Hiking Lembah Cilengkrang Kuningan

Ketika Kabut dan Hujan Menemani Langkah Kami ke Lembah Cilengkrang Kuningan


Ada perjalanan yang sejak awal sudah terasa seperti petualangan. Bukan karena jalurnya paling ekstrem, bukan pula karena harus mengejar puncak tertinggi, tetapi karena perjalanan menuju tempat itu dipenuhi kejutan kecil yang justru membuatnya sulit dilupakan.

Begitulah cerita ketika memutuskan untuk hiking ke Lembah Cilengkrang Kuningan. Pagi itu, kami berangkat menuju Kuningan dengan dua mobil.  Satu mobil putih rombongan yang isinya mentemen remako dan satu mobil merah kecil isinya aku dan sahabat orang Kuningan. Sesuai dengan arahan dan to do list Akang Ketua Hiking Remako  di WAG, berbeda titik kumpul, tapi saling memberikan live location. 

Perjalanan menuju Kuningan sebenarnya cukup menyenangkan. Jalanan yang dilalui sambil bercanda, mengobrol, sesekali menikmati pemandangan dari balik kaca mobil, yang sudah terbiasa kalau ke Cirebon. Paling indah memang pemadangan di Tol Cisumdawu, mulai dari sunrise, hamparan pegunungan bak negeri dongeng, berkabut, atap Gunung Tertinggi di Jawa Barat pun begitu tampak dengan gagahnya, belum lagi hamparan sawah yang hijau dan jalanan yang berkelok. 

Memasuki Tol Cipali dan keluar GT Ciperna, ngga jauh dari Gerbang Tol ke arah Kuningan, Istirahat sejenak di Indomaret Fresh sambil menanti rombongan. Ternyata masih jauh, karena ada sesuatu hal telat diawal pemberangkatan. Kembali kami berdua melanjutkan perjalanan setelah menyeruput kopi panas, menjemput teman satu lagi di kantornya. Akhirnya tikum langsung di lokasi Lembah  Cilengkrang Kuningan. 

Perjalanan Menuju Lembah Cilengkrang Kuningan

Kuningan memang selalu punya cara sendiri untuk membuat perjalanan terasa berbeda. Kawasan yang berada di kaki Gunung Ciremai ini dikenal memiliki udara sejuk, lanskap hijau, perbukitan, dan berbagai destinasi wisata alam. Salah satunya adalah Lembah Cilengkrang. Semakin mendekati kawasan wisata, udara terasa semakin dingin. Pepohonan mulai mendominasi pemandangan. Jalanan yang sebelumnya cukup ramai perlahan berubah menjadi lebih tenang.

Kemudian kabut mulai tampak  menyelimuti perjalanan. Pemandangan di depan mata berubah menjadi lebih samar. Pepohonan tampak seperti bayangan di balik putihnya kabut. Suasana yang biasanya terasa biasa saja mendadak menjadi lebih dramatis. Sampailah di pintu masuk, aku yang awam melihat lokasi dibandingkan sama dua temanku yang sudah familiar, menyapa pepohonan, ibu warung sambil menunggu rombongan lain, kembali pessan kopi dan bala-bala.

Tak lama kemudian mereka dateng, dan mulailah rame.Briefing dan berdoa bersama sudah menjadi rutinitas awal sebelum melakukan hiking. Perbekalan lengkap, formasi lengkap sesuai dengan arahan, tinggal melangkahkan kaki ini. 

Kehebohan yang akhirnya bisa foto bersama

Hiking ke Lembah Cilengkrang

Setelah kendaraan diparkir dan perlengkapan dipersiapkan, kami mulai melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Di sinilah cerita hiking sebenarnya dimulai. Jalur menuju lokasi membuat langkah kami otomatis menjadi lebih santai. Tidak ada gunanya terburu-buru. Apalagi kondisi setelah hujan membuat jalur harus dilalui dengan lebih hati-hati.

Sepatu harus benar-benar memperhatikan pijakan. Tanah menjadi lebih licin. Batu-batu menjadi basah. Dan beberapa bagian jalur membutuhkan konsentrasi lebih. Tetapi justru kondisi seperti ini yang membuat perjalanan terasa lebih berkesan.

Kami berjalan sambil menikmati suasana hutan. Suara percakapan sesekali bercampur dengan suara air dan rintik hujan yang jatuh di antara dedaunan. Ada saat ketika kami berhenti sebentar. Bukan karena menyerah. Hanya ingin menarik napas dan menikmati suasana. Kabut tipis yang turun membuat pemandangan di sekitar terlihat syahdu. Pepohonan basah, udara dingin, dan suara air menjadi kombinasi yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota.

