Batu Pineus Punya Cerita

Batu Pineus: Camping 2 Hari 1 Malam, Touring, Sungai, dan Kebersamaan.



“Rehat sejenak, hayu healing. Jangan kerja terus.”

Kalimat dari seorang sahabat putih biru itu awalnya terdengar seperti ajakan biasa. Tapi semakin dipikir, semakin terasa benar juga. Sebab akhir-akhir ini hidup seperti hanya berputar pada pekerjaan. Bangun, bekerja, melakukan to do list, membalas pesan, menyelesaikan pekerjaan, lalu tidur.

Begitu terus. Bahkan ketika akhir pekan datang, menyempatkan berbagi waktu untuk pekerjaan lainnya di luar kota, yang parahnya  kadang masih saja ada pekerjaan yang ikut terbawa. ketika libur.

Beberapa ajakan dua sahabat lainnya pun masuk, terkadang kalau diajak tuh, apalagi menginfokan secara personal buatku lebih penting dan mungkin lebih prioritas. Fix, terpercaya dan aman kalau mereka yang mengajak tuh. Hahaha..

Akhirnya, memutuskan untuk mengikuti agenda kegiatan yang dibuat oleh mentemen sekolah putih biru. Sesuatu yang sebenarnya sederhana. Ngecamp. Bukan sehari. Memilih menghabiskan waktu dua hari satu malam di Batu Pineus.

Tidak perlu agenda yang terlalu padat. Mencari tempat yang ga terlalu jauh,  hanya membawa perlengkapan ngecamp sesuai dengan list yang diinfokan, bertemu mentemen, menikmati alam, mendengarkan suara sungai, dan membiarkan waktu berjalan sedikit lebih pelan.

Dan seperti semua perjalanan bersama teman, tentu saja cerita sudah dimulai bahkan sebelum kami tiba di lokasi.

Touring Menuju Batu Pineus, Perjalanan yang Sudah Menjadi Bagian dari Liburan

Pagi itu, berkumpul di salah satu kantor teman, dekat dari rumah. Kali ini perjalanan menuju Batu Pineus dilakukan dengan beberapa motor. Buatku, perjalanan menggunakan roda dua memang selalu memiliki sensasi tersendiri.

Bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Naik motor membuat kita benar-benar merasakan perjalanan. Angin. Udara. Perubahan suhu. Aroma jalanan,. Wangi pepohonan. Bahkan wanginya polusi. Serta pemandangan yang perlahan berubah ketika meninggalkan kawasan perkotaan.

Awalnya suasana masih cukup ramai. Tetapi semakin perjalanan dilanjutkan, pemandangan mulai berubah menjadi lebih hijau ketika memasuki daerah Soreang. Jalan yang dilewati terasa semakin dekat dengan suasana alam.

Di beberapa bagian perjalanan, mata benar-benar dimanjakan oleh pemandangan. Pepohonan. Perbukitan. Hamparan hijau. Dan jalan yang membawa kami semakin jauh dari kesibukan kota. Rasanya seperti sedang menukar suasana. Dari deadline menuju downtime. Dari laptop menuju tenda. Dari suara notifikasi menuju suara sungai. 

Ajakan Naik Mobil yang Sempat Diabaikan

Di tengah persiapan, sebenarnya ada sahabat yang mengajak untuk menemani perjalanan menggunakan kendaraan roda 4, dan memang sudah berjanji untuk menemaninya diperjalanan.

“Naik mobil aja, bareng.” 

Sebenarnya nyaman juga.Bisa duduk santai, ngobrol sepanjang perjalanan, dan tentu lebih terlindung dari panas maupun dinginnya udara. Tapi entah kenapa kali ini  lebih memilih motor.

“Tar ya, di tengah jalan aja.”

Dan akhirnya kami tetap berangkat menggunakan kendaraan roda dua. Keputusan sederhana itu ternyata membuat perjalanan terasa lebih seru. Karena perjalanan dengan motor memberikan kesempatan untuk menikmati pemandangan secara langsung. Ketika melewati jalan yang mulai dikelilingi pepohonan, rasanya berbeda. Udara terasa lebih segar. Dan semakin dekat ke tujuan, rasa penasaran terhadap tempat camping untuk menghirup udara segar.

