Cikuray, Pendakian yang penuh dinamika


CIKURAY, ATAP GARUT YANG GAGAH

Jumat sore saya tiba di Garut, bertemu kembali dengan kawan lama sejak zaman kuliah namanya Panji si garut manja manusia milenium. Rencana kami sederhana saja yaitu sabtu pagi kita akan tektok Gunung Cikuray via Tapak Gerot. 😊

Sebenarnya, pendakian ke Cikuray ini bukanlah rencana yang baru. Sebelumnya, kami sudah beberapa kali merencanakannya, tetapi selalu saja tertunda. Bahkan, sempat pula jalur pendakian ditutup untuk perbaikan. Setelah beberapa kali gagal menyatukan rencana dan waktu, akhirnya kali ini jadwal kami benar-benar klop. Kesempatan pun datang, dan akhirnya kami bisa kembali menapaki Cikuray bersama.

Sore itu kami mulai mempersiapkan segala kebutuhan pendakian. Logistik disiapkan, equipment dicek satu per satu, dan barang bawaan dibagi agar perjalanan lebih ringan. Di sela-sela persiapan itu, tentu saja obrolan kami tidak lepas dari nostalgia—mengenang kembali cerita-cerita masa kuliah yang sudah lama berlalu.

Malam harinya, seperti dua kawan lama yang kembali dipertemukan setelah sekian lama, kami keluar mencari makan sekaligus menikmati suasana Kota Garut.

Kami sepakat untuk berangkat sedini mungkin. Targetnya sederhana: bisa mencapai puncak Cikuray secepatnya. Rencananya, pendakian dimulai pukul 03.00 dini hari dan kami menargetkan salat Subuh di Pos 2.

Tapi namanya juga rencana pendakian… kadang apa yang sudah disusun rapi di malam hari, bisa berubah ketika kaki mulai melangkah. Dan benar saja, perjalanan kali ini ternyata menyimpan cukup banyak dinamika.

Dan di sinilah awal mula drama Cikuray dimulai. 😂

Kami mampir ke sebuah rumah makan viral bagi para ABG sebuah tempat makan mie yang kebetulan baru buka, (namanya saya rahasiakan saja) 😊😎dan kebetulan keponakan si panji pun bekerja disana.

Singkat cerita Saya memesan mie goreng, lalu pelayan bertanya, "Mau level berapa, Kak?"

Dengan polos saya menjawab, "Level 2 saja."
karena dalam pikiran saya, level 2 berarti masih aman. Ternyata..., SAYA SALAH BESAR!! 😂🌶️ karena memang saya tidak pernah jajan atau makan makanan ini sebelumnya...

Bagi orang yang memang tidak terlalu suka makanan pedas seperti saya, level 2 malam itu ternyata sudah terasa seperti ujian hidup, karena benar saja setelah makan perut pun mulai terasa tidak nyaman.

Kami masih sempat mampir ngopi, ngobrol panjang tentang rencana pendakian sambil melepas rindu sebagai kawan lama. Setelah itu belanja logistik dan pulang untuk beristirahat.

Tetapi ternyata... 

Perut saya punya agenda sendiri, dan diare menyerang sampai malam itu tiga kali bolak-balik kamar mandi,

Malam pun semakin larut, tetapi ngantuk dan tidur tidak kunjung datang. Akhirnya sekitar jam satu malam saya berkata kepada Panji,

"Sudah, kita berangkat saja ke basecamp."

dengan harapannya, saya bisa tidur sebentar di sana sambil menunggu simaksi dibuka, Ternyata...

KITA SALAH PERHITUNGAN LAGI. 😂

Basecamp Tapak Gerot saat itu justru sudah penuh sesak dengan pendaki yang hendak melakukan tektok, karena memang hari itu adalah hari pertama dibuka kembali setelah satu bulan mengalami penutupan akibat perbaikan jalur oleh pengelola tapak gerot.

Alih-alih bisa tidur, saya malah full begadang, dan perut pun masih belum bersahabat, mungkin Tiga atau empat kali kembali saya harus bolak-balik kamar kecil.