Gimana ngga memanjakan mata suasananya 

Lembah Cilengkrang Kuningan dan Pesona Alamnya

Lembah Cilengkrang Kuningan menjadi salah satu destinasi yang menarik bagi pencinta wisata alam dan perjalanan outdoor. Daya tarik utamanya tentu saja adalah air terjun yang berada di tengah suasana alam yang masih terasa asri.

Berbeda dengan wisata yang hanya mengandalkan tempat foto, perjalanan menuju curug menjadi bagian penting dari pengalaman. Ada proses berjalan, sedikit tanjakan. Ada rasa lelah,  ada udara dingin. Ada suara alam dada momen ketika akhirnya sampai di depan air terjun dan beberapa kolam pemandian.


Mencari lokasi yang nyaman untuk sejenak istirahat sambil duduk syantik dan nyemil perbekalan. Ada yang berendam, main air, ada yang rebahan, semua dengan kegiatan nyamannya masing-masing. Dan, ada juga yang menyalakan api membuat air panas  untuk menyeduh kopi, menghangtkan kopi dan bikin pop mie. 

Ngopi  di alam tuh rasanya memang beda ya setelah perjalanan yang lumayan singkat, Itulah yang membuat hiking menuju curug terasa lebih memuaskan. Karena keindahan yang kita lihat bukan sekadar datang dari tempat tujuan, tetapi juga dari perjalanan untuk mencapainya.

Ngopi di Gunung

Hujan Membuat Suasana Perjalanan Makin Syahdu

Kami mungkin tidak mendapatkan cuaca cerah seperti yang sering dibayangkan ketika pergi ke tempat wisata alam. Tetapi ketika perjalanan pulang,  ternyata hujan justru memberikan cerita lain. Air terlihat semakin hidup. Pepohonan tampak lebih hijau. Batu-batu menjadi basah dan mengilap. Kabut membuat latar belakang terasa lebih dramatis.  Dan suara air yang jatuh terdengar semakin jelas. Kami hanya berdiri menikmati suasana sambil berteduh. 

Sesekali mengambil foto. Sesekali bercanda. Sesekali diam. Ada momen ketika tidak perlu banyak bicara. Cukup berdiri di tengah alam dan membiarkan suara air menjadi musik perjalanan. Mungkin memang ada perjalanan yang tidak membutuhkan cuaca sempurna untuk menjadi indah. Kadang-kadang, justru hujanlah yang membuatnya punya cerita.

Siang itu merasa sendiri, hanya aku dan suara alam dan pengunjung lain yang ramai, sementara kehilangan teman seperjalanan, sinyal tak mendukung, hingga hilang kontak. Mencari mentemen yang lain, mungkin di bangunan mesjid depan mereka berteduh. 

Udara ymakin dingin, makin membuat perut ini keroncongan, nyemil coklat dan membagikan sama beberapa teman yang ada, soyjoy dan kopi panas di tumbler mengahangatkan tubuh ini. 


Gazebo tempat berteduh di seberang mesjid

Kabut dan Hujan Menjadi Bagian dari Petualangan

Kalau biasanya orang berharap mendapatkan cuaca cerah ketika hiking, kami justru mendapatkan paket lengkap. Kabut. Hujan. Udara dingin. Dan jalan yang semakin basah. Awalnya mungkin ada sedikit rasa khawatir. Bagaimana kalau hujannya semakin deras? Bagaimana dengan jalur hiking nanti? Apakah perjalanan tetap nyaman?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tentu muncul. dibenak mentemen. Aku yang menyamankan diri dan bersahabat dengan segala cuaca ketika berada dialam sih merasa santai, menikmati semuanya. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti sejenak dan menanti hujan sedikit reda. Sambil berteduh, kami saling bercanda, memastikan perlengkapan tetap aman, dan mulai menyiapkan jas hujan. 

Dengan jas hujan yang membungkus tubuh, kami mulai menembus kabut tipis yang menggantung di antara pepohonan. Udara dingin menyentuh wajah, sementara rintik hujan masih sesekali jatuh dari dedaunan. Langkah kami menjadi lebih hati-hati, tetapi suasana justru terasa menyenangkan. Kabut tipis membuat pemandangan di depan terlihat samar dan misterius. Rasanya seperti sedang berjalan menuju tempat tersembunyi yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang mau terus melangkah.

