Perempuan dan Gunung: Mengapa Selalu Kembali?
Perempuan dan Gunung: Mengapa Selalu Kembali?
Ada hal-hal yang tidak bisa kita tinggalkan di rumah.
Malam itu, tahu membawa terlalu banyak barang di dalam carrier. Jaket, air minum, makanan, perlengkapan pribadi, dan segala sesuatu yang mungkin dibutuhkan untuk sebuah perjalanan tektok ke Gunung Cikuray. Tetapi ada satu hal yang tidak masuk daftar perlengkapan pendakian.
"Pikiran yang terlalu berisik."
Pukul 01.00 dini hari, udara Garut menggigit. Dingin merayap dari ujung jari, masuk ke balik jaket, lalu perlahan menetap di tubuh. Berdiri bersama teman-teman yang sudah bersiap. Headlamp menyala. Satu per satu kami memastikan perlengkapan.
Ada yang bercanda. Ada yang tertawa. Ada yang masih terlihat mengantuk. Ikut tertawa. Seolah tidak ada apa-apa. Padahal di dalam diri , ada sesuatu yang sedang di bawa naik. Sebuah rasa kehilangan yang belum benar-benar selesai.
Bukan karena sendirian. Justru sebaliknya. Dikelilingi teman-teman yang menemani perjalanan ini. Ada suara mereka, ada candaan, ada percakapan yang sesekali membuat saya tertawa. Namun ternyata, ada jenis kehilangan yang tidak hilang hanya karena kita sedang berada di tengah banyak orang.
Maka dini hari itu, berangkat ke Cikuray. Bukan untuk melupakan. Mungkin justru untuk silent hiking, mendengarkan tubuh sendiri
Kota Mengajarkan Kita Berlari
Tinggal di dunia yang serba cepat. Bangun pagi, mengejar waktu, bekerja, membalas pesan, menyelesaikan pekerjaan, memikirkan besok, lalu tiba-tiba hari sudah malam. Besok diulang lagi. Kita hidup dalam ritme yang hampir tidak memberi kesempatan untuk berhenti.
Di kota, kita belajar berlari bahkan ketika sebenarnya tidak tahu sedang mengejar apa. Kita terbiasa mengatakan "sebentar" kepada diri sendiri. Nanti saja istirahatnya. Nanti saja menangisnya. Nanti saja memikirkan itu. Nanti saja.
Sampai suatu hari kita lupa kapan terakhir kali benar-benar duduk diam dan bertanya kepada diri sendiri:
"Sebenarnya aku sedang apa?"
Mungkin itu salah satu alasan saya suka pergi ke alam. Di gunung, semuanya melambat. Tidak ada kemacetan. Tidak ada notifikasi yang harus segera dijawab. Tidak ada meja kerja. Tidak ada rapat. Tidak ada tuntutan untuk terlihat baik-baik saja. Yang ada hanya jalur di depan mata. Dan kaki yang harus membawanya melewati satu demi satu langkah.
Cikuray, Dini Hari, dan Napas yang Berantakan
Kami mulai berjalan. Gelap masih menjadi warna utama malam itu. Cahaya headlamp membentuk lingkaran kecil di tanah. Di luar lingkaran itu, semuanya seperti hilang. Yang terlihat hanya beberapa meter di depan.
Mungkin hidup juga seperti itu. Kita sering ingin mengetahui seluruh jalan, padahal yang diberikan hanya cukup untuk melihat beberapa langkah ke depan. Langkah pertama, kemudian langkah berikutnya. Jalur mulai menanjak, mencoba mengatur ritme. Kaki bergerak. Napas mengikuti. Setidaknya itu teorinya.
Kenyataannya, napas saya masih berantakan. Tarik. Buang. Tarik lagi. Tidak sinkron dengan langkah., mulai memperlambat kaki. Napas tetap kacau, berhenti sebentar. Minum, mengatur napas, kemudian berjalan lagi. Beberapa meter kemudian, masalah yang sama datang. Hampir tertawa sendiri, Lucu juga, ya!
Sering merasa mampu mengatur begitu banyak hal dalam hidup, sementara mengatur napas sendiri ternyata belum tentu bisa. Mungkin tubuh sedang mengajarkan sesuatu yang selama ini tidak dipahami tidak semua hal harus dikendalikan. Ada hal-hal yang cukup dijalani.
Teman-Teman Ada, Tetapi Ada yang Tetap Hilang
Perjalanan bersama teman-teman sebenarnya menyenangkan. Ada candaan yang muncul di tengah jalan. Ada tawa yang pecah karena hal sederhana. Ada yang saling menunggu. Ada yang bertanya apakah yang lain masih kuat. Ada yang mengingatkan untuk minum. Ada rasa hangat yang muncul justru ketika tubuh sedang berada dalam dingin.