Sampai pada akhirnya Jam menunjukkan sekitar pukul 03.00, Registrasi SIMAKSI dimulai dan antrean simaksi pun sudah mengular sangat ramai dan panjang.. buset dah!!

Kami baru mendapatkan giliran registrasi sekitar pukul 04.30, dan karena Subuh tiba, kami melaksanakan shalat subuh terlebih dahulu, walaupun melenceng dari rencana awal yang ini berangkat jam 03.00 pagi, kami baru berangkat  sekitar pukul 05.00, dan perjalanan menuju Cikuray akhirnya dimulai.

PERTEMUAN YANG TIDAK DIRENCANAKAN


Saat menunggu simaksi, saya duduk bersebelahan dengan sekitar 7–8 anak muda lokal, mereka masih ABG dan hendak mendaki Cikuray, Karena masih di bawah umur pihak basecamp pun meminta kami untuk ikut mendampingi mereka selama pendakian.

Saya sanggupi, tetapi setelah melihat equipment dan logistik yang mereka bawa, saya sedikit khawatir, akhirnya saya tambahkan masing-masing satu mie instan dan satu botol air mineral 600 ml, tidak banyak tapi setidaknya ada tambahan bekal untuk perjalanan.

Saat itu saya belum tahu bahwa anak-anak ini nantinya justru akan menjadi salah satu bagian paling berkesan dari perjalanan Cikuray saya.

CIKURAY MULAI MEMBERI PELAJARAN

Sekitar satu jam berjalan, pukul 06.00 kami tiba di Pos 1, Perut kembali berulah untung saja masih tersedia kamar kecil disana walaupun alakadarnya sing penting bisa "stanby dulu".. 🤣 

Setelahnya saya beristirahat sekitar 15 menit, saat itu sebenarnya saya mulai menyadari dan sedikit khawatir dengan kondisi tubuh, karena Ini bukan kondisi ideal untuk tektok.

Can you imagine... Tidak tidur, diare sepanjang perjalanan, stamina sudah pasti terkuras, dan yang kita daki adalah Gunung Cikuray atapnya kota Garut, super skali...

Tetapi perjalanan tetap saya lanjutkan, Dari Pos 1 menuju Pos 2 terasa sangat berat, mungkin bagi beberapa orang yang sudah terlatih biasanya mungkin bisa lebih cepat sampai, tetapi kali ini hampir 1,5 jam, dan kami baru sampai Sekitar pukul 08.00 di Pos 2, karena pos ini pun adalah warung, Kami berhenti makan gorengan untuk mengisi tenaga.

Mungkin sekitar 10-15 menit setelah beristirahat itu kami melanjutkan perjalanan menuju pos 3, dan pada posisi sebelum tanjakan menuju pos 3 kami berhenti sejenak untuk mengatur nafas, tempat ini sangat nyaman untuk beristirahat, ada warung, makanan dan juga ada tempat duduk yang nyaman, serta yang paling penting tempat nya teduh...😊

Saat kami berdua beristirahat kami bertemu lagi dengan rombongan anak muda lainnya, mungkin dari komunitas pecinta alam kampus, ataupun sebuah kelompok baru open trip, tidak masalah apapun itu, karena yang paling penting bagi saya, mereka terlihat sangat bersemangat, dan kami pun sempat mengabadikan momen tersebut dengan berfoto bersama.

Lalu Ada seorang anak perempuan bernama Wira, yang meminta foto tersebut untuk dikirimkan kepadanya. Dan saya iyakan!!

Saat itu saya belum tahu bahwa pertemuan singkat tersebut akan menjadi salah satu potongan cerita dalam perjalanan Cikuray saya.


Anak-anak lokal yang mendampingi kami justru menjadi penyemangat, Mereka ceria, Bahkan di sini mereka menawarkan diri untuk membawa carrier saya. Karena mereka akan bergerak duluan menunggu di puncak.

