Gunung Pangradinan via Cikancung

Gunung Pangradinan via Cikancung: Silent Hiking, Jalur, Pos, dan Pesonanya




“Jam 04.30 di McD Cibiru, ya. Jangan telat.”

Pesan singkat itu menjadi awal perjalanan tiga sahabat menuju sebuah gunung yang mungkin namanya belum terlalu akrab bagi sebagian orang Gunung Pangradinan. Tidak ada rencana untuk terburu-buru. Tidak ada target harus sampai puncak dalam waktu tertentu. Kali ini mereka ingin mencoba sesuatu yang berbeda sambil  silent hiking.

Obrolan hangat kami, satu perjalanan menuju Cikancung, dan sebuah kesepakatan sederhana selama berada di jalur, akan lebih banyak diam. Bukan karena sedang bertengkar. Justru karena mereka ingin mendengarkan sesuatu yang sering kalah keras dari suara kota yaitu suara diri sendiri.

04.30 Pagi: Pertemuan di McD Cibiru

Udara Bandung masih dingin ketika tiba di McD Cibiru. Pukul 04.30 pagi, sambil menunggu shalat subuh dulu. Satu per satu datang dengan mata yang masih menyimpan sisa kantuk. Daypack kecil, perlengkapan secukupnya, air minum, makanan ringan, dan tentu saja jaket untuk menghadapi udara pagi. Sekalian pesan friench fries McD, nugget, telor rebus, ubi cilembu, kopi,milk tea, perbekalan yang sungguh aman.

Biasanya, pertemuan seperti ini akan dipenuhi percakapan.  

“Udah siap?”  

"Nyalain Google Maps, ya!" Biar percaya diri, jalanan masih gelap, menuju kesaana banyak belokan kecil yang tak tampak. Candaan tiga orang sahabat ini "Emak-emak pagi buta gini udah dijalanan, bukannya beres-beres rumah, masak" Ngakak berjamaah. Saatnya, we time!!

Tetapi pagi itu sedikit berbeda. Mereka sudah sepakat. Hari ini adalah silent hiking. Obrolan seperlunya hanya dilakukan sebelum perjalanan. Setelah masuk jalur, mereka akan memberikan ruang untuk keheningan.

Dari McD Cibiru, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Cikancung. Akses menuju kawasan Pangradinan dapat ditempuh melalui arah Cicalengka dan kemudian menuju Cikancung. Salah satu titik awal yang dikenal adalah kawasan Kampung Gorowek, Desa Mekarlaksana, dengan patokan Lapangan Padaringan.

Semakin jauh meninggalkan Bandung, suasana perlahan berubah. Lampu kota berkurang. Rumah-rumah mulai jarang. Jalanan menjadi lebih lengang. Dan tanpa perlu mengatakan apa-apa, ketiganya tahu bahwa perjalanan mereka sudah dimulai. Menuju Basecamp Pangradinan via Cikancung. 

Apa Itu Gunung Pangradinan?

Gunung Pangradinan merupakan salah satu destinasi alam di Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Puncaknya berada di sekitar 1.236 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan dikenal dengan hamparan padang rumput atau savana yang luas.

Karakter Pangradinan cukup berbeda dari gunung yang membutuhkan perjalanan berjam-jam untuk mencapai area terbuka. Dari jalur yang umum digunakan, pendakian menuju puncak relatif singkat. Beberapa sumber mencatat waktu sekitar 40–60 menit dari titik awal pendakian, tergantung ritme berjalan dan kondisi pendaki.

Justru karena itu, Pangradinan sering menjadi pilihan untuk hiking singkat, tektok, menikmati sunrise, sunset, city light, atau sekadar mencari suasana berbeda dari rutinitas perkotaan. Dan bagi kami, Pangradinan terasa cocok untuk satu eksperimen kecil, bagaimana rasanya mendaki tanpa banyak bicara? Mempraktekan belajar mindfulness, menikmati pagi yang segar .