Tetapi di antara semua suara itu, lebih sering mendengar suara dari dalam kepala sendiri. Mungkin karena ketika tubuh bergerak dalam kesunyian, pikiran menjadi lebih mudah terdengar. Dan pikiran sedang tidak ramah. Ia mulai membuat skenario. Tentang hal-hal yang belum tentu terjadi. Tentang percakapan yang tidak pernah terjadi. Tentang kemungkinan yang tidak perlu dipikirkan.
Tentang masa lalu, masa depan. Tentang seseorang yang sudah tidak lagi ada di tempat yang sama. Tentang kehilangan. Satu persoalan muncul. Kemudian persoalan lain ikut datang. Seperti orang-orang yang tidak diundang tetapi tiba-tiba memenuhi ruang tamu. Ingin mengusir semuanya.
Tetapi semakin mencoba tidak memikirkan sesuatu, semakin ia muncul. Jadi smencoba cara lain. Biarkan. Biarkan pikiran itu datang. Biarkan ia berbicara. Biarkan ia selesai sendiri. Tidak harus menjawab semuanya malam itu.
Menjelang Datang Bulan
Ada satu hal lain yang membuat perjalanan ini terasa berbeda. Tubuh sedang memasuki fase menjelang datang bulan. Bagi perempuan, ada hari-hari ketika tubuh terasa sedikit lebih berat. Energi berubah. Emosi lebih sensitif. Hal-hal kecil terkadang terasa lebih besar dari biasanya.
Dan malam itu adalah salah satunya. Tetapi jadwal sudah dibuat. Perjalanan sudah disepakati. Teman-teman sudah berkumpul. Maka tetap berangkat. Bukan untuk membuktikan bahwa perempuan harus kuat dalam segala keadaan. Justru perjalanan itu membuat ssemakin memahami bahwa kekuatan tidak selalu berbentuk memaksa diri.
Kekuatan bisa berupa keberanian untuk mengenali batas. Berhenti ketika perlu. Minum ketika haus. Memperlambat langkah ketika tubuh meminta. Dan tidak merasa bersalah karena tidak bisa berjalan secepat orang lain. Di gunung, tidak ada gunanya berpura-pura. Tubuh akan selalu mengatakan yang sebenarnya.
Ingin Menyerah, Tetapi Bukan Karena Lelah
Ada satu titik ketika benar-benar ingin berhenti. Anehnya, kaki masih bisa melangkah. Tubuh masih mampu. Yang ingin menyerah justru kepala ini. Lelah, tapi bukan lelah mendaki. Lelah berdebat dengan diri sendiri.
Lelah membuat kemungkinan-kemungkinan. Lelah mengulang percakapan yang sudah lewat. Lelah bertanya tentang sesuatu yang mungkin memang tidak akan pernah memiliki jawaban. Kemudian berhenti. Menatap jalur di depan. Gelap, panjang.
Seperti beberapa persoalan hidup yang juga belum terlihat ujungnya. Untuk beberapa saat berpikir, mungkin memang tidak perlu mencari ujungnya. Mungkin hanya perlu berjalan. Satu langkah, kemudian satu langkah lagi. Tidak perlu tahu akan sampai di mana. Tidak perlu tahu bagaimana semuanya berakhir.
Karena bukankah sebagian besar hidup memang seperti itu? Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang menunggu di tikungan berikutnya. Kita hanya bisa memilih untuk terus berjalan.
Satu Langkah, Satu Napas
Mulai berjalan lagi. Lebih pelan. Kali ini tidak mencoba menyamai langkah siapa pun. Menemukan ritme sendiri. Satu langkah. Tarik napas. Satu langkah. Buang napas. Berhenti. Lalu berjalan lagi. Perlahan saya mulai menyadari sesuatu. Selama ini terlalu sibuk mencari cara untuk sampai.
Padahal tubuh hanya mengenal satu cara melangkah sedikit demi sedikit. Mungkin hidup juga demikian. Kita ingin semuanya segera selesai. Ingin tahu kapan rasa sakit akan hilang. Kapan kehilangan tidak lagi terasa. Kapan persoalan menemukan jawaban.
Kapan keadaan menjadi lebih baik. Tetapi mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan "kapan semuanya selesai?" Melainkan:
"Hari ini, masih bisakah saya melangkah?"
Jika jawabannya iya, mungkin itu sudah cukup.
Fajar Tidak Memberikan Jawaban
Menjelang pagi, gelap perlahan kehilangan kekuasaannya. Mula-mula hanya ada sedikit perubahan warna di langit. Lalu garis-garis pegunungan mulai terlihat. Kabut tipis menggantung. Dari tempat kami berdiri, dunia terlihat berbeda. Lampu-lampu kota tampak kecil. Jalan yang selama ini kita anggap besar ternyata hanya garis tipis dari kejauhan. Dan saya merasa sangat kecil.