Sebenarnya memisahkan diri seperti ini kurang bagus dan harus dihindari dalam setiap pendakian, tapi pertimbangan saya waktu itu mereka terlihat sangat fit, dan yang paling penting mereka adalah AKAMSI alias Anak Kampung Sini, dan mungkin mereka pun memperhatikan selama perjalanan bahwa saya terlihat berjalan sangat lambat dan tidak FIT, well apa boleh buat!! 

Singkat kata lalu Kami kemudian sepakat,

"Nanti ketemu di puncak, dan Kita makan bareng disana."

Deal!!!

Sederhana, tetapi entah kenapa, kalimat itu membuat saya kembali bersemangat untuk terus berjalan.

Pukul 09.30 sampai lah kami di Pos 3 dengan Langkah saya yang semakin lambat. Panji berkali-kali bertanya..

"Aman teu, masih kuat moal?"

Jawaban saya selalu sama, "Aman. Hayu lanjut."

Padahal mah tubuh sudah mulai berkata sebaliknya.

KETIKA TUBUH MULAI BERBICARA

Di antara Pos 3 dan Pos 4, saya melihat seorang perempuan dari rombongan yang sebelumnya kami temui sedang menangis karena kelelahan dan tidak ingin melanjutkan perjalanan, dan sedang dibujuk oleh kawan-kawannya agar tetap bersemangat untuk terus melanjutkan perjalanan.. 

Dalam hati saya sempat berpikir,

"Ternyata yang usianya jauh lebih muda saja bisa kepayahan juga di Cikuray." Hahaha😁

Entah kenapa, justru pemandangan itu kembali membangkitkan semangat saya. Saya terus berjalan, Walaupun beberapa kali mata mulai berkunang-kunang karena Kurang tidur, diare yang membuat stamina semakin terkuras.

Tetapi saya masih memaksakan diri, Pukul 10.30 kami sampai di Pos 4. Dan Panji millenium si garut manja kembali bertanya, "Masih kuat teu?"

Saya jawab tegas !! "Masih."

sampai di POS 5


Kami melanjutkan perjalanan, walaupun langkah saya sudah semakin berat, akhirnya Pukul 11.30 saya sampai juga di Pos 5.

Dan pada titik inilah saya harus jujur kepada diri sendiri bahwa hari ini stamina saya memang sudah habis.. tidak mungkin lagi melanjutkan perjalanan kepuncak.🥲

Saya berkata kepada panji "Ji sekarang saya sudah nggak kuat." dan Akhirnya saya memutuskan berhenti, bukan karena tidak ingin sampai puncak, tetapi karena tubuh sudah memberikan tanda yang terlalu jelas.

Saya hanya meminta Panji melanjutkan perjalanan untuk menemui anak-anak yang sebelumnya membawa carrier saya, dan saya yakin mereka semua sudah mencapai puncak, agar mereka segera balik kanan pulang kembali ke basecamp.

Sementara itu saya stay menunggu di pos 5 sambil mencari tempat untuk beristirahat, karena rasa kantuk ini sudah sangat tidak tertahankan, dan saya menemukan sedikit tempat di seberang pos 5 pinggir jalan jalur trekking pendakian yang terkena sinar matahari. Saya duduk dan tidak terasa mulai merebahkan diri, Lalu sekitar 30 menit kemudian saya tertidur pulas di jalur pendakian.

Untuk pertama kalinya hari itu saya tidak terlalu peduli siapa yang lewat, siapa yang menyapa, atau bagaimana keadaan sekitar. Saya hanya ingin tubuh saya beristirahat.

SEBUAH SIKAP YANG PATUT DIHARGAI

Ketika terbangun dan mendapati pos 5 kosong tanpa ada orang, mulai muncul perasaan panik, selain saya tidak membawa logistik sama sekali, juga jaket pun dibawa sama mereka.

Sebuah kondisi yang tidak saya duga sama sekali, plus karena si panji "lila pisan gays" tidak kunjung datang bersama anak-anak AKAMSI yang dia susul ke puncak.