Bagi yang datang dari Bandung, salah satu akses yang umum digunakan adalah menuju Cicalengka, kemudian berbelok ke arah Cikancung dan melanjutkan perjalanan menuju kawasan Mekarlaksana. Basecamp berada di sekitar Kampung Gorowek, Desa Mekarlaksana, Kecamatan Cikancung. Area basecamp dilengkapi fasilitas dasar seperti tempat parkir, warung, toilet, dan mushala. 

Sampailah di BC. Rasanya ga afdol kalau ga nyobain kopi panas untuk meredam cuaca yang dingin dan angin yang kencang, sambil menunggu registrasi.  Perjalanan menuju basecamp sendiri sudah menjadi bagian dari pengalaman, beberapa kali dengan orang yang berbeda, tentunya dengan cerita yang berbeda pula dan ga pernah ngebosenin. Jadi berasa joging pagi ke sini tuh.

Sebelum memulai perjalanan, tak lupa berdoa dulu. Ready, sis?  Lets go!!

Jalur Pendakian Gunung Pangradinan: Berapa Pos yang Dilewati?

Salah satu pertanyaan yang sering muncul sebelum mendaki adalah: “Pangradinan ada berapa pos?” Untuk jalur yang melalui kawasan Cikancung/Gorowek, panduan lapangan terbaru mencatat dua pos utama, yaitu:

  1. Pos 1 – Kicau
  2. Pos 2 – Cirah Cihanyir
  3. Puncak Bayangan, sebelum menuju puncak utama.

Ada pula sumber lain yang menyebut jalur ini memiliki tiga titik pemberhentian. Perbedaan penyebutan ini kemungkinan berkaitan dengan cara masing-masing sumber menghitung titik istirahat atau pemberhentian di jalur.

Bagi kami, yang jauh lebih penting bukan berapa banyak pos yang akan mereka lewati. Tetapi apa yang mereka rasakan di antara satu pos dan pos berikutnya.

Pos 1 Kicau: Saat Keheningan Dimulai

Langkah pertama terasa ringan. Beberapa menit pertama masih menjadi masa adaptasi. Napas mulai teratur. Kaki mulai menemukan ritmenya. Jalur Pangradinan didominasi permukaan tanah keras, batu dan pasir, dengan tanjakan yang cukup konsisten. Jalurnya relatif terbuka sehingga pemandangan dapat mulai terlihat bahkan sebelum mencapai puncak.

Biasanya, kami mungkin akan saling bercanda. Namun kali ini tidak. Satu berjalan di depan. Dua lainnya mengikuti dengan jarak tertentu. Tidak ada cerita tentang pekerjaan. Tidak ada keluhan tentang kehidupan. Tidak ada pembahasan media sosial. Hanya suara langkah kaki.


Srek... srek... srek...

Sesekali terdengar suara burung. Angin melewati rerumputan. Napas sendiri terdengar lebih jelas. Di situlah silent hiking mulai terasa. Ternyata diam bukan berarti tidak ada suara. Justru ketika kita berhenti berbicara, ada begitu banyak suara lain yang selama ini tidak kita dengarkan. 

Pos 2 Cirah Cihanyir: Tempat Berhenti Sejenak

Dari Pos 1, perjalanan dilanjutkan menuju Pos 2 Cirah Cihanyir. Jarak antar pos relatif pendek. Berdasarkan catatan di papan petunjuk terbaru, Pos 2 berada di sekitar ketinggian 1.183 mdpl dan menjadi salah satu titik yang lebih nyaman untuk beristirahat. Di area ini terdapat tempat duduk, warung, dan toilet.

Ketiganya berhenti. Tidak ada percakapan panjang. Mereka hanya duduk. Minum. Mengatur napas. Melihat sekitar. Lucunya, dalam kondisi seperti itu, diam tidak lagi terasa canggung, sesekali bertatap mata dan mengabadikan momen betiga.

Tidak harus selalu ada percakapan untuk menunjukkan bahwa mereka baik-baik saja. Kadang kebersamaan justru terasa ketika masing-masing orang bisa menikmati keheningannya sendiri, tetapi tetap tahu bahwa ada seseorang di dekatnya


Jalan mulai menanjak. Udara semakin dingin. Angin semakin kencang, ketiganya menikmati tanjakan tanpa banyak suara. Tidak ada kalimat panjang. Hanya saling pandang. Kemudian bersiap melangkah lagi. Kali ini tak biasa. Angin berasa kencang banget. Tak henti berdoa. Kuasa-Mu sungguh indah, entah pesan apa yang dikirimkan. 