Drama Motor Sebelum Berangkat

Tetep ya perjalanan bersama mentemen tentu tidak lengkap kalau tidak ada sedikit drama. Salah satu teman tiba-tiba mengalami masalah dengan motornya. Mendadak urgent motornya bermasalah, ga bisa dinyalakan. Rencana perjalanan yang tadinya berjalan lancar akhirnya harus molor waktunya sebentar.

Untungnya, tidak membiarkan teman berjalan sendirian. Menawarkan untuk memakai motorku yang terdiam diparkiran, kemudian dipinjamkan kepada teman yang motornya bermasalah. Ga tega juga pasutri ini.

Perjalanan pun disesuaikan. Inilah salah satu hal yang membuat perjalanan bersama teman terasa berbeda. Ketika ada masalah, tidak ada yang berpikir, “Itu urusan lu.” Justru sebaliknya.

“Gimana caranya supaya kita tetap berangkat bareng?”

Dan akhirnya, masalah kecil itu bisa dilewati..Bahkan kemungkinan besar, kejadian motor bermasalah ini nanti akan menjadi bahan cerita dan bahan ketawaan ketika perjalanan sudah lama berlalu. Ya, begitulah mentemen. Kadang masalah saat perjalanan justru berubah menjadi kenangan.

Ada hal yang lebih lucu lagi, yang dipinjamkan motornya gede, yang naiknya mereka kecil-kecil, bahkan kakinya pun ga sampai ketika mengendarai. Ah, bikin ngakak berjama'ah sepanjang perjalanan. 

Lokasi Batu Pineus dan Gambaran Rutenya

Batu Pineus dikenal sebagai kawasan wisata alam dan camping yang berada di kawasan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Lokasinya berada di kawasan yang memiliki karakter alam pegunungan dan perkebunan, sehingga perjalanan menuju kawasan ini menjadi bagian menarik dari pengalaman.

Untuk menuju Batu Pineus dari arah Bandung, secara umum perjalanan dapat diarahkan menuju Pangalengan terlebih dahulu. Gambaran sederhananya:

Bandung → Soreang → Pangalengan → kawasan Batu Pineus.

Dari Soreang, nanti dipertigaan, ambil arah ke kiri ke Pangalengan, perjalanan kemudian dilanjutkan mengikuti akses menuju kawasan Batu Pineus. Karena kondisi jalan dan akses menuju lokasi sangat mudah dijangkau.

Bagi yang menggunakan motor, perjalanan menuju kawasan Pangalengan sendiri sudah menjadi pengalaman tersendiri. Semakin mendekati kawasan pegunungan, pemandangan semakin menarik.


Gimana ngebayanginnya aja indah kan?

Perjalanan Menuju Batu Pineus Disuguhi Pemandangan Indah

Salah satu alasan perjalanan ke Batu Pineus terasa menyenangkan bukan hanya karena tempat tujuannya. 

Jalannya pun punya cerita.

Sepanjang perjalanan, pemandangan alam perlahan menggantikan suasana perkotaan. Jalan yang sebelumnya dipenuhi bangunan mulai berganti dengan pepohonan. Udara terasa semakin sejuk. Di beberapa bagian, hamparan perkebunan dan perbukitan membuat perjalanan terasa seperti bonus sebelum tiba di lokasi camping.

Kalau menggunakan motor, kita bisa benar-benar merasakan perubahan itu. Awalnya panas. Kemudian mulai sejuk. Lalu semakin lama, kita mulai berpikir,

“Kayaknya keputusan camping di sini memang benar.”

Perjalanan yang tadinya hanya dianggap sebagai bagian menuju lokasi berubah menjadi pengalaman tersendiri. Tidak hanya mengejar tempat tujuan, namun menikmati setiap kilometer perjalanan. Dan kami pun berhenti di jalan yang lega, langsung botram ceritanya. 

