Manuk Mandi Sudut Kecil yang Menyimpan Banyak Cerita


Manuk Mandi 
sebuah sudut tersembunyi di sekitar Desa Cisitu, Malangbong, Kabupaten Garut.

Bagi saya, tempat ini bukan sekadar lokasi untuk berkemah. Manuk Mandi adalah bagian dari perjalanan panjang yang menjadi salah satu pintu masuk saya mengenal dunia pendakian. Sebuah tempat yang sederhana, tenang, dan masih menyimpan suasana alam yang apa adanya.

Awal Perjalanan, Tahun 2010

Tahun 2010 menjadi perjalanan pertama saya mengenal dunia pendakian. Bukan di gunung yang tinggi, bukan pula dengan perlengkapan mendaki yang lengkap.

Tempat pertama itu justru sebuah kawasan kecil bernama Manuk Mandi, wilayah kaki Gunung Cakrabuana yang berada tidak jauh dari kampung kelahiran leluhur saya.

Saat itu tujuan kami sederhana: nge-camp, memasak, menikmati malam, lalu pulang, Yang persiapannya pun jauh dari kata matang.

Beras, mi rebus, dan beberapa bahan sederhana untuk membuat nasi liwet menjadi bekal utama. Peralatan yang dibawa juga sangat terbatas. Tidak ada kompor portable, tidak ada headlamp, bahkan sepatu hiking pun belum kami kenal seperti sekarang.

Pakaian? Jangan ditanya cuy Seadanya aja!!

Untuk memasak, kami hanya mengandalkan kayu bakar yang dicari di sekitar lokasi, untuk air, kami mencari sumber-sumber air yang ada di sekitar kawasan, sesederhana itu. Dan justru dari kesederhanaan itulah banyak cerita bermula.


Mencari Air di Tengah Hutan

Dulu, salah satu kebutuhan penting ketika nge-camp di Manuk Mandi adalah mencari sumber air. Biasanya kami mengambil air dari jalur selang milik para petani. Setelah selesai, selang tersebut kami tutup dan rapikan kembali.

Kalau ingin mendapatkan air dari dalam kawasan hutan pinus, ada sebuah sumber air kecil yang letaknya tidak jauh dari area tersebut.

Sumbernya memang tidak besar, dan bentuknya seperti kolam kecil yang pada musim tertentu terlihat hampir mengering. Namun di bagian dasarnya masih terdapat air yang bercampur tanah dan lumpur, dan yang paling penting airnya harus disaring dan ditiriskan terlebih dahulu agar cukup jernih untuk digunakan.

Dulu saya sering membayangkan, mungkin tempat seperti inilah yang menjadi salah satu sumber air bagi penghuni hutan di kawasan Manuk Mandi, dan mungkin burung-burung datang untuk minum dan mandi. Entah benar atau tidak, dari sanalah mungkin nama Manuk Mandi kemudian dikenal, Wallahu a'lam.

Sebuah cerita sederhana yang sampai sekarang masih melekat dalam ingatan.



Tempat yang Hampir Setiap Tahun Kami Datangi

Nge-camp di Manuk Mandi hampir setiap tahun pernah menjadi agenda.

Dari 2010 sampai 2019, kami cukup konsisten datang ke tempat ini. Hanya beberapa kali agenda tersebut tidak terlaksana karena ada hal-hal lain yang tidak bisa ditinggalkan.

Waktu itu kami memang belum memiliki banyak pengalaman mendaki, manuk Mandi menjadi tempat saya belajar. Belajar mendirikan tenda, bagaimana membuat api, memasak di alam terbuka, mencari sumber air, dan yang paling penting bagi saya adalah Belajar bersyukur menikmati dan menyatu dengan alam tanpa banyak fasilitas.

Setelah periode itu, perjalanan saya mulai berkembang. Saya pun mulai lebih serius menjelajahi beberapa gunung walaupun baru di sekitar Bandung Raya dan sekitarnya, namun sejauh apa pun kemudian kaki melangkah, Manuk Mandi tetap punya tempat tersendiri dalam perjalanan tersebut. Karena setiap pendaki pasti punya satu tempat yang menjadi awal cerita, bagi saya, salah satunya adalah tempat ini.


Bertemu Green Durax

Ada cerita lain yang kemudian membuat saya melihat Manuk Mandi dari sudut pandang berbeda. Yaitu saya bertemu dengan kawan-kawan dari komunitas pecinta alam lokal Desa Cisitu, bernama Green Durax.

Dari mereka saya mengetahui adanya gagasan untuk mengembangkan Manuk Mandi menjadi sebuah camp area yang lebih tertata.

