggu. Mungkin karena ada rasa penasaran yang membuat perjalanan terasa menyenangkan. Teman-teman sudah berada di kawasan Batu Kuda . Tinggal bagaimana caranya menemukan mereka. Dan ternyata, bagian itu justru menjadi cerita tersendiri.

Terpenting sudah mengabari ketua genk Remako kalau aku sudah on the way menuju ke Batu Kuda, berikut live location. Namun, sinyal emmang kurang bersahabat kalau sudah berada di daerah pegunungan.

Menyusuri Udara Dingin dan Jalan yang Berkelok

Perjalanan pagi menuju Batu Kuda punya suasana yang berbeda. Dingin udara terasa menempel di kulit.

Apalagi setelah keluar dari kawasan perkotaan yang biasanya lebih hangat dan ramai. Jalan yang berkelok membuat perjalanan terasa semakin dekat dengan alam. Sesekali saya melihat pepohonan di sisi jalan. Udara terasa lebih segar.

Suasana semakin tenang. Ada sensasi seperti sedang meninggalkan rutinitas untuk sementara waktu. Padahal baru beberapa jam meninggalkan rumah. Mungkin inilah salah satu alasan kenapa perjalanan menuju alam selalu terasa menyenangkan. Bukan hanya karena tempat yang akan dituju.

Tetapi karena perjalanan itu sendiri memberi kesempatan untuk meninggalkan sejenak kehidupan yang terlalu ramai.Pikiran yang biasanya dipenuhi pekerjaan mulai perlahan bergeser. Agenda yang menumpuk terasa sedikit lebih jauh. Dan yang ada di kepala hanya: “Semoga cepat sampai.”

Mencari Mereka di Antara Tenda dan Pohon Pinus

Begitu tiba di kawasan camping, ternyata masalah baru dimulai. Harus mencari mereka. Dan ternyata...

Tidak mudah. Batu Kuda pagi itu dipenuhi tenda. Tenda berdiri di berbagai sudut. Di antara tenda-tenda tersebut, pohon-pohon pinus menjulang tinggi. Dari satu sisi, semuanya terlihat hampir sama.

Mulai memperhatikan satu per satu. Menuju petunjuk yang diberikan Akang Ketua. Tenda ini bukan. Yang itu juga bukan. Berjalan sedikit, melewati tangga. Melihat lagi, masih belum ketemu. Mulai bertanya dalam hati, 

“Mereka sebenarnya di mana?”

Rasanya seperti sedang mencari jarum di antara jerami. Bedanya, yang dicari bukan jarum. Yang dicari adalah teman-teman Remako. Lucunya, ketika sudah mengetahui bahwa seseorang ada di suatu tempat, kita sering berpikir menemukannya pasti mudah. Ternyata tidak juga.

Apalagi kalau berada di antara banyak tenda dan pohon pinus yang membuat pandangan sedikit terbatas. Berjalan lagi. Mencoba melihat wajah-wajah yang familiar. Sesekali berharap ada suara yang memanggil. Tetapi belum juga ketemu.

Kami berdua tertawa, sesekali melihat handphone yang digenggap tanpa ada pesan, Ada yang menelpon, namun sinyal tak mendukung. Ya sudahlah, menikmati indahhnya pagi tersesat diantara pohon pinus dan udara pagi. Mengikuti langkah kaki. 

Sampailah pada menara merah, antusias sekali dan rasanya lelah karena tanjakan melewat tangga berasa capenya. Namun terbayar ketika melihat hamparan pemandangan kota Bandung dan sunrise yang menyapa kami. Indahnya, sempat bengong disana memperhatikan tenda-tenda yang berwarna warni. 

Camping di Batu Kuda Manglayang, Batu Kuda, Manglayang, Hiking Remako Batu Kuda

Sesekali berteriak pada pohon pinus,  memanggil mentemen Remako ..

" Idoo....Idooo..Idoooo, dimana?"

"Ciwoonk..Ciwoonk.. Ciwoong!!"

Menjadi pusat perhatian para pendaki euy, maluuu!! Akhirnya setelah bernegosiasi sama bestie, bagemana kalau kita ke Puncak Manglayang saja. Gass!! Tapi sepatu bestie aku ga mendukung. Ya sudah kita turun saja, mencari kembali mentemen Remako lewat jalur yang lain, iya sayap kanan sana. 

