Trek 11 Sukawana, Dua Puncak Satu Perjalanan Banyak Cerita

Pengalaman pertama hiking bersama sahabat lama ex broadcast Fikom Unpad 98



Finally, Here We Are…

Ada perjalanan yang sejak awal memang direncanakan untuk mencapai sebuah tujuan. Tetapi ada pula perjalanan yang menjadi begitu berarti justru karena siapa saja yang berjalan bersama kita.
 
Begitu pula perjalanan kali ini, setelah sekian lama hanya menjadi rencana, setelah berbulan-bulan chit chat, mengatur waktu, dan beberapa kali harus berdamai dengan jadwal yang tak kunjung sinkron, akhirnya kami benar-benar bertemu di jalur yang sama. Bukan sekedar bertemu untuk hiking, tetapi kembali menikmati kebersamaan yang selama ini mungkin hanya tersimpan dalam cerita, tawa dan membicarakan kenangan masa lalu.
 
Kali ini, kami memilih Trek 11 Sukawana, salah satu jalur pendakian di kawasan Gunung Tangkuban Parahu. Jalurnya cukup lengkap: ada trek landai, tanjakan, jalur berakar yang licin, rintangan pohon, hingga beberapa tanjakan yang cukup menguras tenaga.

Sebagai bonusnya, perjalanan ini membawa kami menuju dua Puncak Panyawangan dan Upas Hill keduanya berada dalam satu kawasan Gunung Tangkuban Parahu.

Dua puncak dalam satu perjalanan.

Perjalanan kali ini kami jalani bersama kawan-kawan Ex Broadcast Fikom Unpad ’98:
 
Prof. @d45runhidayat, @agus.agez @hasan_sapari dan hanya minus satu kawan si garut mandja @raykasep.
 
Awalnya, ada sekitar enam sampai delapan orang yang kami targetkan untuk ikut mendaki. Tetapi seperti biasa, teori dan realita kadang memiliki jalurnya masing-masing, pada akhirnya, hanya kami berempat yang benar-benar bisa menemukan satu titik temu diwaktu yang sama, tempat yang sama, dan tentunya frekuensi yang sama.

Let's the Journey Begin, Perjalan Pagi Menuju Sukawana

Kami mengawali perjalanan dari rumah salah satu sahabat lama Dasrun Hidayat. Seorang sahabat yang perjalanan hidupnya telah membawa dirinya cukup jauh di dunia akademik, hingga mencapai gelar profesor sebagai seorang pendidik.
 
Namun di balik pencapaian tersebut, bagi kami ia tetaplah Dasrun yang dulu, sahabat lama yang tidak banyak berubah. Tetap hangat, tetap ceria, dan tetap mudah diajak tertawa. Mungkin itulah salah satu hal menarik dari persahabatan.
 
Waktu boleh berjalan jauh, kehidupan boleh membawa kita ke tempat yang berbeda, tetapi ketika kembali berkumpul, rasanya seperti tidak pernah ada jarak yang benar-benar memisahkan.
 
Kami berangkat menggunakan kendaraan mobil sekitar pukul 06.30 pagi, dan kurang lebih satu jam perjalanan, sekitar pukul 07.30, kami tiba di lokasi pendakian Trek 11 Sukawana.
 
Sesampainya di basecamp, kami tidak langsung berangkat, karena persiapan tetap menjadi bagian penting dari pendakian. Kami melakukan pengecekan logistik dan perlengkapan yang akan digunakan. Memang kali ini perlengkapan yang kami bawa tidak sebanyak ketika melakukan pendakian dengan komunitas yang sudah terbiasa naik gunung, maklum saja, karena diantara kami, mayoritas memang baru kembali memulai aktivitas pendakian.


Dan karena kembali dipercaya menjadi leader, saya mulai menyusun formasi pendakian. saya susun bukan berdasarkan siapa yang paling kuat, tetapi lebih kepada perkiraan kemampuan dan pengalaman masing-masing.