Menuju Puncak Bayangan

Setelah beristirahat, perjalanan dilanjutkan. Tanjakan mulai terasa.Namun semakin tinggi, pemandangan semakin terbuka. Sesekali ketiganya berhenti bukan karena kelelahan, tetapi karena ingin melihat ke belakang. Dari ketinggian, lanskap Bandung mulai terlihat.

Kalau datang menjelang matahari terbit, city light dapat menjadi salah satu pemandangan menarik dari jalur Pangradinan. Ketika pagi semakin terang, lanskap perbukitan dan area terbuka mulai terlihat lebih jelas.

Kemudian sampailah mereka di Puncak Bayangan. Di titik ini, puncak utama sudah semakin dekat. Dan anehnya, justru di sini salah satu dari mereka ingin berbicara. Bukan dengan dua sahabatnya. Melainkan dengan dirinya sendiri.

Ditambah suasana yang mendukung, angin bergemuruh kencang, rasanya badan ini terbawa angin jika berdiri. Semesta begitu mendukung perjalanan kami, diberikan udara yang sejuk. Dari awal perjalanan, tak ada ekspetasi apa pun, mengikuti yang ada, tak berharap sunrise atau apapun. 


Bisa duduk, di ketinggian 1236 mdpl, mencari tempat bengong yang nyaman, menikmati cemilan yang dibekal sudah berbahagia. sesederhana itu bahagia, kami!!

Angin Bergemuruh yang Datang Membawa Makna

Berada  di Puncak Pangradinan, suasana berubah. Hamparan terbuka membuat angin terasa semakin jelas. Awalnya hanya hembusan kecil yang menyentuh wajah, tetapi beberapa langkah kemudian, anginnya semakin kencang.

Jaket mulai dirapatkan. Tangan sesekali menahan topi. Rambut berantakan diterpa angin. Kami bertiga tetap berjalan dalam diam. Tidak ada yang mengeluh. Menikmati suasana, hamparan pemandangan kota yang tak henti dipandang.

Menjadi tempat bengong yang nyaman. Anehnya, angin yang begitu kencang justru membuat perjalanan pagi itu terasa semakin penuh makna. Angin tidak terlihat, tetapi kami bisa merasakannya. Begitu juga dengan banyak hal dalam hidup. Ada hal-hal yang tidak bisa kita lihat, tetapi pengaruhnya begitu terasa. Kekhawatiran, kehilangan, harapan, rasa lelah, bahkan kerinduan. Semuanya seperti angin tidak selalu terlihat, tetapi mampu menggoyahkan sesuatu di dalam diri.

Di tengah silent hiking itu, saya seperti mendapatkan sebuah pengingat sederhana:

"Tidak semua yang datang untuk mengguncang kita datang untuk menjatuhkan."

Kadang angin datang untuk mengajarkan bagaimana caranya bertahan. Kadang ia membuat kita berhenti sejenak. Merapatkan jaket. Menundukkan kepala. Mengatur napas. Lalu kembali melangkah. Kami bertiga berdiri di tengah hembusan angin yang begitu kuat. Untuk beberapa saat, tidak ada percakapan. Hanya suara angin yang memenuhi ruang di antara kami.

Dan mungkin, justru karena tidak ada suara lain, kami bisa merasakan sesuatu yang selama ini sering terlupakan: bahwa hidup memang tidak selalu tentang mencari tempat yang tenang. Kadang kita justru perlu belajar tetap berdiri ketika angin sedang kencang.

Seperti perjalanan menuju puncak. Tidak semua langkah terasa mudah. Tidak semua cuaca bisa kita pilih. Tidak semua keadaan bisa kita kendalikan.Tetapi kita selalu punya pilihan untuk terus melangkah. Angin semakin kencang. Namun langkah kami tetap berjalan. Pelan, tetapi pasti.