Namun tentu saja, pekerjaan sebesar itu tidak mungkin dilakukan sendirian. Dibutuhkan akses, jalur, fasilitas, tenaga, dan tentu saja dukungan dari banyak pihak.

Perlahan, melalui komunikasi yang intens dan proses yang tidak sebentar, kawan-kawan Green Durax berhasil ikut mendorong perhatian pemerintah desa terhadap kawasan ini.

Slowly but sure.

Sedikit demi sedikit, mulai ada dukungan dan anggaran desa untuk melakukan pembenahan. Jalur dirapikan, Akses dibuka, Fasilitas mulai dibangun, dan perlahan Manuk Mandi mulai berubah.

Yang dahulu hanya dikenal oleh sebagian warga dan orang-orang sekitar, kemudian mulai berkembang menjadi salah satu destinasi wisata alam bagi masyarakat lokal dan sekitarnya.

Bahkan beberapa agenda besar pernah dilaksanakan di tempat ini, termasuk upacara bendera memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus dan berbagai kegiatan lainnya. Melihat perubahan tersebut tentu menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Tempat yang dulu kami datangi dengan perlengkapan seadanya, kini mulai dikenal lebih banyak orang, Luar biasa!


Pembangunan Adalah Awal, Bukan Akhir

Namun ada satu persoalan klasik yang hampir selalu mengikuti sebuah pembangunan, yaitu Pemeliharaan.

Membangun mungkin membutuhkan waktu, Tetapi mempertahankan dan merawatnya membutuhkan kesadaran yang lebih panjang.

Jalur yang sudah dibuat perlu dirawat, fasilitas yang sudah dibangun perlu dijaga. Sampah perlu dikelola, Lingkungan perlu tetap dipertahankan.

Karena pada akhirnya, Manuk Mandi ini bukan hanya tentang fasilitas wisata, tetapi Alamnya adalah bagian terpenting dari tempat ini.

Manuk Mandi dari Senja hingga Malam

Bagi yang ingin nge-camp, Manuk Mandi memiliki daya tarik tersendiri, lokasinya memungkinkan kita menikmati pemandangan pegunungan dan wilayah sekitar dari ketinggian.

Menjelang sore, suasananya mulai berubah, Udara semakin dingin, cahaya matahari perlahan turun, dan ketika malam datang, pemandangan berubah menjadi sesuatu yang berbeda. City light mulai terlihat dari kejauhan, lampu-lampu permukiman dan kota terlihat seperti titik-titik cahaya yang tersebar di bawah sana, sementara di atas kepala, langit malam terbentang luas.


Duduk di depan tenda, ditemani kopi panas dan teman-teman seperjalanan, rasanya tidak membutuhkan banyak hal, karena mungkin memang begitu cara alam mengajarkan kita tentang kesederhanaan.

Manuk Mandi dan Sebuah Perjalanan Panjang

Kalau hari ini Manuk Mandi mulai dikenal lebih banyak orang, bagi saya tempat ini tetaplah sebuah sudut kecil yang tenang di Desa Cisitu.

Tempat yang menyimpan kenangan, tempat yang menjadi awal perjalanan, tempat di mana kami dulu memasak dengan kayu bakar, mencari air, tidur dalam tenda sederhana, dan menikmati malam tanpa banyak perlengkapan.

Kini tempat itu sudah berkembang, tetapi semoga perkembangannya tidak menghilangkan apa yang membuatnya berharga.


kesederhanaan, ketenangan, dan alamnya.

Semoga Manuk Mandi terus dirawat, semoga masyarakat sekitar semakin memiliki ruang untuk mengembangkan potensinya. Dan semoga siapa pun yang datang tidak hanya menikmati tempat ini, tetapi juga ikut menjaganya.

Karena mungkin Manuk Mandi tidak perlu disebut sebagai tempat yang luar biasa, Cukup biarkan saja dia menjadi dirinya sendiri,

"Sebuah sudut kecil di kaki Gunung Cakrabuana, yang perlahan tumbuh menjadi tempat untuk pulang, beristirahat, dan mengingat kembali bagaimana sebuah perjalanan pernah dimulai."

See u again brother GREEN DURAX @wisata_manukmandi @den_cakbrun @untungwiradarma @chef_dinarkomara

Hiking Remako

Piece, coffee and a good vibes!



Comments

Popular posts from this blog

Pendakian Gunung Manglayang: Pengalaman yang sangat berharga

Perjalanan Pertama Hiking Remako : Tektok Gunung Papandayan

EIGER Women Flagship Store Hadir di Bandung