Ngecamp 2 Hari 1 Malam di Batu Pineus

Setelah perjalanan selesai, saatnya memasuki agenda utama:

Camping dua hari satu malam di Batu Pineus.

Perlengkapan mulai diturunkan. Tenda sudah dipersiapkan. Barang-barang dibawa, tinggal ditenteng menuju area camping, ga begitu jauh dari parkiran sudah sampai. Dan setelah semuanya siap, barulah kami bisa benar-benar menikmati suasana.

Pembagian tenda, entah dengan siapa roomate, bersediaa menerimanya, sementara yang lain sibuk dan heboh explore bahkan ada yang ramai joged-joged. Melipir mengamati sekitar, mulai dari tenda menyimpan  dan merapihkan barang. 

Membayangkan sensasi berbeda ketika menghabiskan malam di alam. Tidak ada dinding kamar seperti di rumah. Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara kendaraan yang terus menerus lewat. Sebagai gantinya, kami ditemani suara alam. Udara malam yang sejuk. Pepohonan. Dan suara sungai yang terus mengalir. Rasanya sederhana. Tetapi justru itu yang dicari.


Dari kiri ke kanan, Nurwendah, Ima, Aku, Ririn, kenalan lebih deket lagi bareng roomate

Siang Hari: Duduk, Ngobrol, dan Menikmati Sungai

Hari pertama tidak perlu dibuat terlalu padat. Setelah memasuki tenda menikmati waktu. Ada yang duduk. Ada yang ngobrol. Ada yang menyiapkan makanan. Ada yang mengambil foto. Dan tentu saja, ada yang sibuk mencari spot paling nyaman untuk rebahan.

Tidak ada yang salah dengan tidak melakukan apa-apa. Justru itulah bagian dari healing. Selama ini kita terlalu terbiasa merasa harus produktif. Harus melakukan sesuatu. Harus menghasilkan sesuatu. Padahal terkadang kita hanya perlu duduk. Mendengarkan suara air. Melihat pepohonan. Dan berbicara dengan alam. 

Saat itu rasanya aneh, ada yang berkumpul di satu titik dengan penuh keramaian, mungkin bagian dapur, mereka menyiapkan makanan dengan memasak bersama. Memilih untuk terdiam di tenda, merapihkan meja, memberikan taplak meja biar kesannya piknik, yah dibuat nyaman sendiri. 

Sesekali diajakin teman bergabung, kemudian menyendiri lagi. Bahkan mereka yang nyamperin ke tenda sekedar menyapa atau mengambil permen dan cemilan yang kusediakan di meja. Ah, lebih nyaman menikmati kesunyian.


Tenda yang paling rapi, bersih dan menarik ceunah kata yang lewat, jadi banyak yang mampir 

nyomot permen atau cemilan.

Menjelang Malam, Suasana Batu Pineus Semakin Berbeda

Ketika matahari mulai turun, suasana camping perlahan berubah. Udara semakin dingin. Cahaya alami mulai berkurang. Tenda dan area camping mulai dihiasi cahaya lampu. Kemudian obrolan pun menjadi semakin panjang.

Kalau siang membicarakan perjalanan, makanan, dan hal-hal ringan, malam hari biasanya cerita mulai melebar ke mana-mana. Tentang pekerjaan. Tentang kehidupan. Tentang rencana perjalanan berikutnya. Tentang hal-hal yang mungkin selama ini tidak sempat dibicarakan. 

Begitulah camping bersama teman yang lama tak jumpa. Melepas kangen, bahkan kenalan lagi . Sejujurnya ku tak punya memori indah bareng mentemen putih biru. Hanya beberepa personil yang mengenalnya dekat 

Malam di Batu Pineus: Ketika Suara Sungai Menjadi Musik

Malam akhirnya benar-benar datang...