Dan saat akhirnya sampai di area puncak, kami hanya saling memandang dan tersenyum. Tidak perlu berkata apa-apa. Mungkin masing-masing dari kami sedang membawa pikirannya sendiri. Dan mungkin masing-masing menemukan maknanya sendiri dari angin pagi itu.

Sebab terkadang, alam tidak perlu berbicara dengan kata-kata.

Cukup dengan angin yang berembus kencang, ia sudah mengajarkan kita tentang bertahan, melepaskan, dan tetap melangkah meski keadaan tidak selalu sesuai keinginan.

Apa yang Menarik dari Gunung Pangradinan?

Kalau hanya melihat angka 1.236 mdpl, mungkin Pangradinan terlihat seperti gunung kecil atau bukit. Namun jangan salah. Daya tarik Pangradinan bukan semata-mata soal ketinggian. Beberapa diantaranya:

1. Savana yang Luas

Inilah salah satu daya tarik utama Gunung Pangradinan. Area puncaknya memiliki hamparan padang rumput atau savana yang luas. Karena karakter lanskapnya tersebut, Pangradinan sering dijuluki “Savana van Bandung” dan bahkan kerap dibandingkan dengan lanskap sabana Gunung Merbabu di Jawa Barat.

Ketika rumput terlihat hijau dan langit sedang cerah, tempat ini terasa seperti ruang terbuka yang luas. Tidak banyak penghalang. Tidak banyak gedung. Hanya bukit, rumput, langit, dan angin. Bagi mereka yang datang untuk silent hiking, tempat seperti ini terasa semakin istimewa. Karena keheningan mempunyai ruang untuk tinggal.


2. Pendakian Relatif Singkat

Pangradinan juga menarik bagi orang yang ingin mendapatkan pengalaman mendaki tanpa perjalanan yang terlalu panjang. Dari titik awal menuju puncak, waktu tempuh umumnya sekitar 30–60 menit, bergantung pada kecepatan dan kondisi jalur.

Artinya, Pangradinan bisa menjadi pilihan bagi mereka yang ingin mencoba hiking singkat atau tektok. Tetapi singkat bukan berarti tanpa tantangan.  Beberapa bagian jalur cukup menanjak dan permukaannya berupa tanah padat, batu, serta pasir. Karena itu, alas kaki yang memiliki grip tetap penting.

3. Sunrise, Sunset, dan City Light

Karena banyak bagian jalurnya terbuka, Pangradinan menawarkan kesempatan untuk menikmati perubahan suasana langit. Pagi hari memberikan cahaya sunrise. Sore hari menghadirkan warna senja. Sementara ketika malam tiba, kawasan perkotaan di kejauhan dapat terlihat sebagai city light.

Itulah salah satu alasan Pangradinan menarik untuk perjalanan singkat. Satu tempat, tetapi suasananya dapat berubah tergantung waktu kedatangan. Pemandangan dari atas dan  view 360 derajat semuanya akan tampak dengan jelas.

Ketika Tiga Sahabat Itu Sampai di Puncak

Akhirnya mereka sampai. Puncak Pangradinan terbentang di depan mata. Salah satu dari mereka langsung tersenyum. Yang lain meletakkan daypack. Sementara sahabat ketiganya hanya berdiri dan melihat jauh ke depan. Tidak ada yang langsung berbicara. Mungkin karena pemandangan di depan mereka sudah cukup menjadi jawaban.

Savana. Bukit-bukit. Langit yang perlahan berubah warna. Angin yang bergerak pelan, kemudian kencang, bergemuruh, memberikan pesan tersendiri. Dan tiga manusia yang sejak beberapa jam lalu sengaja mengurangi suara.

Di kota, kita sering merasa harus menjelaskan banyak hal. Menjelaskan kenapa sedang lelah. Kenapa tidak baik-baik saja. Kenapa ingin pergi. Kenapa ingin berhenti. Tetapi di atas Pangradinan, tidak ada yang meminta penjelasan.

Mereka hanya duduk. Makan. Minum. Senyum-senyum sendiri, Menatap pemandangan. Dan membiarkan pikiran beristirahat. Sesekali rebahan mencari tempat yang nyaman diatara semak-semak.