Kebetulan, Ages sudah pernah diajak mendaki Trek 11 sebelumnya. Karena itu, saya meminta Ages berada di posisi paling depan untuk membuka sekaligus membaca jalur.
 
Formasinya kemudian menjadi:
Ages — leader jalur/front
Prof. Dasrun — posisi kedua
Hasan — posisi ketiga
Saya — sweeper
 
Posisi terakhir ini sebenarnya sudah menjadi kebiasaan saya dalam beberapa perjalanan sebelumnya. Berjalan paling belakang bukan berarti paling tertinggal, justru dari belakang kita bisa memastikan tidak ada satu pun kawan yang tertinggal sendirian. Karena bagi hiking remako puncak bukan satu-satunya tujuan, yang paling penting adalah bagaimana kita bisa berangkat bersama dan kembali bersama.


Menikmati Lengkapnya Trek 11

Trek 11 benar-benar memberikan paket yang cukup lengkap, ada jalan yang relatif landai, tanjakan sedang, akar-akar pohon yang membuat jalur menjadi licin, pohon tumbang yang menjadi halang rintang, hingga beberapa tanjakan yang cukup menguras tenaga.
 
Tetapi justru di situlah keseruannya. adaptasi beberapa orang terlihat lambat dan ada  yang lumayan cepat, Wajah mulai terlihat lelah tidak bisa dibohongi....
 
Napas mulai berat, kaki mulai meminta jeda, namun anehnya, tawa tetap muncul di sepanjang perjalanan, ada saja bahan untuk bercanda dan ada saja cerita lama yang membuat kami berhenti bukan karena kehabisan tenaga, tetapi karena terlalu asyik ngobrol. Dan mungkin inilah yang membuat perjalanan yang melelahkan akan terasa lebih ringan, ketika langkah dijalani bersama orang-orang yang tepat, lelah pun terasa seperti bagian dari cerita.

Puncak Panyawangan — 10.15 WIB

Sekitar pukul 10.15, kami akhirnya tiba di Puncak Panyawangan, setelah beberapa waktu berjalan, tentu saja kami membutuhkan istirahat, kami mencari tempat yang nyaman, kemudian membuka perbekalan, dan seperti sudah menjadi kesepakatan tidak tertulis… Pop Mie menjadi salah satu makanan favorit kami, ditambah berbagai cemilan favorit masing-masing, teh dan kopi yang terasa begitu menyegarkan setelah perjalanan.
 
Tidak ada menu mahal, hanya makanan sederhana, udara pegunungan, pemandangan, dan obrolan yang sesekali diselingi tawa, tetapi justru dalam kesederhanaan seperti itulah kebersamaan terasa begitu mahal.
 
Kami menikmati suasana sampai sekitar pukul 11.00, sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju tujuan berikutnya.


Upas Hill — Puncak Kedua

Sekitar pukul 11.30, kami tiba di Upas Hill, dan seperti biasa…pemandangannya langsung membuat rasa lelah sedikit terlupakan. Bentang alam kawasan Gunung Tangkuban Parahu terlihat begitu spektakuler.
 
Kami kembali bersantai menikmati udara, mengambil beberapa foto, dan tentu saja tidak melewatkan kesempatan untuk membeli minuman di warung sekitar Upas Hill.
 
Di sinilah muncul salah satu cerita kecil yang mungkin justru akan paling lama kami ingat, kami bertemu dengan seorang turis dari Eropa, tepatnya dari Prancis., dan saya sempat ngobrol menggunakan bahasa Inggris, namun yang menarik perhatian bukan hanya percakapannya, tapi sang turis terlihat begitu menikmati gorengan sambil terus ngobrol.
 
Dan ternyata…dia sangat menyukai “fried tofu with mixed vegetables inside” alias TAHU ISI! dan dalam bahasa Sunda its called GEHU, GAYS!
 