Salah satu pengalaman paling berkesan selama camping tentu saja malam harinya. Ketika suasana semakin sepi, suara sungai justru terasa semakin jelas. Air terus mengalir. Angin bergerak di antara pepohonan. Dan kami duduk bersama dalam suasana yang jauh berbeda dari kehidupan sehari-hari.

Tidak ada deadline yang harus diselesaikan malam itu. Hanya ada kami dan alam. Kesunyian seperti ini justru terasa menyenangkan. Karena ternyata, kita tidak selalu membutuhkan hiburan. Kadang alam sudah cukup. 

"Malam itu penuh kesan di Batu Pineus: Musik, Gitar, Api Unggun, dan Kebersamaan"

Udara Batu Pineus semakin dingin. Langit perlahan gelap, pepohonan di sekitar kami berubah menjadi siluet.  Lampu-lampu mulai menyala. Api unggun pun mulai dibuat. Awalnya dipikir malam akan dihabiskan dengan duduk santai di tempat masing-masing. Mungkin ngobrol sebentar, menikmati kopi, lalu masuk tenda lebih awal karena udara semakin dingin.


Syahdunya..

Tenda Kami Malah Jadi Tempat Berkumpul

Malam semakin larut, tapi entah kenapa kami belum juga benar-benar ingin tidur. Setelah menikmati api unggun dan suasana malam Batu Pineus, satu per satu mulai membawa cerita. Ada yang duduk dekat api, ada yang memainkan gitar, ada yang sekadar menikmati suara sungai yang mengalir tanpa henti.

Lalu seorang sahabat mulai memetik gitar. Petikan demi petikan terdengar di tengah udara malam yang dingin. Tidak perlu panggung, tidak perlu pengeras suara. Cukup gitar, suara sahabat yang bernyanyi, dan kami yang sesekali ikut menyahut.

Awalnya biasa saja. Tapi namanya juga kalau sudah kumpul bareng mentemen, suasana bisa berubah tanpa aba-aba. Yang tadinya duduk berjauhan mulai mendekat. Yang tadinya cuma mau dengar lagu, akhirnya ikut ngobrol. Yang tadinya bilang, “Sebentar saja,” tahu-tahu sudah duduk berjam-jam.

Dan lucunya, entah bagaimana ceritanya...

“Eh, kenapa malah jadinya berkumpul di tenda aku?”

Hahaha. Tenda yang tadinya ku kira bakal menjadi tempat istirahat pribadi, malah berubah fungsi menjadi semacam ruang tamu dadakan. Satu per satu masuk. Ada yang duduk selonjoran, ada yang menyender, ada yang sibuk cerita, ada yang masih pegang gelas minuman hangat. Sementara gitar tetap dimainkan di sela-sela percakapan.

Tenda jadi terasa sempit. Tapi justru di situlah serunya. Kadang memang begini cara pertemanan bekerja. Tidak ada undangan resmi. Tidak ada yang bilang, “Jam sekian kita berkumpul di tenda ini.”

Tiba-tiba saja sudah penuh. Dan ketika sudah berkumpul, obrolannya pun ke mana-mana. Dari cerita perjalanan, pekerjaan, kehidupan sehari-hari, sampai hal-hal receh yang kalau dipikir-pikir sebenarnya tidak penting-penting amat. Tapi justru cerita receh itulah yang sering membuat kami tertawa paling keras.

Di luar tenda, malam Batu Pineus terasa semakin dingin. Suara sungai masih terdengar mengalir. Angin sesekali masuk dari celah-celah tenda. Dan suara sahabat yang masih bernyanyi berpadu dengan suara alam. Sederhana sekali. Tidak ada tempat mewah. Tidak ada agenda besar. Tidak ada hiburan yang dibuat khusus.   Hanya kami, gitar, lagu, obrolan, cemilan dan malam yang berjalan pelan.


Udara yang dingin, nyemil cilok dan temannya, nikmat syekali dimakannya rame-rame

Ketika Tenda Berubah Menjadi Ruang Cerita

Mungkin salah satu hal paling menyenangkan dari camping adalah momen-momen yang tidak ada di itinerary. Kita bisa saja datang dengan rencana, berhubung tendanya sudah ada, hanya membawa diri saja, sebagian masak, menikmati alam, foto-foto, lalu tidur.