Akhirnya, setelah beberapa kali berkeliling, memanggil-manggil nama, seolah-olah kek nyamper ke setiap tenda, belum lagi menyusuri turunan yang terjal sambil ngesot. Terlihat juga sesuatu yang familiar.

Dan kemudian..

Ketemu! Rasa lega langsung muncul. Senyuman manis dan wajah sumringah ituh menyapa. Aih, bawelnya mulai deh keluar. Ternyata mereka ada di sana. Ada yang melambaikan tangan, wajah-wajah muka bantal belom pada mandi 

Dan, ternyata salah paham. Suruh tunggu di parkiran, malah jalan. Eh, salah jalur pula. Ya begitulah, kesalahpahaman membuat kami ngakak ngekek pagii. Berasa berkunjung ke rumah teman di alam tuh, bahagiaaa!!

Camping di Batu Kuda Manglayang, Batu Kuda, Manglayang, Hiking Remako Batu Kuda

Akhirnya, Bertemu Juga dengan Remako

Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika akhirnya bertemu dengan orang-orang yang kita cari. Padahal mereka hanya teman. Padahal kami hanya akan menghabiskan waktu bersama di sebuah camping ground. Tetapi perjalanan dari luar kota, udara dingin, jalan yang berkelok, dan pencarian panjang di antara tenda-tenda membuat momen bertemu terasa lebih menyenangkan.

Tidak ada sambutan yang terlalu formal. Tidak ada acara khusus. Hanya sapaan, senyum, tawa, dan obrolan sederhana. Tetapi justru itulah yang membuatnya terasa hangat. Mungkin karena yang kita cari sebenarnya bukan hanya sebuah tenda. Kita mencari rasa pulang di antara orang-orang yang sudah terasa dekat.

Dibuatkan sarapan mie, disapa dengan hangatnya, dibikinin kopi, meski malu-malu meong tapi menggoda. Ditemani alunnan suara gitar, dinyanyiiin, siapa yang ga meleleh. Ah, begitu retjeh dan meleyot hati ini kalau melihat dan mendengarkan nyanyian ditengah alam. 

Camping di Batu Kuda Manglayang, Batu Kuda, Manglayang, Hiking Remako Batu Kuda

Duduk diam, memperhatikan sekitar, menikmati, merenung, pikiran melayang kesana kemari, sesekali kembali ke nafas. Hei, mari nikmati orang-orang yang di depan mata saat ini, kini di sini. Kembali, senyum-senyum manis.

Camping di Batu Kuda Manglayang Bukan Sekadar Bermalam

Kalau dilihat sekilas, camping mungkin terlihat sederhana. Membawa tenda, membawa perlengkapan, mencari tempat, mendirikan tenda. Makan. Ngobrol. Tidur. Lalu pulang. Tetapi ketika dilakukan bersama teman-teman, setiap proses kecil bisa berubah menjadi cerita.

Mendirikan tenda saja bisa menjadi bahan bercanda. Membuat kopi bisa menjadi sesi ngobrol panjang. Makan bersama terasa lebih nikmat, meski dengan menu sederhana. Bahkan ketika tidak melakukan apa-apa pun, tetap terasa menyenangkan.

Itulah yang saya rasakan dalam Camping di Batu Kuda Manglayang bersama Remako. Tidak sedang mengejar sesuatu. Tidak ada target apa pun. Tidak ada keharusan untuk terus bergerak. Hanya ingin menikmati waktu bersama mereka. Dan mungkin, justru itulah yang selama ini sering hilang dari kehidupan sehari-hari.

Di Tengah Padatnya Jadwal Weekend

Semakin bertambah usia, semakin terasa bahwa weekend bukan selalu waktu untuk beristirahat. Justru sering kali sebaliknya. Weekend penuh dengan agenda. Ada pekerjaan, ada keluarga, ada urusan pribadi. Ada janji yang sudah dibuat sebelumnya. Ada perjalanan yang harus dilakukan. Ada banyak hal yang meminta perhatian.

Karena itu, ketika seseorang masih menyempatkan diri untuk hadir dalam sebuah pertemuan sederhana seperti camping, rasanya menjadi sesuatu yang patut dihargai. Apalagi jika harus melakukan perjalanan dari luar kota. Bukan soal jaraknya saja. Tetapi tentang waktu yang harus disiapkan.Tentang tenaga yang harus dikeluarkan. Tentang jadwal yang harus disesuaikan.