Entah kenapa, percakapan sederhana dengan seorang turis asing tentang gehu di atas gunung justru menjadi salah satu momen paling random sekaligus menyenangkan dalam perjalanan ini.

Saat Lutut Mulai Berbicara

Setelah perut kenyang dan cukup menikmati suasana, sekitar pukul 12.30 kami memutuskan untuk turun kembali menuju basecamp.

Nah…, kalau naik tadi yang banyak bekerja adalah napas dan paha, saat turun ternyata lutut mulai mengambil alih cerita, karena beberapa kawan mulai merasakan lutut bergetar dan ngilu. Maklum, sebagian dari kami memang sudah cukup lama tidak melakukan aktivitas pendakian secara rutin.
 
Beberapa kali kami harus berhenti dan saya kemudian membantu melakukan stretching sederhana dan memberikan penanganan seperlunya untuk mengurangi rasa linu pada kaki.
 
Diperjalanan seperti ini, kita kembali diingatkan bahwa tubuh punya batas, jangan pernah memaksakan diri hanya karena ingin terlihat kuat, mendaki bukan tentang siapa yang paling cepat sampai dan bukan pula tentang siapa yang paling kuat. Tetapi tentang bagaimana kita bisa mengenali kemampuan tubuh sendiri dan tetap menjaga keselamatan seluruh anggota perjalanan.

Kembali dengan Selamat, dan Perjalanan akhirnya selesai. 

Sekitar pukul 14.30, kami tiba kembali di basecamp Trek 11 Sukawana dengan bahagia dan gembira, tentu saja kami lelah tetapi rasa bahagia dan puas mengalahkannya, karena dalam satu pendakian dua puncak yaitu Puncak panyawangan dan Upas Hill berhasil kami lewati.
 
Namun kalau boleh jujur, bukan kedua puncak itulah yang paling berkesan dari perjalanan ini, yang paling berkesan justru adalah kebersamaannya. ini tentang empat orang sahabat lama yang akhirnya kembali berjalan bersama setelah sekian lama hanya menjadi wacana.
 
Tentang tawa yang muncul di tengah napas yang mulai berat, tentang cerita-cerita lama yang kembali muncul, tentang masa-masa kuliah di Jatinangor yang tiba-tiba terasa begitu dekat, dan tentu saja, tentang bagaimana kami sesekali menertawakan diri sendiri ketika mengingat masa lalu.

Perjalanan Bukan Hanya Tentang Puncak

Pada akhirnya, ada perjalanan yang membawa kita kembali kepada orang-orang yang pernah menjadi bagian dari cerita hidup kita. Mungkin usia membuat langkah kita tidak lagi secepat dulu, Mungkin lutut sudah mulai memberi tanda, mungkin napas tidak lagi panjang.
 
Tetapi selama masih ada kesempatan untuk berjalan, tertawa, menikmati kopi, berbagi cerita, dan pulang bersama…bukankah itu sudah cukup menjadi alasan untuk terus melangkah?
 
Karena pada akhirnya, yang kita bawa pulang dari sebuah pendakian bukan hanya foto di puncak. Tetapi sebuah cerita kebersamaan dan kenangan yang suatu hari nanti akan kembali kita ceritakan sambil tersenyum.



Well, not much story to tell… we're just enjoying the journey!

Dan untuk perjalanan kali ini,
Broadcast Fikom Unpad ’98 memang HADE!!!

Hiking Remako
Peace, Coffee and Good Vibes.
Keep Hiking. Keep on Moving. Keep Sharing.

Comments

  1. Halagh, jadi kabita sama Gehu, gays!
    Btw, seru pisan perjalananya dan bonusnya..
    Kebersamannya sampe ke sini, moga langgeng persahabatan kaleyan!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pendakian Gunung Manglayang: Pengalaman yang sangat berharga

Perjalanan Pertama Hiking Remako : Tektok Gunung Papandayan

EIGER Women Flagship Store Hadir di Bandung