Karena terlalu lama beristirahat suhu tubuh saya pun sudah kembali Normal dan mulai merasakan dinginnya dekapan udara cikuray yang mulai menusuk tubuh, sambil menunggu saya terus menggerakkan tubuh agar tidak terlalu kedinginan dan tetap mencari sumber cahaya matahari yang memasuki sela-sela pohon disekitar pos 5.

Pukul 13.30 si manusia millenium akhirnya kembali, dan kenapa mereka terlambat turun ternyata alasannya sederhana.

Sesampainya di puncak, anak-anak itu kelaparan tapi mereka tidak berani membuka carrier dan mengambil logistik tanpa ada saya. Akhirnya si manusia millenium memasak makanan dulu untuk mereka.

Menurut saya, ini sebuah sikap kecil tetapi sangat patut dihargai, Mereka sebenarnya bisa saja mengambil makanan karena sudah kelaparan, dan saya pun akan memaklumi nya, Tetapi mereka memilih menunggu. Padahal perjalanan menuju puncak Cikuray bukan perjalanan yang ringan. Dan yang saya tahu dengan bekal yang mereka bawa, hanya sepotong roti dan satu botol air mineral 600 ml mereka sebenarnya cukup nekat juga. 😂

Tetapi di tengah keterbatasan itu, mereka masih menunjukkan sikap menghargai apa yang bukan milik mereka. Sebuah pelajaran yang kadang justru kita temukan di perjalanan.

TIDAK SAMPAI PUNCAK

Kami akhirnya memutuskan turun. Tidak ada lagi target summit. Hanya satu saja yang ada dalam pikiran saya, bahwa saya dan kawan-kawan bisa kembali ke basecamp dengan selamat.

Kami turun melewati Pos 4 dan lalu masuk ke Pos 3, dan di Pos 3 camp area ini rasa lapar saya akhirnya tidak tertahankan. Saya memasak logistik yang tersisa lalu kita makan lagi bersama-sama, kemudian melaksanakan shalat. Lalu setelahnya Perjalanan pulang dilanjutkan.

Tiba dan beristirahat di Pos 2.

Kami tiba di pos 2 sekitar jam 17.30, lalu kami berhenti cukup lama disni, bukan hanya karena waktu Maghrib sudah semakin dekat, tetapi tubuh memang membutuhkan waktu untuk beristirahat. Tenaga yang terkuras sejak pagi harus dikembalikan sedikit demi sedikit sebelum kami melanjutkan perjalanan.

Di Pos 2, kami kembali bertemu dengan beberapa kawan anak muda yang sebelumnya kami temui menjelang Pos 3.

Dan you know what?

Mereka ternyata mengalami hal yang kurang lebih sama, tidak semuanya berhasil mencapai puncak. Ada yang hanya sanggup sampai Pos 5, seperti saya. Ada pula yang berhenti di Pos 6 karena kaki mulai kram dan kondisi fisik sudah benar-benar terkuras.

Saat itu saya kembali diingatkan bahwa gunung tidak pernah benar-benar bertanya siapa yang paling kuat. Setiap orang punya batasnya masing-masing.

Dan justru di Pos 2 inilah saya mendapatkan salah satu pengalaman paling berkesan dalam perjalanan Cikuray kali ini.

Saya bertemu seorang kakek-kakek dengan tubuh yang masih terlihat sangat tegap untuk se usianya. Sekilas penampilannya mengingatkan saya pada seorang veteran tentara. Usianya ternyata memang setelah berbicara usianya sudah 78 tahun, tetapi fisiknya masih sangat luar biasa. Dan beliau sedang mengantarkan cucunya naik Gunung Cikuray.

Yang membuat saya semakin kagum, beliau bercerita bahwa dari Pos 6 dirinya bahkan sudah dua kali bolak-balik menuju puncak, karena mengkhawatirkan cucunya yang masih berada di atas.

Usia 78 tahun naik sampai puncak, dan masih sempat bolak-balik memastikan cucunya aman. Luar biasa.