Hujan membuat aroma tanah dan pepohonan semakin terasa. Udara menjadi lebih segar. Jalanan yang basah justru menambah kesan petualangan. Rasanya seperti sedang masuk ke dunia lain. Bukan lagi sekadar perjalanan wisata.

Begitu hujan mulai lebih ringan, kami kembali melanjutkan perjalanan. Satu per satu jas hujan dikenakan. Ada yang masih sibuk membetulkan tudung kepala, ada yang membantu teman mengancingkan jas hujan, dan ada pula yang langsung siap berjalan meski penampilannya sudah seperti rombongan kecil penjelajah hutan. Ada juga yang meminjamkan jas hujannya, ada juga yang pake karpet haha.

Perjalanan pun terasa semakin seru, dan ada dua teman yang sudah mendahului langsung menanti di parkiran. Ketika mendapatkan kabar itu dari leader perjalanan, tak merasa khawatir ketika hujan. Karena yakin, suasana hujan itu yang ditunggu. Ahaaa, seperti aku yang kehilangan jas hujan ketika dibutuhkan, ya sudah lah yaaah..

Thank you kaki-kaki mungil yang sudah diajak kerjasama 

Mulai bersahabat dengan hujan gerimis, senang rasanya disapa hujan. Langkah kaki kami  pun mulai melambat dan hujan semakin deras. Ku teringat teman yang mendahului, izin sama leader untuk jalan duluan, takut keburu basah kuyup. 

Yeay, berlari sendiri menembus hujan gerimis yang semakin deras, berasa deh trail run, teriak-teriak sendiri. Sempat berhenti melihat jalur yang cuma aku saja, melihat ke  depan  belakang dan sekeliling berasa di film twilight, makin semangat deh  dan akhirnya  sampai juga di parkiran dengan basah kuyup. Ganti baju di mobil sambil menanti rombongan lain untuk melanjutkan perjalanan kerumah salah satu sahabat Remako.

Penculikan pun dimulai, habis basah kuyup, terbitlah lavar. Mampir dulu ke tempat ngopi untuk menghangatkan tubuh dan mengisi perut dengan menu-menu khas sunda dengan parasmanan, Saung Kopi Hawu salah satu tempat nongki di Kuningan yang selalu ramai. Selain tempatnya vintage makanannya pun ternyata enak-enak.  Kami bertiga makan lahap sekali karena kelaperan, tanpa mengobrol, fokus masing-masing dan tentunya waktu yang terus berjalan. 

Tips Hiking ke Curug Cilengkrang Kuningan

Jika ada yang sedang  berencana melakukan perjalanan ke Lembah Cilengkrang Kuningan, ada beberapa hal sederhana yang sebaiknya dipersiapkan.

  1. Gunakan alas kaki yang nyaman. Karena merupakan perjalanan menuju kawasan air terjun, kondisi jalur bisa berubah, terutama setelah hujan. Gunakan sepatu atau sandal trekking yang memiliki grip cukup baik.
  2. Bawa jas hujan. Jangan hanya mengandalkan payung. Untuk perjalanan outdoor, jas hujan jauh lebih praktis dan bisa membuat tubuh tetap terlindungi ketika hujan turun.
  3. Bawa pakaian ganti. Ini penting, terutama jika datang ketika musim hujan. Pakaian yang basah karena hujan tentu kurang nyaman digunakan sepanjang perjalanan pulang.
  4. Bawa air minum dan makanan fav dan obat-obatan pribadi. Meskipun perjalanan tidak selalu panjang, tubuh tetap membutuhkan cairan. Jangan lupa membawa air minum/makanan secukupnya.
  5. Jangan terburu-buru. Nikmati perjalanan. Apalagi jika datang bersama teman atau keluarga. Tidak perlu mengejar waktu terlalu ketat.
  6. Perhatikan kondisi cuaca. Hujan memang bisa membuat suasana semakin syahdu, tetapi keselamatan tetap harus menjadi prioritas. Jika kondisi cuaca terlalu buruk atau jalur menjadi tidak aman, jangan memaksakan perjalanan.

Ciyus kan, semua perlengkapan yang dibawa pun akhirnya berguna dan dipakai, jadi jangan mengabaikan perlengkapan hiking meskipun perjalanannya ga jauh banget. Tuh yang suka bawel mengingatkan kita semua, ituuh yang Akang Bertopi.