Semua itu menunjukkan satu hal, ..

"kehadiran tidak selalu terjadi secara kebetulan."

Kadang kehadiran adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk berkata, “Di antara semua kesibukan, kali ini ku memilih datang.”

Camping di Batu Kuda Manglayang, Batu Kuda, Manglayang, Hiking Remako Batu Kuda


Sengaja Meluangkan Waktu untuk Mereka

Ada perbedaan besar antara punya waktu luang dan meluangkan waktu. Kalau punya waktu,  mungkin kita sedang kebetulan kosong. Tetapi meluangkan waktu berarti kita sengaja menyisihkan sesuatu. Mungkin pekerjaan. Mungkin waktu istirahat. Mungkin agenda lain. Dan itulah yang membuat pertemuan dengan teman-teman menjadi terasa lebih bermakna.

Di tengah jadwal yang padat setiap weekend, rasanya menyenangkan bisa sengaja berkata kepada diri sendiri:

“Hari ini waktunya buat mereka.”

Bukan berarti teman lebih penting daripada semua hal lain. Tetapi hubungan pertemanan juga membutuhkan perhatian. Kalau terus menunggu waktu luang, mungkin kita tidak akan pernah benar-benar bertemu. Karena kesibukan tidak akan pernah selesai. Akan selalu ada pekerjaan baru. Akan selalu ada agenda baru. Akan selalu ada alasan untuk berkata, “Nanti saja.” Padahal, tanpa terasa, waktu terus berjalan. 

Hiking Remako: Bukan Tentang Siapa yang Paling Cepat

Begitulah juga perjalanan bersama Remako. Hiking tidak selalu harus tentang siapa yang paling kuat. Tidak selalu tentang siapa yang paling cepat sampai. Tidak selalu menjadi si paling pengalaman dan serba tahu. Buatku, cukup diam, menikmati sisa waktu bersama sahabat dengan bahagia.

Kadang justru yang paling menyenangkan adalah berjalan bersama. Menunggu teman. Berhenti ketika ada yang membutuhkan istirahat. Mengobrol sepanjang perjalanan. Tertawa karena hal-hal kecil. Dan pulang membawa cerita yang tidak akan muncul jika perjalanan dilakukan sendirian.

Batu Kuda menjadi salah satu tempat di mana cerita itu kembali tercipta. Di antara pohon pinus, tenda, udara dingin, dan suasana alam, kami kembali menemukan satu hal sederhana:

"menikmati waktu bersama ternyata masih menyenangkan."

Camping di Batu Kuda Manglayang, Batu Kuda, Manglayang, Hiking Remako Batu Kuda

Janji aku sudah ditepati ya, Bro! Ketika ku bilang 'bersedia' hadir, semesta akan mendukung, meski datang dari arah manapun. Makasih loh sudah mengajak dan menyeret aku ke dunia hiking Remako.

Pagi yang Dingin, Tapi Hati Hangat

Ada sesuatu yang menarik dari berada di alam. Udara bisa dingin. Tanah bisa lembap. Angin bisa menusuk. Tetapi suasana bersama teman bisa membuat semuanya terasa lebih hangat. Pagi di Batu Kuda menjadi salah satu momen yang membuat saya bersyukur sudah memutuskan datang.

Perjalanan dari luar kota terasa sepadan. Jalan yang berkelok terasa tidak sia-sia. Bahkan momen mencari mereka di antara tenda-tenda pun akhirnya menjadi bagian lucu dari cerita. Nanti, ketika semua sudah berlalu, mungkin justru bagian-bagian kecil seperti itu yang paling sering kami ceritakan kembali.

“Masih ingat ga waktu nyari tenda kalian?”

“Muter-muter ke mana-mana.”

"Teriak-teriak pula, memanggil namamu!"

“Padahal ternyata dari tadi dekat.”

Lalu tertawa lagi. Begitulah sebuah perjalanan bekerja. Ia mengubah kejadian sederhana menjadi kenangan. Ketika menuangkan cerita ini saja ko terharu ya, beginilah dari hati tentang sebuah arti  persahabatan yang tulus. 