Belakangan saya baru tahu, ternyata beliau adalah seorang guru silat di kampung sekitar Gunung Cikuray. Lebih menarik lagi, anak-anak muda yang tadi kami temui dan sempat kami antar ternyata adalah murid-murid beliau.

Mereka sudah saling mengenal, dan saya hanya bisa tertawa kecil, sambilan bergumam dalam hati.. "What a small world" 

Gunung yang awalnya hanya mempertemukan kami sebagai sesama pendaki, ternyata mempertemukan kami dengan cerita yang jauh lebih luas. Spektakuler!! 

Setelah hampir satu jam beristirahat dan melaksanakan shalat Maghrib, sekitar pukul 18.30, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Hari sudah mulai gelap dan Headlamp mulai menjadi penerangan utama kami, dan kami yang berada dibawah pos 2 sepakat untuk turun bersama-sama. Selain lebih nyaman, perjalanan malam terasa lebih aman ketika dilakukan ramai-ramai.

Sepanjang perjalanan turun, saya banyak berbincang dengan si kakek, beliau bercerita panjang tentang dirinya, tentang masa mudanya, tentang kehidupan, dan berbagai hal yang pernah dilaluinya, tentang alam bagaimana kita menghargai gunung dll.

Walaupun sejujurnya, kondisi saya sudah sangat lelah. Konsentrasi mulai menurun. Tetapi saya tetap berusaha mendengarkan ceritanya.

Ada sesuatu yang membuat saya merasa nyaman mendengarkan orang tua bercerita, Mungkin karena di balik cerita mereka selalu ada perjalanan panjang yang tidak pernah kita jalani.

Di tengah obrolan itu, saya menyadari si kakek beberapa kali memperhatikan headlamp yang saya gunakan, kemudian beliau berkata ingin sekali memiliki lampu seperti itu.l, katanya biar kalau naik gunung tidak perlu lagi membawa senter jadul yang berat.

Saya pun spontan bertanya,

“Ki, aki hoyong lampu anu abdi ieu? Mun hoyong, ku abdi dipasihkeun ka aki.”

Kek, kakek mau lampu yang saya pakai ini? Kalau mau, nanti saya kasih buat kakek.

Beliau menjawab,

"Anu leres, Cep? Nya hoyong atuh...”

Yang benar, Nak? Ya pasti mau... katanya sambil tertawa.

Hahaha...

Deal, dan headlamp itu akhirnya saya berikan kepada beliau, bukan karena harganya, dan bukan pula karena barangnya istimewa. Tapi karena saya ingin meninggalkan sedikit kenang-kenangan dari perjalanan kami di Gunung Cikuray.

Mungkin suatu hari nanti, ketika beliau kembali naik gunung dan menyalakan lampu itu, ada sedikit cerita tentang seorang pendaki yang pernah bertemu dengannya di perjalanan.

Semoga sampai saat saya menulis cerita ini, beliau masih diberikan kesehatan, kekuatan, dan umur panjang. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Sekitar pukul 19.20, kami tiba di Pos 1.

Dan pada titik itu, stamina saya benar-benar sudah habis. Saya akhirnya meminta izin kepada Panji untuk menggunakan ojek dari Pos 1 menuju basecamp, Tidak ada lagi gengsi yang ada cuma mementingkan faktor keamanan dan kenyamanan saya saja pada waktu itu, 😊

Tidak ada lagi keinginan untuk membuktikan bahwa saya harus mampu turun dengan berjalan kaki, dan saya hanya ingin pulang dengan selamat.

Pukul 19.30, kami akhirnya tiba kembali di basecamp tapak gerot

Selamat, utuh, dan saat itulah saya terdiam sejenak, Saya baru menyadari sesuatu, Ternyata perjalanan tidak selalu tentang siapa yang berhasil mencapai puncak, terkadang perjalanan justru mengajarkan kita untuk tahu kapan harus berhenti, kapan harus mengakui keterbatasan, kapan harus membantu orang lain, dan kapan harus melepaskan ego.

