Gunung Sagara: Perjalanan Aduuuhai Enam Remaja Kolot
Gunung Sagara: Perjalanan Aduhai Enam Remaja Kolot
Ada kalanya usia bertambah, rambut mulai berkurang warnanya, lutut mulai mengeluarkan suara-suara aneh, tetapi jiwa untuk menjelajah ternyata belum juga mau pensiun.
Begitulah kami berenam. Ya, enam remaja kolot yang entah mendapat wangsit dari mana, tiba-tiba sepakat untuk kembali menikmati perjalanan ke alam. Bukan perjalanan yang santai, bukan pula jalan-jalan mencari tempat makan. Kali ini tujuan kami adalah Gunung Sagara di Garut.
Kami tahu sejak awal bahwa Sagara bukan perjalanan yang bisa dianggap enteng. Tetapi namanya juga remaja kolot semangat biasanya datang lebih dulu daripada perhitungan tenaga. Berangkat dengan keyakinan penuh, pukul 5 pagi menggunakan kendaraan roda dua, karena yang memungkinkan untuk dilalui hanya itu.Sampai di Basecamp, berdoa, mengatur siapa saja barisan mulai dari leader sampe sweeper.
Kami memasuki jalur pendakian dengan perasaan campur aduk. Di awal perjalanan, semuanya masih terasa ringan. Langkah masih panjang, obrolan masih ramai, dan tawa masih lebih sering terdengar daripada keluhan. Namun Sagara rupanya punya cara sendiri untuk mengingatkan kami agar tidak terlalu percaya diri.
Tanjakan demi tanjakan
Jalur mulai berubah. Tanah yang semula terasa bersahabat perlahan menjadi lebih menanjak. Kaki mulai bekerja lebih keras. Beberapa bagian terasa terjal, membuat kami harus mengatur langkah, mengatur ritme kaki dan nafas, berpegangan pada akar, dan sesekali menggunakan tangan untuk membantu menarik tubuh ke atas.
Di sinilah slogan kami mulai berubah.
Yang tadinya, “Ayo terus, masih dekat!”, perlahan menjadi:
"Istirahat dulu, bro..."
Dan kalimat itu ternyata semakin sering terdengar. Tetapi justru di situlah keseruannya. Tidak ada yang benar-benar ingin menyerah. Kami hanya sedang bernegosiasi dengan lutut masing-masing.
Sambil berjalan, vegetasi Gunung Sagara membuat perjalanan terasa semakin hidup. Jalur pendakian dikelilingi pepohonan dan semak pegunungan yang rapat. Daun-daun hijau menjadi atap alami, sementara batang-batang pohon, akar, dan ranting seolah menjadi bagian dari tantangan yang harus kami lewati.
Udara terasa lebih sejuk. Suara angin menyusup di antara pepohonan. Sesekali kami berhenti bukan hanya untuk mengatur napas, tetapi juga menikmati suasana. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika berada di tengah vegetasi seperti ini. Jauh dari suara kendaraan. Jauh dari hiruk-pikuk kota. Yang terdengar hanya langkah kaki, suara napas, gesekan ranting, dan sesekali tawa kami yang pecah tanpa alasan jelas.
Aduuuhai... ternyata begini rasanya
Semakin tinggi, tanjakan semakin terasa. Betis mulai protes. Punggung mulai berkeringat. Napas mulai pendek. Tetapi anehnya, hati justru semakin senang.Mungkin karena perjalanan seperti ini membuat kami kembali menjadi anak-anak. Tidak ada yang terlalu memikirkan pekerjaan, rutinitas, atau berbagai urusan kehidupan sehari-hari.
Yang ada hanya satu pertanyaan:
"Masih jauh?"
Lalu teman di depan menjawab dengan penuh keyakinan:
"Dikit lagi!"
Padahal kami semua tahu, jawaban itu belum tentu benar. Kami berenam terus berjalan. Kadang beriringan, kadang terpencar beberapa meter, lalu berkumpul kembali ketika ada tempat yang cukup nyaman untuk beristirahat.
Di perjalanan itu kami sadar, ternyata kebersamaan bukan berarti harus selalu berjalan berdampingan. Kadang seseorang berjalan lebih cepat. Kadang ada yang tertinggal. Kadang ada yang harus berhenti. Dan yang lain akan menunggu.
Sesederhana itu. Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat perjalanan terasa berarti.
Basecamp – Pos 1 | Awalnya melewati perkebunan warga, relatif lebih ringan |
| Pos 1 – Pos 2 | Mulai masuk vegetasi lebih rapat, jalur semakin menanjak |
| Pos 2 – Pos 3 | Tanjakan mulai terasa dan menguras tenaga, banyak akar |
| Pos 3 – Pos 4 | Terjal, vegetasi hutan cukup rapat, minim trek datar |
| Pos 4 - Puncak Jarak relatif dekat, tetapi tanjakan terakhir cukup terjal |

Ketika Sagara mulai membuka pemandangannya
Setelah melewati tanjakan-tanjakan yang cukup menguras tenaga, perlahan suasana berubah. Vegetasi mulai memberikan celah. Pandangan mulai terbuka. Rasa lelah yang sejak tadi menempel seakan mendapat kompensasi.
Kami mulai bisa melihat bentang alam yang luas. Di titik-titik tertentu, hamparan perbukitan dan pegunungan terbentang jauh di hadapan mata. Angin terasa lebih bebas. Langit seolah menjadi lebih luas. Kami berenam hanya bisa terdiam beberapa saat.
Bukan karena kehabisan bahan obrolan. Tetapi karena memang ada pemandangan yang tidak perlu dijelaskan dengan banyak kata.

Indahnya tak terkira.
Pada saat seperti itu, semua tanjakan terjal tadi terasa seperti bagian dari sebuah hadiah. Keringat menjadi tidak sia-sia. Lutut yang sempat mengeluh seakan mendapat alasan untuk memaafkan kami. Dan enam remaja kolot itu kembali tersenyum.
Kami mungkin tidak lagi muda. Langkah kami mungkin tidak secepat dulu. Istirahat kami mungkin lebih panjang. Tetapi ternyata rasa ingin menikmati perjalanan masih sama. Bahkan mungkin lebih dalam.
Karena semakin bertambah usia, semakin kita mengerti bahwa perjalanan bukan semata-mata tentang mencapai tujuan. Perjalanan adalah tentang siapa yang menemani, cerita yang tercipta, lelah yang dibagi, tawa yang muncul di tengah kesulitan, dan kenangan yang kelak ingin kita ulang kembali.
Gunung Sagara hari itu mengajarkan kami satu hal sederhana: Jangan terlalu sibuk mengejar puncak sampai lupa menikmati perjalanan. Nikmati setiap tanjakan. Nikmati setiap hembusan angin. Nikmati hijaunya vegetasi. Nikmati rasa lelah. Dan tentu saja, nikmati kebersamaan.
Karena mungkin suatu hari nanti, yang paling kami rindukan bukanlah berdiri di puncak Sagara. Melainkan perjalanan aduhai menuju ke sana bersama enam remaja kolot yang masih nekat bermimpi, masih suka tertawa, dan masih percaya bahwa usia boleh bertambah...tetapi petualangan jangan pernah tua.


Comments
Post a Comment