Tapi kenyataannya sering berbeda. Justru momen paling berkesan biasanya lahir dari kejadian spontan. Seperti malam itu. Tenda ini menjadi tempat kami berbagi cerita. Ada cerita yang lucu sampai bikin ketawa berulang-ulang. Ada cerita perjalanan hidup yang membuat kami tiba-tiba diam dan mendengarkan. Ada pula percakapan ringan yang tidak perlu dicari ujungnya.

Tidak terasa waktu terus berjalan. Gitar masih sesekali berbunyi. Lagu berganti. Cerita berganti. Orang yang tadinya bilang sudah mengantuk ternyata masih paling semangat ngobrol. Begitulah kalau sudah bersama teman-teman. Rencana tidur cepat bisa kalah oleh satu kalimat:

“Eh, cerita dong...”

Setelah itu, selesai. Malam bisa panjang. Aku pun akhirnya hanya menikmati semuanya, dengan sahabat-sahabat dekat. Duduk di depan tenda sambil mendengarkan suara teman-teman. Sesekali ikut tertawa, sesekali ikut menyambung cerita, dan sesekali hanya diam menikmati suasana.

Di luar sana ada api unggun yang mulai meredup. Di sekitar kami ada pepohonan dan suara sungai. Sementara di dalam tenda, ada kehangatan yang tidak berasal dari api. Kehangatan dari kebersamaan.


Makin malam, udara makin dingin

Ketika Lagu Malam Membawa Kami pada Kenangan

Makin malam, tenda ini entah sejak kapan berubah menjadi tempat berkumpul.Yang awalnya hanya ingin istirahat, malah berujung duduk bersama sampai lupa waktu. Suasana tenda ramai oleh suara obrolan dan tawa, bercampur dengan nyanyian malam yang terdengar dari sudut-sudut perkemahan.

Menjelang tengah malam sahabat pengamen ini makin heboh. Lalu gitar mulai dipetik lagi dan lagi sesuai permintaan. Pelan. Satu per satu nada keluar, menyatu dengan suara sungai yang sejak tadi tak pernah berhenti mengalir. Udara Batu Pineus semakin dingin, tetapi suasana justru semakin hangat.

Seorang mulai bernyanyi. Suaranya tidak harus sempurna. Tidak ada yang sedang mengikuti audisi. Kadang nadanya benar, kadang melenceng sedikit, dan setiap salah lirik selalu berhasil mengundang tawa. Tapi malam itu terasa berbeda. Ada lagu-lagu yang ketika dinyanyikan bersama teman, tiba-tiba membawa kita kembali ke banyak cerita.

Tentang perjalanan yang pernah dilewati. Tentang teman yang pernah hadir. Tentang masa-masa ketika kami masih sering berkumpul tanpa harus mencari alasan. Tentang obrolan yang dulu terasa biasa, tetapi sekarang justru menjadi sesuatu yang dirindukan. 

Petikan gitar terus berjalan. Suara nyanyian semakin dalam. Sesekali ikut menyahut pada bagian lagu yang kami hafal. Ada yang bernyanyi keras tapi suaranya cemprenk (itu akuuu) ada yang hanya ikut bersenandung pelan. Sebagian memilih diam, menikmati lagu sambil menatap kosong ke depan.

Mungkin masing-masing sedang dibawa ke kenangannya sendiri. Begitulah musik. Kadang ia tidak hanya terdengar di telinga, tetapi juga mengetuk pintu-pintu ingatan yang sudah lama kita tutup. Satu lagu bisa mengingatkan kita pada seseorang.

Satu lirik bisa membawa kita pada sebuah perjalanan. Satu nada bisa membuat kita tiba-tiba teringat masa ketika semuanya terasa lebih sederhana. Dan malam itu, di antara dinginnya Batu Pineus, kami seperti sedang membuka kembali album kenangan yang selama ini tersimpan di kepala masing-masing.

