Tektok Gunung Guntur Via Cikahuripan

Pesona Gunung Guntur yang Berpasir: Serunya Tektok Via Cikahuripan Menembus Kegelapan



Catatan perjalanan Hiking Remako tujuh remaja kolot, satu petualangan, dan cerita seru di balik tanjakan berpasir Gunung Guntur. 

Perjalanan Dimulai dari Rumah

Minggu, 2 Agustus 2026. Hari yang mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang, tetapi menjadi awal petualangan bagi kami, Hiking Remako.

Perjalanan menuju Gunung Guntur via Cikahuripan dimulai dari rumah pukul 02.00. Kami berangkat menggunakan satu mobil dengan jumlah 7 orang. Tujuan kami adalah menikmati perjalanan tektok, merasakan alam, dan tentunya mencari pengalaman baru yang bisa diceritakan kembali.

Perjalanan membawa kami menuju sebuah homestay. Setelah sampai dan turun dari mobil, kami tidak membuang banyak waktu. Persiapan dilanjutkan untuk menuju basecamp dengan menggunakan ojek. Lumayan, untuk menghemat energi. 

Jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari.

Di saat sebagian orang masih terlelap dalam mimpi, kami justru bersiap menembus dinginnya subuh. Tujuh orang, tujuh motor ojek, dan satu tujuan: basecamp Gunung Guntur. Tidak pernah kami bayangkan bahwa perjalanan menuju basecamp saja sudah bisa menghadirkan keseruan tersendiri.

Serunya Naik Ojek Subuh-Subuh

Tepat pukul 03.00, ojek mulai bergerak meninggalkan homestay. Suasana masih gelap. Udara dingin menyelimuti perjalanan, sementara lampu motor menjadi penerang di tengah kegelapan. Sungguh, ini bukan sekadar perjalanan menggunakan ojek menuju basecamp. Rasanya seperti offroad subuh-subuh!

Jalanan yang kami lewati membawa pengalaman yang berbeda. Menembus kegelapan, melewati perkampungan, kebun, dan ladang. Jalanan kecil dengan medan naik turun membuat perjalanan terasa semakin seru.

Sesekali, sensasi medan yang dilalui membuat perjalanan terasa seperti sedang menjelajah jalur offroad. Motor bergerak mengikuti kondisi jalan, sementara kami menikmati setiap kejutan yang muncul di sepanjang perjalanan.

Dingin? Jelas! Gelap? Sudah pasti! Seru? SERUUU!! 

Ada kenikmatan tersendiri ketika melakukan perjalanan seperti ini. Di tengah udara dingin dan suasana dinihari yang sunyi, muncul perasaan bahwa kami sedang memulai sebuah petualangan yang tidak biasa. Perjalanan menuju basecamp menjadi pembuka yang sempurna sebelum kaki benar-benar menginjak jalur pendakian Gunung Guntur.


Via Cikahuripan: Menapaki Awal Petualangan

Setelah perjalanan ojek yang penuh sensasi, akhirnya menuju basecamp untuk memulai pendakian. Jalur Cikahuripan menjadi pintu masuk perjalanan kami hari itu. Dari sini, petualangan tektok Gunung Guntur mulai memasuki tahap berikutnya.

Datang dengan semangat masing-masing. Ada yang sudah tidak sabar untuk melihat pemandangan, ada yang fokus menjaga tenaga, dan mungkin ada juga yang mulai berpikir, "Sejauh mana tanjakannya nanti?" Ada yang mendadak  kembali lapar dan tergoda oleh suguhan Nasi Kuning di BC, satu piring ramai-ramai, biar mesra. 

Namanya juga Hiking Remako. Kami adalah para remaja kolot yang ingin menikmati alam dengan cara kami sendiri. Tidak harus selalu terburu-buru. Tidak perlu membuktikan siapa yang paling kuat. Yang penting, perjalanan bisa dinikmati dan kebersamaan tetap terjaga. Namun, Gunung Guntur tentu memiliki tantangannya sendiri.



Beranjak dari basecamp, melintasi jalan setapak dan pemandangan didominasi oleh ladang sayuran milik warga sekitar, menuju pos 1. Sejenak istirahat, melakukan shalat subuh sambil ditemani fajar yang menyingsing.

Pesona Gunung Guntur yang Berpasir

Gunung Guntur dikenal dengan lanskap vulkanik dan jalur terbuka yang memberikan tantangan tersendiri bagi pendaki. Salah satu karakter medan yang menarik perhatian adalah jalur pasir dan bebatuannya.

Di medan seperti ini, langkah tidak bisa sembarangan. Pasir yang mudah bergeser membuat pijakan terasa kurang stabil. Setiap langkah membutuhkan keseimbangan, kesabaran, dan pengaturan tenaga.Bagi kami yang menjalani tektok, medan tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang ingin dirasakan.

Tanjakan demi tanjakan mulai menguji napas. Kaki bekerja lebih keras, sementara pandangan sesekali tertuju ke jalur yang masih harus dilalui. Ada saatnya kami berhenti sejenak. Mengatur napas, minum, lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Sebab, mendaki bukan hanya tentang seberapa cepat kita sampai. Ada proses yang perlu dinikmati, ada batas kemampuan yang perlu dihargai, dan ada teman-teman yang membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan.

Tujuh Orang, Tujuh Cerita, Satu Perjalanan

Dalam sebuah perjalanan, jumlah orang bukan sekadar angka. Tujuh orang berarti tujuh karakter, tujuh cara menikmati alam, dan mungkin tujuh cerita lucu yang muncul sepanjang perjalanan.