Mungkin itulah alasan silent hiking terasa berbeda. Tujuannya memang puncak. Tetapi perjalanan sesungguhnya bukan tentang seberapa cepat sampai. Melainkan tentang apa yang kita temukan ketika akhirnya kita berhenti berisik.


Asiik disemak-semak tuh, grounding time.

Pangradinan dan Seni Menikmati Perjalanan

Datang ke Pangradinan bukan untuk membuktikan siapa yang paling kuat. Bukan juga untuk mengejar jumlah kilometer. Mereka datang untuk berjalan. Pelan. Diam. Dan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk mendengar kembali apa yang selama ini tertutup oleh kesibukan.

Pangradinan memang bukan gunung dengan jalur panjang berjam-jam. Tetapi mungkin justru itu daya tariknya. Dalam waktu yang relatif singkat, seseorang bisa meninggalkan hiruk-pikuk kota, berjalan melewati jalur terbuka, menikmati savana, melihat panorama dari ketinggian, lalu duduk dan menyadari satu hal:

"ternyata kita tidak selalu membutuhkan perjalanan yang jauh untuk merasa lebih dekat dengan diri sendiri. "

 

 Tips Silent Hiking ke Pangradinan : 

Kalau  tertarik mencoba Silent Hiking Pangradinan, beberapa hal sederhana tetap perlu diperhatikan.

  • Gunakan sepatu atau sandal hiking dengan grip yang baik karena jalur memiliki permukaan batu, tanah padat, dan pasir.
  • Bawa air minum yang cukup. Panduan lapangan terbaru mencatat tidak ada sumber air alami di jalur.
  • Berangkat lebih pagi jika ingin menikmati suasana sunrise dan udara yang masih sejuk.
  • Jangan mengandalkan fasilitas warung sebagai satu-satunya sumber kebutuhan.
  • Tetap membawa kembali sampah yang dihasilkan.
  • Hormati pendaki lain dan warga sekitar.
  • Jika melakukan silent hiking, sepakati terlebih dahulu aturan dengan teman satu perjalanan.
  • Gunakan HP seperlunya dan jangan sampai mengganggu pengalaman menikmati alam.
  • Selalu cek kondisi cuaca dan kondisi jalur sebelum berangkat.

Jadi, Apakah Pangradinan Cocok untuk Silent Hiking?

Kami akhirnya turun kembali. Percakapan perlahan kembali muncul. Candaan mulai terdengar. Tetapi ada sesuatu yang terasa berbeda. Mungkin karena beberapa jam tanpa banyak bicara membuat mereka menyadari bahwa persahabatan tidak selalu membutuhkan obrolan panjang.

Kadang cukup berjalan berdampingan. Kadang cukup duduk dalam diam.Dan kadang, kita hanya perlu berada di tempat yang cukup sunyi untuk akhirnya bisa mendengar isi kepala sendiri. Gunung Pangradinan via Cikancung menawarkan perjalanan yang relatif singkat, jalur yang menanjak, dua pos utama, Puncak Bayangan, dan sebuah pemandangan yang menjadi daya tarik utamanya hamparan savana di ketinggian.

Tetapi bagi kami Pangradinan meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada perjalanan menuju puncak. Sebuah jeda. Dari kota. Dari pekerjaan. Dari notifikasi. Dan dari kebisingan yang sering kali tidak kita sadari sudah memenuhi kepala. 



Mereka datang bertiga. Berangkat dari McD Cibiru pukul 04.30 pagi. Mendaki dalam diam. Dan pulang membawa cerita yang mungkin justru tidak banyak diceritakan. Karena ada perjalanan yang memang tidak perlu terlalu banyak kata. Cukup dijalani, dirasakan, lalu disimpan baik-baik di dalam ingatan.


Comments

Popular posts from this blog

Pendakian Gunung Manglayang: Pengalaman yang sangat berharga

Perjalanan Pertama Hiking Remako : Tektok Gunung Papandayan

EIGER Women Flagship Store Hadir di Bandung