Tidak ada yang benar-benar membicarakannya. Cukup lagu yang berbicara. Cukup gitar yang terus mengalun. Cukup malam yang perlahan berjalan. Di luar tenda, api unggun masih menyala. Cahayanya  terlihat jelas, meredup, dinyalakan lagi, nyolong kayu bakar dari tennda teman sebelah. Hahaa..

Di kejauhan, suara teman-teman lain masih terdengar. Sementara sungai mengalir dengan iramanya sendiri. Kemudian berpikir, mungkin inilah yang sering kita cari ketika pergi bersama teman. Bukan sekadar tempat baru. Bukan sekadar foto untuk dibawa pulang. Tetapi waktu. 

Waktu untuk duduk bersama orang-orang yang mungkin dalam keseharian terlalu sibuk untuk sekadar bertanya, “Kamu baik-baik saja?”

Cukup gitar. Beberapa lagu. Secangkir minuman hangat. Api unggun yang perlahan menjadi bara. Suara sungai. Dan teman-teman yang membuat kita merasa pulang.

Semakin malam, suara gitar mulai melambat. Lagu terakhir dinyanyikan dengan suara yang lebih pelan. Tidak ada lagi tawa yang terlalu keras. Kami seperti sama-sama tahu bahwa malam harus segera berakhir.

Tetapi tidak ada yang benar-benar ingin menjadi orang pertama yang berkata, “Sudah, yuk tidur.” Karena mungkin kami tahu, momen seperti ini tidak selalu bisa diulang. Besok pagi kami akan kembali dengan rutinitas masing-masing. Kembali pada pekerjaan.Kembali pada jalanan. Kembali pada hidup yang bergerak cepat.

Dan mungkin setelah itu, kami akan kembali sibuk dan hanya bertukar pesan sesekali. Namun malam itu akan tetap menjadi satu halaman kecil dalam perjalanan hidupku. Halaman yang mungkin tidak istimewa bagi orang lain. Tapi bagiku akan selalu punya suara.

Suara petikan gitar. Suara nyanyian yang kadang fals.  Suara tawa yang pecah di dalam tenda. Suara sungai yang mengalir sepanjang malam.

Dan suara hati yang diam-diam berkata:

“Ini pengamen malam, kagak berhenti memetik gitar”

Sebab pada akhirnya, mungkin bukan lagu apa yang kami nyanyikan yang akan paling diingat. Melainkan siapa yang duduk bersama ketika lagu itu dinyanyikan. Dan mungkin, bertahun-tahun nanti, ketika lagu yang sama kembali terdengar,  akan tersenyum dan teringat pada satu malam di Batu Pineus malam ketika sebuah tenda kecil menjadi tempat kami menyimpan begitu banyak cerita.


Ini Pengamen dari tenda ke tenda, mangkalnya di tenda kami, duh Akang Ketua Hiking Remako ini emang ya kalau di alam bebas ekpresif banget, apalagi kalo pas nyanyi sambil memainkan gitarnya. 

Malam yang Akan Sulit Dilupakan

Kalau dipikir lagi, mungkin bukan Batu Pineus-nya yang nanti paling saya ingat. Bukan pula soal perjalanan naik motor, jalan yang kami lewati, atau bagaimana akhirnya kami sampai di tempat camping. Yang mungkin akan terus melekat justru malam sederhana itu.

Malam ketika kami tidak terburu-buru. Malam ketika gadget tidak menjadi pusat perhatian. Malam ketika gitar berpindah tangan, suara nyanyian terdengar seadanya, dan tenda saya tiba-tiba menjadi tempat berkumpul. Malam ketika punya waktu untuk benar-benar hadir satu sama lain.

Barangkali inilah arti rehat sejenak yang sebenarnya. Bukan selalu tentang pergi jauh. Bukan harus mencari tempat yang viral. Bukan juga harus melakukan sesuatu yang luar biasa. Kadang kita hanya perlu berhenti sebentar dari rutinitas, duduk bersama orang-orang yang membuat kita nyaman, lalu membiarkan malam berjalan apa adanya.