Karena Janji Itu Tentang Kehadiran

Pada akhirnya, Camping di Batu Kuda Manglayang bersama Remako bukan hanya cerita tentang camping. Ini adalah cerita tentang sebuah janji. Tentang seseorang yang mengatakan akan datang lalu benar-benar datang. Tentang teman-teman yang tetap berkumpul meskipun masing-masing punya kesibukan.

Tentang perjalanan dari luar kota. Tentang udara pagi yang dingin.Tentang jalan yang menanjak dan berkelok. Tentang mencari teman di antara puluhan tenda dan pohon pinus. Tentang akhirnya bertemu. Dan tentang perasaan bahagia karena masih bisa menyediakan waktu untuk orang-orang yang kita sayangi sebagai teman.

Semakin dewasa, saya semakin memahami bahwa waktu adalah salah satu hal paling mahal yang kita miliki. Uang bisa dicari lagi. Barang bisa dibeli kembali. Tempat bisa dikunjungi lain kali. Tetapi waktu yang sudah lewat tidak akan pernah kembali.

Maka ketika ada kesempatan untuk berkumpul, mungkin tidak ada salahnya kita datang. Tidak perlu menunggu semuanya sempurna. Tidak perlu menunggu benar-benar senggang. Karena mungkin kita memang harus sengaja membuat waktu.

Camping di Batu Kuda Manglayang, Batu Kuda, Manglayang, Hiking Remako Batu Kuda

Ini yang mengantar aku ke Batu Kuda,  malu dateng sendiri. Eh, sudah dikenalkan dan akrab, malah die yang malu-maluin. Pake betah segala di tenda, ngelanjutin bobo pagi ceunah. Kami beres-beres buat pulang, tinggal satu tenda yang belum diberesin. Ya, Allah, mentemen Remako maafkan bestie aku ya, suka nyaman sama temen Nchie tuh. ((Ngakaaak)

Batu Kuda dan Sebuah Kenangan Sederhana

Batu Kuda mungkin hanya menjadi sebuah tempat di peta. Pohon-pohon pinus mungkin hanya menjadi latar belakang foto. Tenda-tenda mungkin hanya menjadi tempat mentemen Remako bermalam. Tetapi di tempat sederhana itu, ada sebuah kenangan yang jauh lebih besar.

Tentang teman-teman yang memilih hadir. Tentang perjalanan yang dilakukan selepas Subuh. Tentang dinginnya udara pagi. Tentang jalan yang berkelok. Tentang pencarian yang terasa seperti mencari jarum di antara jerami.  Dan akhirnya, tentang perasaan lega ketika menemukan mereka. 

Mungkin suatu hari nanti, ketika kehidupan kembali terlalu sibuk, kami akan membuka foto-foto dari camping ini, atau membaca kembali tulisan ini dengan penuh haru, alhamdulillah masih bisa berkumpul dan bersilaturahmi. Dan, menyenangkan juga dikenalkan pada satu teman perempuan yang baru dikenal, ya..ya..pasangannya salah satu teman remako.

Lalu tersenyum. Bukan karena Batu Kudanya. Bukan hanya karena suasana campingnya. Tetapi karena kami akan kembali mengingat bahwa pernah ada satu akhir pekan ketika kami sengaja menyisihkan waktu untuk satu sama lain. Dan ternyata, itu sudah cukup untuk membuat perjalanan terasa berarti.

"Sebab pada akhirnya, perjalanan bukan selalu tentang ke mana kita pergi."

Kadang perjalanan adalah tentang siapa yang kita datangi. Hadir datang karena pernah berjanji. Dan ketika akhirnya menemukan mereka di antara tenda-tenda dan pohon pinus, saya kembali diingatkan:

"di tengah hidup yang semakin sibuk, masih ada orang-orang yang pantas kita datangi."

Bukan karena kita sedang punya waktu. Tetapi karena kita sengaja meluangkan waktu untuk mereka. Dan mungkin, itulah arti sederhana dari sebuah pertemanan yang masih ingin ku jaga. Terimakasih mentemen Remako , Batu Kuda Manglayang dan seisinya!




Comments

Popular posts from this blog

Pendakian Gunung Manglayang: Pengalaman yang sangat berharga

Perjalanan Pertama Hiking Remako : Tektok Gunung Papandayan

EIGER Women Flagship Store Hadir di Bandung