Bagi Hiking Remako, kebersamaan menjadi salah satu alasan utama mengapa kami terus ingin menjelajah. Kami bisa tertawa karena hal-hal sederhana, saling menunggu ketika ada yang lelah, dan berbagi pengalaman ketika menemukan pemandangan yang indah.

Perjalanan tektok juga mengajarkan kami untuk menghargai waktu dan tenaga. Dalam satu hari, ingin menikmati perjalanan sebaik mungkin tanpa melupakan keselamatan dan kondisi tubuh.

Kami tidak datang hanya untuk mengejar puncak. Datang untuk merasakan udara gunung, menikmati jalur yang menantang, dan membawa pulang kenangan yang tidak mudah dilupakan. Itulah cara kami menikmati petualangan sebagai remaja kolot yang suka dengan alam.


Dari Kegelapan Menuju Keindahan Alam


Ada hal menarik dari perjalanan yang dimulai pukul tiga dini hari. Memulainya dalam kegelapan, melewati jalanan kecil, perkampungan, kebun, dan ladang. Kemudian, perlahan, perjalanan membawa mendekati alam Gunung Guntur.

Perubahan suasana tersebut menjadi bagian dari keindahan petualangan. Dari dinginnya subuh hingga tantangan jalur pendakian, setiap tahap memberikan pengalaman yang berbeda.Perjalanan mengingatkan kami bahwa keindahan tidak selalu langsung terlihat. Terkadang, kita harus melewati jalan yang gelap terlebih dahulu sebelum bisa menikmati pemandangan yang lebih luas.

Begitu pula dalam kehidupan. Ada proses yang melelahkan, ada perjalanan yang tidak mudah, tetapi selalu ada pengalaman yang bisa dipetik dari setiap langkah.

Apa yang Menarik dari Gunung Guntur, Garut?

Gunung Guntur di Garut, Jawa Barat, memiliki daya tarik tersendiri bagi para pendaki. Bukan hanya karena puncaknya, tetapi juga karena jalur yang menantang, lanskap savana, dan panorama pegunungan yang indah. Berikut beberapa hal yang menarik untuk dibahas:

1. Tanjakan Terjal dan Jalur Berpasir

Gunung Guntur dikenal dengan medan pendakian yang curam, berbatu, dan berpasir. Beberapa bagian jalurnya memiliki pasir lepas sehingga langkah terasa berat dan mudah merosot. Tantangan inilah yang membuat perjalanan menuju puncak menjadi pengalaman yang menguji fisik sekaligus mental

2. Padang Savana yang Eksotis

Salah satu ciri khas Gunung Guntur adalah bentang alam terbuka yang didominasi rumput dan ilalang. Berbeda dengan gunung yang memiliki hutan lebat, beberapa bagian Guntur menghadirkan pemandangan yang lebih terbuka dengan vegetasi yang relatif jarang.



3. Menikmati Sunrise dari Puncak

Menikmati matahari terbit dari Gunung Guntur menjadi salah satu alasan pendaki melakukan perjalanan sejak dini hari. Saat cuaca cerah, pendaki dapat menikmati perubahan warna langit serta panorama pegunungan di sekitar Garut, termasuk Gunung Cikuray dan Papandayan. Savana ini menjadi tempat menarik untuk berfoto dan menikmati suasana alam.

4. Panorama Kota Garut dan Pegunungan

Dari kawasan puncak, Gunung Guntur menawarkan pemandangan luas ke arah dataran Garut dan gunung-gunung di sekitarnya. Lanskap ini memberikan pengalaman berbeda antara perjalanan mendaki yang melelahkan dan pemandangan luas yang terbuka di atas

5. Memiliki Karakter Gunung Api

Gunung Guntur merupakan gunung api dengan ketinggian sekitar 2.249 mdpl. Bentang alamnya dipengaruhi sejarah aktivitas vulkanik, termasuk keberadaan kaldera Pangkalan dan Gandapura.

6. Cocok untuk Cerita Kebersamaan Hiking Remako

Hiking Remako, daya tarik Gunung Guntur bukan hanya tentang sampai di puncak. Perjalanan bersama, menghadapi tanjakan, mengatur napas, menunggu teman, dan berbagi tawa bisa menjadi bagian paling berkesan



Perjalanan tektok Gunung Guntur via Cikahuripan pada 2 Agustus 2026 menjadi cerita yang diawali dengan perjalanan mobil dari rumah, dilanjutkan ojek pukul 03.00 dini hari, dan sensasi offroad menembus kegelapan.

Melewati perkampungan, kebun, dan ladang dalam udara subuh yang dingin memberikan kesan tersendiri. Belum sampai memulai pendakian pun, kami sudah mendapatkan pengalaman seru yang layak diceritakan.

Dan itulah salah satu hal yang kami sukai dari hiking. Petualangan tidak selalu dimulai ketika kaki menginjak jalur gunung. Terkadang, cerita terbaik justru dimulai dari perjalanan menuju ke sana.

Gunung Guntur dengan pasir, tanjakan, dan panoramanya menjadi bagian dari perjalanan kami. Namun, kenangan tentang kebersamaan, tawa, dan keseruan perjalanan dini hari akan selalu memiliki tempat tersendiri.

Kami adalah Hiking Remako. Remaja kolot yang suka dengan alam, terus berjalan, terus tertawa, dan terus mencari cerita di setiap perjalanan.

"Tidak semua perjalanan harus mudah untuk menjadi berharga. Terkadang, jalan yang gelap dan dingin justru menjadi awal dari petualangan yang paling berkesan."

Comments

Popular posts from this blog

Pendakian Gunung Manglayang: Pengalaman yang sangat berharga

Perjalanan Pertama Hiking Remako : Tektok Gunung Papandayan

EIGER Women Flagship Store Hadir di Bandung