Hari itu saya tidak sampai ke puncak Cikuray. Tetapi saya pulang membawa cerita tentang anak-anak muda yang berjuang sampai batas kemampuannya, tentang seorang kakek 78 tahun yang masih kuat mendaki demi cucunya, tentang sebuah headlamp yang berpindah tangan sebagai kenang-kenangan, dan tentang diri sendiri yang akhirnya belajar menerima batas.

Karena pada akhirnya, puncak bukan satu-satunya tujuan dalam sebuah pendakian. Ada kalanya pencapaian terbesar bukanlah berdiri di atas puncak, akan tetapi mampu kembali ke rumah dengan selamat, membawa tubuh yang lelah dan hati yang penuh cerita.

Dan malam itu, saya memahami untuk belajar menurunkan ego, satu hal yang terucap simple dan sederhana namun sangatlah sulit untuk dilaksanakan 

Tidak sampai puncak bukan berarti gagal, Kadang, pulang dengan selamat adalah pencapaian yang sesungguhnya.



PELAJARAN DARI CIKURAY

Dari perjalanan kali ini, saya belajar bahwa hiking tidak cukup hanya dengan bermodalkan semangat, Semangat memang penting tetapi persiapan dan menganalisa kondisi tubuh sebelum pendakian itu jauh lebih penting.

Dari perjalanan cikuray ini sedikit yang bisa saya simpulkan tentang apa saja yang harus dipersiapkan sebelum memulai pendakian,

1. Kenali kondisi tubuh.
Jangan memaksakan mendaki ketika sedang sakit, terutama diare atau ketika tubuh sedang kekurangan tidur.

2. Jaga pola makan dan istirahat.
Jangan mencoba sesuatu yang berisiko mengganggu kondisi tubuh menjelang pendakian.

3. Siapkan logistik dan equipment dengan matang.
jangan pernah sekalipun meremehkan sebuah perjalanan pendakian, carilah informasi sedetail mungkin tentang gunung yang akan kita daki dan sesuaikan logistik dan equipment dengan medan, cuaca, durasi dan kondisi perjalanan.

4. Jangan abaikan sinyal tubuh.
kenali kondisi tubuh sendiri, jika Pusing, lemas, mata berkunang-kunang atau kondisi tubuh yang semakin menurun adalah tanda untuk berhenti dan mengevaluasi diri.

5. Always have a plan B.
Tentukan kapan harus berhenti atau turun jika kondisi sudah tidak memungkinkan.

6. Jangan memaksakan summit.
Puncak bisa ditunda. Keselamatan adalah sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh apa pun.



Karena pada akhirnya... Hiking bukan sekadar tentang fisik yang kuat, bukan pula hanya tentang bagaimana kita bisa sampai di puncak.

Hiking adalah tentang bagaimana kita mengenal diri sendiri, memahami batas kemampuan, menghargai perjalanan, dan yang paling penting:

bagaimana kita bisa pulang dengan selamat, dan saya memang tidak sampai puncak Cikuray hari itu. Tetapi saya pulang membawa sesuatu yang tidak kalah penting,

pengalaman

Pengalaman mengenal jalurnya, mengenal batas tubuh sendiri, dan pengalaman memahami bahwa dalam pendakian, berhenti bukan selalu berarti kalah.

Suatu hari nanti saya akan kembali, bukan untuk membuktikan kepada siapa pun bahwa saya mampu sampai puncak, tetapi untuk melanjutkan perjalanan yang pernah tertunda.

Karena mungkin... ada perjalanan yang memang harus berhenti hari ini, agar kita masih punya kesempatan untuk melanjutkannya esok hari.

Keep on moving.

HIKING REMAKO

Peace, Coffee & Good Vibes. ☕🏔️

Comments

Popular posts from this blog

Pendakian Gunung Manglayang: Pengalaman yang sangat berharga

Perjalanan Pertama Hiking Remako : Tektok Gunung Papandayan

EIGER Women Flagship Store Hadir di Bandung