Dan malam itu, rasanya kalimat tersebut benar-benar menemukan tempatnya. Kami memang sedang tidak menyelesaikan pekerjaan. Tidak sedang mengejar target. Tidak sedang memikirkan besok harus bagaimana.Kami hanya sedang menikmati malam. Menikmati suara gitar. Menikmati aliran sungai. Menikmati hangatnya api unggun.

Dan tentu saja, menikmati tenda saya yang entah sejak kapan berubah menjadi markas kumpul satu rombongan. Mungkin suatu hari nanti kami akan lupa lagu apa yang dinyanyikan malam itu. Mungkin lupa siapa yang pertama kali memetik gitar.

Mungkin bahkan lupa obrolan apa yang membuat kami tertawa sampai larut. Tapi rasa hangatnya mungkin akan tetap tinggal. Sebab pada akhirnya, camping bukan hanya tentang tidur di tenda dan menikmati alam.

Kadang camping adalah tentang menemukan kembali waktu untuk bersama. Tentang tertawa tanpa alasan. Tentang bercerita tanpa perlu melihat jam. Tentang duduk berdesakan di dalam tenda sambil berkata, ini kenapa pada kumpul di tendaku.

Lalu semuanya tertawa. Dan malam pun terasa semakin syahdu. Mungkin, justru momen-momen kecil seperti itulah yang membuat sebuah perjalanan menjadi kenangan. 

Satu persatu masuk ke dalam tenda, sengaja mengistirahatkan diri, apa daya bobonya di teras tenda, itu pun sekejap saja. Malam itu terasa lengkap. Ada dingin yang kami lawan dengan kebersamaan, ada sunyi yang kami isi dengan cerita, dan ada tawa yang membuat kami lupa bahwa esok pagi perjalanan harus kembali dilanjutkan.

Sebuah malam sederhana di Batu Pineus, tetapi entah kenapa terasa begitu istimewa.



Pagi Hari: Bangun dengan Udara Segar

Setelah menghabiskan malam di tenda, tidur hanya sekejap, dihabiskan dengan mengobrol menikmati kebersamaan. Pagi menjadi bagian lain yang tidak kalah menyenangkan. Bangun bukan karena alarm kantor. Bukan karena harus segera membuka laptop.

Tetapi karena udara pagi dan suasana alam. Membuka pintu tenda dan melihat pepohonan terasa  seperti hadiah kecil. Secangkir kopi atau teh hangat pun terasa berbeda ketika diminum di tengah alam.

Mungkin kopinya sama. Tapi suasananya yang membuat rasa menjadi berbeda. Di sinilah kami kembali menyadari bahwa kebahagiaan kadang memang sesederhana itu.

Camping di Batu Pineus Bukan Sekadar Menginap

Dua hari satu malam di Batu Pineus sebenarnya bukan sekadar kegiatan menginap di alam. Ini tentang memberikan waktu kepada diri sendiri untuk berhenti. Berhenti mengejar. Berhenti terburu-buru. Berhenti memikirkan pekerjaan untuk sementara. Dan kembali menikmati hal-hal sederhana.

Perjalanan yang indah. Pemandangan sepanjang jalan. Menikmati kesunyian di tenda. Makan bersama. Ngobrol sampai subuh. Mendengarkan sungai. Bangun pagi. Lalu pulang membawa cerita. 

Kenapa Batu Pineus Menarik untuk Camping Bersama Teman?

  • Suasana Alam yang nenenangkan, pepohonan dan suasana hijau memberikan pengalaman berbeda dari kehidupan perkotaan.
  • Dekat dengan aliran sungai, suara air menjadi salah satu daya tarik yang membuat suasana camping terasa lebih alami.
  • Cocok untuk quality time, camping membuat kita memiliki lebih banyak waktu untuk berbicara dan melakukan aktivitas bersama. 
  • Perjalanan menuju lokasi juga menyenangkan, akses menuju kawasan Pangalengan menawarkan pemandangan alam yang membuat perjalanan terasa tidak membosankan.
  • Cocok untuk rehat sejenak
Batu Pineus memberikan kesempatan untuk mengambil jeda dari rutinitas dan menikmati suasana alam.