Kapan Waktu Terbaik Mengunjungi Curug Cilengkrang?

Secara umum, perjalanan ke kawasan air terjun akan lebih nyaman ketika cuaca cerah atau setelah hujan ringan. Namun, kalau datang pada musim hujan, kamu mungkin akan mendapatkan suasana yang berbeda. Kabut bisa turun. Udara menjadi lebih dingin. Pepohonan terlihat semakin hijau. Dan debit air terjun bisa menjadi lebih deras.

Tetapi tetap perlu berhati-hati karena hujan juga dapat membuat jalur lebih licin dan kondisi sungai atau aliran air berubah. Jadi, bukan soal mencari cuaca yang paling sempurna. Yang lebih penting adalah memilih waktu ketika kondisi perjalanan tetap aman dan nyaman.

Maunya ngajak mentemen ke sini, menikmati malam  di Kuningan, tapi banyak suara yang mager!

Lembah Cilengkrang, Tentang Perjalanan yang Tidak Harus Sempurna

Hiking Bukan Hanya Tentang Tujuan. Perjalanan menuju Lembah Cilengkrang kembali mengingatkan kami bahwa hiking bukan hanya tentang mencapai tempat tujuan. Kadang yang paling diingat justru perjalanan menuju ke sana. Tentang dua mobil yang berangkat bersama, saling menunggu. Tentang jalanan menuju Kuningan. Tentang kabut yang perlahan turun. Tentang hujan yang tiba-tiba datang. Tentang jalan yang licin.

Tentang tawa di tengah perjalanan. Tentang rasa lelah. Dan tentang momen ketika akhirnya kami berdiri bersama di depan  plang tempat wisata Lembah Cilengkrang, duduk bersama menikmati kopi. Tentang menginap di rumah sahabat di Kuningan dengan segala ceritanya.

Eh, ada anak muda ganteng, panggil saja Mario, yang membawa rombongan mentemen remako ke Kuningan, makasih banyak ya meski aku cuma nebeng bentar di mobilnya tapi sempet ikutan ngerem ngegas 

Tentang malam yang berkaraoke bersama, tentang joged-joged yang saling menghibur satu sama lain. Memasak dan sarapan bareng, tentang joging pagi dan senam di CFD kota Kuningan, ya tak lupa tentang kami bertiga naik angkot bareng menuju kota, jajan-jajan cemilan lama kelamaan kresek yang dibawa pun banyak. 


Punya keluarga kalau mudik ke Kuningan, Bapak, Mamah sehat-sehat yaa..

Tentang diculik  menikmati kulineran khas Kuningan Hucap terenak di Kota Kuningan, dan berkunjung ke rumah keluarga sahabat dan dipaksa suruh makan kembali. Memetik buat rambutan dari pohonnya langsung. Begitu hangat kebersamaan dan penerimaannya.

Mereka tak sedarah, tapi hangatnya melebihi ituh. Terharuu, Allah menciptakan mereka untukku tersenyum dan mengingat kebaikannya mengarungi kehidupan ini, begitupun mereka memberikan pelajaran hidup yang berharga baik dan yang kurang nyamannya. Terpenting, jangan lelah untuk berbuat baik ya, kawan!

Kemudian, melakukan perjalanan kembali pulang ke kota tercinta dua mobil beriringan sepanjang jalan. Pada akhirnya, perjalanan kami menuju Lembah Cilengkrang Kuningan bukanlah perjalanan dengan cuaca sempurna. Dan tentang bagaimana alam selalu punya cara sendiri untuk membuat sebuah perjalanan menjadi kenangan. Mungkin memang begitu cara terbaik menikmati perjalanan.

Tidak perlu semuanya berjalan sempurna. Karena terkadang, kabut, hujan, dan sedikit rasa lelah justru menjadi bumbu yang membuat perjalanan jauh lebih bermakna.Dua hari semalam itu  hari itu, Curug Cilengkrang bukan hanya menjadi sebuah destinasi wisata di Kuningan. Ia menjadi bagian dari cerita perjalanan kami hiking remako. 

Semua itu menjadi satu cerita. Satu perjalanan. Satu kenangan. Lalu pulang membawa kenangan yang mungkin akan diceritakan kembali berkali-kali.




Comments

Popular posts from this blog

Pendakian Gunung Manglayang: Pengalaman yang sangat berharga

Perjalanan Pertama Hiking Remako : Tektok Gunung Papandayan

EIGER Women Flagship Store Hadir di Bandung