Anehnya, untuk pertama kalinya malam itu, perasaan kecil itu justru membuat tenang. Tidak harus menjadi besar di hadapan semuanya. Tidak harus menyelesaikan semuanya. Tidak harus memahami semuanya.
Hanya seorang perempuan yang sedang berdiri di sebuah kaki gunung, tepatnya Pos 3 kemudian duduk, menatap kabut. Berganti dengan lautan awan yang indah. Dengan tubuh yang lelah, napas yang masih sesekali berantakan, dan hati yang membawa sesuatu yang belum selesai.
Dan ternyata itu tidak apa-apa. Matahari mulai muncul, malu-malu.Cahaya perlahan menyentuh puncak-puncak di kejauhan, menghilang diantara lautan awan. Memandangnya cukup lama. Tidak ada jawaban turun dari langit. Tidak ada keajaiban. Tidak ada persoalan yang tiba-tiba selesai. Tetapi ada sesuatu yang berubah.
"Saya tidak lagi menuntut semuanya untuk selesai hari itu."
Gunung Bukan Tempat untuk Melarikan Diri
Dulu berpikir bahwa orang pergi ke gunung untuk mencari ketenangan. Sekarang tidak yakin. Gunung tidak selalu tenang. Ada tanjakan yang membuat napas tersengal. Ada dingin yang menusuk. Ada rasa takut. Ada lelah. Ada pikiran yang justru semakin ramai.
Tetapi gunung memberi kita sesuatu yang sulit ditemukan di kota, yaitu ruang untuk mendengar. Mendengar angin. Mendengar langkah kaki. Mendengar napas. Dan akhirnya, mendengar diri sendiri.
Gunung tidak menyembuhkan semua luka. Ia tidak menghapus kehilangan. Ia tidak menyelesaikan persoalan hidup. Ia hanya memberi jarak. Dan dari jarak itu, terkadang kita bisa melihat sesuatu dengan lebih jernih. Bahwa tidak semua kehilangan harus segera digantikan.
Bahwa tidak semua pertanyaan harus memiliki jawaban. Bahwa tidak semua perjalanan harus dilakukan dengan cepat. Dan bahwa kita tidak harus selalu terlihat kuat.
Mengapa Selalu Kembali?
Setelah perjalanan selesai, kami akan kembali ke kota. Carrier diturunkan. Sepatu dibersihkan. Pakaian dicuci. Tubuh meminta istirahat. Lalu kehidupan kembali seperti biasa. Pesan masuk. Pekerjaan menunggu. Rutinitas berjalan.
Dan mungkin, kepala akan kembali berisik. Mungkin kehilangan itu masih ada. Mungkin beberapa pertanyaan tetap tidak terjawab. Tetapi sekarang punya sebuah ingatan: tentang malam yang dingin di Cikuray, jalur yang gelap, teman-teman yang berjalan bersama, napas yang berantakan, pikiran yang tidak mau diam, keinginan untuk menyerah, dan tentang keputusan kecil untuk tetap melangkah.
Belajar bahwa kita tidak selalu membutuhkan jawaban untuk melanjutkan perjalanan. Kadang kita hanya membutuhkan keberanian untuk mengambil satu langkah berikutnya. Mungkin itulah mengapa perempuan selalu kembali ke gunung.
Bukan karena ingin menaklukkan puncak. Bukan karena kami ingin membuktikan bahwa lebih kuat daripada siapa pun. Ya, kembali karena di sana bisa melepaskan sejenak semua peran yang melekat pada diri. Tidak perlu menjadi siapa-siapa. Tidak perlu memenuhi ekspektasi siapa-siapa. Cukup menjadi manusia yang sedang berjalan.
Yang boleh lelah, boleh takut, boleh kehilangan, boleh berhenti, boleh menangis. Dan kemudian, ketika sudah siap, berjalan lagi. Sebab ternyata, pulang dari gunung bukan berarti semua persoalan tertinggal di sana.
Kita tetap membawanya pulang. Tetapi mungkin kita pulang dengan cara pandang yang sedikit berbeda. Lebih pelan. Lebih sadar. Lebih menerima. Dan mungkin, sedikit lebih berdamai.
Jadi jika suatu hari nanti kembali memasang carrier di punggung, mengencangkan tali sepatu, menyalakan headlamp, dan berdiri lagi di bawah langit dini hari, tahu satu hal:
"Saya tidak sedang pergi untuk melarikan diri dari hidup."
Tapi, sedang memberi diri kesempatan untuk berhenti sejenak dari kebisingannya. Untuk mendengar suara yang paling sering abaikan. Suara dari dalam diri sendiri. Dan mungkin, selama hidup masih membuat saya kehilangan arah, akan terus mencari jalur pendakian.
Bukan untuk menemukan puncak. Tetapi untuk menemukan jalan pulang.
Bukan pulang ke rumah. Melainkan pulang kepada diri sendiri.

Comments
Post a Comment