Pulang dari Batu Pineus dengan Hati yang Lebih Ringan

Dua hari satu malam akhirnya selesai. Mulai beres-beres. Barang kembali dimasukkan. Meninggalkan tenda dan alam sekitarnya. Kendaraan mulai dipersiapkan. Dan kami kembali menuju rumah. Sebenernya beberapa dari kami melanjutkan kegiatan selanjutnya untuk menjadi panitia acara Reuni Akbar SMA 24 Bandung.

Perjalanan pulang terasa sedikit berbeda. Mungkin karena sebelumnya kami sudah mendapatkan apa yang kami cari. Bukan sesuatu yang mahal. Bukan pengalaman yang mewah. Tetapi sebuah jeda. Kami datang dengan kepala yang penuh. Pulang membawa cerita. Datang dengan rutinitas. Pulang dengan energi yang sedikit terisi kembali.

Dan mungkin itulah arti sederhana dari healing. Bukan menghilangkan semua masalah. Tetapi memberikan diri sendiri kesempatan untuk bernapas sebelum kembali menghadapi semuanya. 

Batu Pineus: Karena Hidup Bukan Cuma Tentang Kerja

Pada akhirnya, perjalanan ke Batu Pineus menjadi pengingat sederhana. Menjanjikan pulang bersama sahabat di dalam mobil, awalnya kami bertiga malah jadi berdua, ada sesuatu hal di mobil sebelah yang perlu driver. 

Ah, momen bareng bestie sedari putih biru sampe sekarang begitu  awet persahabatannya. Banyak yang perlu dirawat dengan saling mengingatkan satu sama lain. Salah satunya, belaiu yang mengajak untuk mengikuiti kegiatan ini. Sepanjang perjalanan dengan ocehan berfaedah dan unfaedah, bikin ngakak ngekek, kemudian mewek. 

Memang ya terkadang omelannya bikin makjleb. Bahwa kita memang perlu bekerja. Tetapi kita juga perlu hidup. Kita perlu mengejar target. Tetapi kita juga perlu mengejar momen bersama teman. Kita perlu menyelesaikan pekerjaan. Tetapi kita juga perlu sesekali meninggalkan laptop dan melihat dunia di luar layar.

Cukup laptop buat menemani dan mendengarkan lagu-lagu jadoel angkatan 90an.


Dan seperti kata sahabat putih biru:

“Rehat sejenak, hayu healing. Jangan kerja saja.”

Maka dua hari satu malam di Batu Pineus bukan hanya tentang camping. Ini tentang perjalanan. Tentang touring motor. Tentang pemandangan indah sepanjang jalan. Tentang motor teman yang mendadak bermasalah. Tentang saling membantu. Tentang tenda yang berdiri di tengah alam. Tentang suara sungai yang menemani malam. Tentang kopi di pagi hari.

Dan yang paling penting, tentang kebersamaan bersama mentemen.

Karena suatu saat nanti, mungkin kita tidak akan mengingat berapa banyak pekerjaan yang berhasil kita selesaikan tahun ini. Tetapi kita mungkin akan mengingat malam ketika duduk bersama teman di pinggir sungai. Tertawa tanpa alasan. Ngobrol sampai lupa waktu.

Dan berkata,

“Untung waktu itu kita jadi berangkat.”

Itulah Batu Pineus. Bukan sekadar tempat untuk camping. Tetapi tempat untuk menciptakan cerita yang suatu hari nanti akan kembali kami ceritakan.

Comments

Popular posts from this blog

Pendakian Gunung Manglayang: Pengalaman yang sangat berharga

Perjalanan Pertama Hiking Remako : Tektok Gunung Papandayan

EIGER Women Flagship Store Hadir di Bandung